Anak Susah Makan, Berat Badan Kurang, Solusinya?

Shita makan sayur bersama nenek.

Shita makan sayur bersama nenek.

Beberapa waktu lalu, ada diskusi menarik dan tema yang seksi di Milis Sehat, yaitu soal berat badan anak yang dianggap kurang. Bisa dianggap kurang oleh ibunya, oleh neneknya, oleh tetangganya, atau oleh dokter anaknya. Dan percayalah, tema seksi ini paling jitu bikin galau para ibu-ibu, termasuk saya tentunya hehe… Dari sekian banyak curhatan dan saran, saya suka banget sama jawabannya dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K). Saya share disini yaaa…. Continue reading

Gula Untuk Kesehatan

gula untuk kesehatanGula adalah bahan makanan yang disukai semua orang, tua muda, miskin kaya. Banyak yang bilang, kalau lagi stres, maka makanlah yang manis. Hati lebih tenang stres pun hilang. Atau istilah kerennya, makanan manis itu comforting food. Saat bulan puasa pun sering kita dengar himbauan “berbukalah dengan yang manis”. Supaya manis, pastinya pakai gula dong. Tak heran sebagian besar makanan kita pasti mengandung gula.

Jadi sebenarnya, gula itu baik atau tidak untuk kesehatan? Continue reading

Tips EEG Pada Anak Epilepsi

tes eeg épilepsieMinggu lalu adalah tes EEG Shita yang keenam (baca: Tes EEG Pada Epilepsi). Wuih… ternyata dalam 3 tahun ini Shita sudah menjalani EEG enam kali, bisa dibilang dua kali setahun. Memangnya tes EEG harus dilakukan rutin setiap enam bulan? Tidak juga sebenarnya, tergantung kebutuhan saja. Kejang epilepsi Shita memang agak bandel, jadilah masih harus dipantau terus dan bolak-balik menjalani EEG untuk menentukan terapi yang paling tepat saat itu.

Apa sih yang istimewa dari EEG kali ini? Continue reading

Terapi di Fisioterapi Seruni

fisioterapi seruniPerjalanan terapi Shita lumayan panjang. Sejak usia 6 bulan saya mulai menyadari bahwa Shita mengalami delay tumbuh kembang (Baca: Delay Atau Keterlambatan Tumbuh Kembang). Sangat mungkin ini berkorelasi dengan kejang dan diagnosa epilepsi yang diterima Shita (baca: Anakku Kejang!).

Shita pertama kali fisioterapi di usia 8 bulan. Waktu itu fisioterapinya hanya 2 bulan saja, karena kejangnya kambuh lagi setiap hari. Setelah itu, saya memutuskan untuk latihan di rumah saja menggunakan metode Glenn Doman dengan program yang saya rancang sendiri untuk Shita (baca: Metode Glenn Doman untuk Tumbuh Kembang). Continue reading

Shita Diliput NET TV

anak epilepsi net tvSuatu hari, seorang reporter NET TV menghubungi saya, mengatakan minta waktu untuk meliput saya dan Shita. Awalnya kaget… kok saya? Siapalah saya? Kalo Shita sih memang anak yang luar biasa…

Saya konfirmasi ke teman yang merupakan produser NET12 di NET TV. Ternyata liputan ini untuk acara NET12. Walaupun ini program berita, tapi ada segmen parenting di akhir acara. Dia tertarik dengan pengalaman saya mengasuh Shita yang didiagnosa epilepsi sejak usia 5 bulan (baca: Anakku Kejang!), dan menggunakan metode Glenn Doman untuk mengejar tumbuh kembangnya yang terlambat (baca: Metode Glenn Doman untuk Tumbuh Kembang).

Merawat anak dengan epilepsi, ditambah lagi dengan delay tumbuh kembang (baca: Delay atau Keterlambatan Tumbuh Kembang), tentu penuh tantangan, sekaligus membawa berkah tersendiri (baca: Hidup Bersama Epilepsi). Membaca atau mendengar kisah perjuangan orang tua lain dengan tantangan yang serupa, selalu memberi inspirasi buat saya, untuk terus semangat dan penuh harapan. Oleh karena itu, saya pun setuju. Ini menjadi salah satu cara saya berbagi cerita dan pengalaman, selain melalui blog. Continue reading

Perjuangan Lepas NGT

Di usia 8 bulan, Shita didiagnosa gagal tumbuh. Bagaimana ceritanya Shita bisa sampai mendapatkan diagnosa gagal tumbuh, ada di postingan sebelumnya (baca: Berat Badan Kurang dan Diagnosa Gagal Tumbuh). Ketika dokter menyarankan untuk menggunakan NGT (nasogastric tube), selang yang dimasukkan dari hidung hingga ke lambung untuk membantu konsumsi susu, aku langsung setuju. Rasanya saat itu, NGT adalah solusi terbaik untuk Shita. Dosis minum susunya 8 kali sehari, setiap 3 jam.

Dan… pertambahan berat badannya pun terlihat, pipi dan badannya mulai montok. Sesuatu yang belum pernah terjadi pada Shita sebelumnya. Aku sampai sedia timbangan bayi di rumah, supaya bisa timbang dan memantau berat badannya setiap hari.

Tapi… semakin usia bertambah, target berat badan pun naik. Jadi walau sudah 3 bulan minum sufor lewat NGT, tetap belum tercapai berat badan idealnya, padahal usia Shita sudah 11 bulan. Kapan dong Shita belajar makan dengan benar? Masa mengandalkan sufor terus? Ibunya kembali galau… dan cari third opinion. Continue reading

Diet Ketogenik Pada Epilepsi

diet ketogenikSalah satu terapi alternatif untuk penderita epilepsi yang diterima kalangan medis adalah diet ketogenik. Diet ini bekerja dengan memanipulasi proses kimia dalam tubuh melalui diet super ketat. Diet ini sudah ada sejak tahun 1920an dan menjadi terapi yang paling efektif dalam mencegah kejang pada anak penderita epilepsi. Namun sejak obat anti kejang semakin mudah didapat pada tahun 1940an, diet ketogenik tidak lagi menjadi pilihan pertama terapi bagi penderita epilepsi, bahkan semakin jarang direkomendasikan oleh dokter. Continue reading

Melahirkan di Rumah (Homebirth) Bagian 2

melahirkan di rumah (homebirth)Tidak terasa saat-saat persalinan semakin dekat. Persiapan pun sudah semakin matang. Latihan relaksasi dan meditasi semakin sering dilakukan. Mertua sudah siap menemani. Ibu bidan pun sudah siap dihubungi saat sudah mulai kontraksi. Dokter kandungan dan rumah sakit pilihan pun sudah disiapkan, yaitu dr. Okky Oktafandhi di RS Archa Medica, BSD. Continue reading

Delay atau Keterlambatan Tumbuh Kembang

tumbuh kembangShita mengalami delay atau keterlambatan dalam tumbuh kembangnya. Tanpa diagnosa dari dokter spesialis tumbuh kembang anak pun, sudah terlihat bahwa pertumbuhan dan perkembangan Shita tidak seperti anak lain seusianya. Di usianya yang sudah 2,5 tahun, badannya masih terlihat mungil seperti anak usia setahun. Belum bisa berdiri sendiri, apalagi jalan dan lari-lari. Bagaimana awal mulanya? Continue reading

Anakku Kejang! (4)

shita kejang epilepsiAkhirnya mulai menulis lagi, setelah beberapa lama belum ada mood buat nulis. Ini juga karena ditodong buat menulis kelanjutan cerita epilepsinya Shita. Untuk yang ingin baca ceritanya dari awal, baca: Anakku Kejang!

Setelah konsultasi dengan Prof. Ong Hian Tat di National University Hospital (NUH), Singapura pada bulan April 2015, kejang Shita berangsur-angsur berkurang. Awalnya konsultasi sebulan sekali, kemudian menjadi 3 bulan sekali.

Kalau ditanya, apa bedanya antara konsultasi dengan dokter di Indonesia dan dokter di Singapura? Continue reading