Perjuangan Lepas NGT

Di usia 8 bulan, Shita didiagnosa gagal tumbuh. Bagaimana ceritanya Shita bisa sampai mendapatkan diagnosa gagal tumbuh, ada di postingan sebelumnya (baca: Berat Badan Kurang dan Diagnosa Gagal Tumbuh). Ketika dokter menyarankan untuk menggunakan NGT (nasogastric tube), selang yang dimasukkan dari hidung hingga ke lambung untuk membantu konsumsi susu, aku langsung setuju. Rasanya saat itu, NGT adalah solusi terbaik untuk Shita. Dosis minum susunya 8 kali sehari, setiap 3 jam.

Dan… pertambahan berat badannya pun terlihat, pipi dan badannya mulai montok. Sesuatu yang belum pernah terjadi pada Shita sebelumnya. Aku sampai sedia timbangan bayi di rumah, supaya bisa timbang dan memantau berat badannya setiap hari.

Tapi… semakin usia bertambah, target berat badan pun naik. Jadi walau sudah 3 bulan minum sufor lewat NGT, tetap belum tercapai berat badan idealnya, padahal usia Shita sudah 11 bulan. Kapan dong Shita belajar makan dengan benar? Masa mengandalkan sufor terus? Ibunya kembali galau… dan cari third opinion.

STOP SUFOR

Ketemulah dengan dr. Tan Shot Yen, yang super duper tegas, tapi kalau menjelaskan sangat detil dan logis. Berbeda dengan dokter gizi lainnya, beliau memintaku untuk stop semua susu Shita dan ganti dengan makanan homemade yang diblender halus. Untuk memastikan benar-benar halus, hasil blender kusaring lagi, baru siap dikasi ke Shita. Setiap waktu makan, suapi dulu Shita semampunya, sisanya baru masuk lewat NGT. Jadi walau masih pakai NGT, Shita tetap belajar makan dan belajar merasakan rasa makanan yang sesungguhnya.

Kiri: masih full sufor. Kanan: tanpa sufor

Dari beliau juga aku belajar mengatur menu untuk Shita. Beliau mengajarkan untuk merotasi makanan setiap hari. Misalnya hari Senin karbohidratnya nasi coklat, hari Selasa ganti singkong, hari Rabu pilih ubi, hari Kamis makan kentang, hari Jumat baru ketemu nasi coklat lagi. Ini juga berlaku untuk protein dan sayurannya. Jadi tidak boleh makan makanan yang sama terus menerus, harus banyak variasi, sehingga kebutuhan vitamin dan mineral dari makanan pun terpenuhi.

Aku harus mengakui, setelah stop sufor dan ganti makanan homemade, berat badan Shita memang cenderung stagnan, naiknya tidak banyak. Pipinya pun kembali tirus. Tapi hanya dalam waktu 3 bulan setelah stop sufor, Shita mulai mau makan dan aku cukup percaya diri untuk melepas NGTnya. Jadi total 6 bulan lamanya Shita menggunakan NGT.

BELAJAR MAKAN

Berikut beberapa tips latihan yang kulakukan sewaktu melatih Shita makan (beberapa adalah saran dari terapis wicara):

  1. Serunya makan finger foods

    Beri makanan tanpa bumbu supaya anak terbiasa dengan rasa asli makanan. Ini sekaligus bagian dari stimulasi sensorinya.

  2. Beri makanan dengan berbagai rasa asli, manis, pahit, asin, asam, pedas, sepet, dan sebagainya. Tempel di bibir untuk sekedar stimulasi rasa juga tidak apa.
  3. Rajin memberikan finger food untuk latihan menggigit dan mengunyah. Kalau anak belum bisa meraih dan memegang makanannya sendiri, bisa kita yang sodorkan ke anak dan sentuhkan ke mulutnya.
  4. Saat memberikan finger food, jangan baper kalau anak tidak langsung menggigitnya. Kadang finger food tersebut hanya dimainkan dan dilempar. Itu bagian dari bermain dan belajarnya. Sebaiknya saat finger food, orang tua atau pengasuh ikut makan makanan yang sama di hadapannya, supaya anak paham kalau yang dia pegang itu adalah makanan.
  5. Jika anak belum bisa duduk tegak secara mandiri (seperti Shita pada saat itu), ganjal kursinya dengan bantal sedemikian rupa, sehingga anak bisa duduk tegak saat makan.
  6. Posisi tegak penting untuk mencegah anak tersedak, terutama yang masih belajar makan. Bayi punya refleks untuk melepeh makanan yang terlalu besar dan tidak bisa ditelan, asal posisi duduknya benar.
  7. Setiap kita makan, aku selalu makan di depan Shita. Apalagi kalau makan buah potong, selain makan di depannya, aku juga sering menyentuhkan buah tersebut ke bibirnya, supaya Shita bisa mencicipi rasanya walau belum ikut makan buah tersebut.

Mungkin karena sering disentuhkan buah ke bibir dan merasakan sensasi rasa dan sensasi dingin dari buah, lama kelamaan kalau kita asik makan tanpa melibatkan Shita, dia yang minta icip buahnya. Dari situ mulai digigit sedikit-sedikit… Setelah kita lihat Shita makin tertarik makan, baru mulai disiapkan buah yang diblender buat Shita.

Sekarang Shita kalau makan selalu lahap, caranya mengunyah membuat orang yang melihat ikutan lapar. Makanan apapun dia suka, termasuk berbagai jenis sayuran dan buah. Bersyukur sekali melihat kemajuan Shita sekarang.

BEDA KASUS, BEDA SOLUSI

Mungkin buat orang tua lain yang anaknya masih berjuang dengan NGT, perlu diingat bahwa tiap kasus anak berbeda. Supaya bisa lepas NGT, tentu harus tahu dulu alasan awal menggunakan NGT. Ada yang anak mau makan, tapi berat badan kurang sehingga pakai NGT. Ada yang memang belum mampu menelan dengan baik, sehingga butuh NGT.

Kalau anaknya bisa dan mau makan, walau konsumsi susu lewat NGT untuk mempercepat kenaikan berat badan, selalu beri anak makan sebelum memberi susu lewat NGT. Tujuannya supaya anak tetap ingat cara makan dan menikmati proses makan. Pada banyak kasus, anak yang sebelumnya mau makan, jadi lupa caranya makan karena sudah nyaman selalu kenyang tanpa harus mengunyah makanan.

Buat yang punya masalah menelan, perbaiki dulu problem utamanya. Diskusikan dengan dokter rehabilitasi medik. Ada kemungkinan memerlukan terapi oral motor juga untuk melatih dan menstimulasi kemampuan menggigit, mengunyah, dan menelannya.

Untuk kasus Shita, ternyata ga mau makannya karena efek samping obat kejangnya. Jadi setelah obat tersebut distop, perlahan nafsu makannya kembali. Peernya tingga latihan makan saja.

BELAJAR IKHLAS

Ini yang paling berat hehehe…. Ketika mulai melatih anak makan, biasanya kita punya target kapan kita pengen anak kita bisa makan dengan baik dan bebas NGT. Tapi justru target waktu ini yang bikin emak makin stres… bener ga??!!

Seiring waktu, aku belajar untuk percaya…. percaya kalau Shita itu berjuang keras, percaya kalau Shita pasti bisa, pada saat yang tepat untuk Shita. Target tetap perlu dibuat, tapi target buat emaknya, bukan buat anaknya. Maksudnya?? Ya kita bikin target hari ini mau stimulasi rasa manis, besok rasa asam, lusa rasa pedas. Atau kita bikin target sehari harus 2x kasi finger food dan apapun reaksi anak terhadap finger food tersebut, kita ikhlas dan tetap tersenyum. Jadi kita menjalani hari-hari juga lebih santai dan tenang, ga melulu stres mikirin anak makan.

Soal kapan anak bisa makan… ikhlaskan saja… pada saatnya pasti bisa!!

Semoga pengalamanku ini bisa bermanfaat buat ibu-ibu lain yang memiliki pengalaman serupa.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *