Belajar Homeopati

 

Homeopati ini sebenarnya bukan metode pengobatan baru, hanya saja memang masih jarang praktisinya di Indonesia. Pertama kali tahu tentang homeopati dari mas Reza Gunawan, saat dirujuk untuk membantu mengatasi kejang Shita (tahun 2015). Saat itu belum kutindaklanjuti karena homeopathnya praktek di Bali, walaupun sekitar sebulan sekali buka konsultasi di Jakarta.

Tidak sengaja, awal tahun 2018, dapat informasi kalau Tjok Gde Kerthayasa, homeopath yang direkomendasi oleh mas Reza, akan mengadakan workshop The Healing Power of Homeopathy di Jakarta. Wah… langsung semangat banget kepengen ikut. Apalagi ibuku support banget, karena pernah mencoba dan merasakan efek dari pengobatan Homeopati.

Akhirnya dimulailah perjalananku belajar dan mengenal Homeopati.

ASAL MUASAL HOMEOPATI

Homeopati berasal dari kearifan tradisional yang sudah ada sebelumnya, bahwa segala unsur yang membuat sakit, juga bisa menyembuhkan. Misalnya kita digigit dan kena bisa ular, obatnya ya diolah dari bisa ular tersebut. Atau yang mudah, tangan bau duren, cuci tangan pakai sabun pun bau durennya ga hilang. Baru mempan setelah kita cuci tangan di dalam kulit durennya. Ajaib? Mungkin… tapi itulah ciptaan Tuhan Yang Maha Besar.

Hebat ya… artinya segala bentuk penyembuhan sebenarnya sudah disediakan oleh alam.

Pada tahun 1810, seorang dokter Samuel Hahnemann berkebangsaan Jerman, memperkenalkan Homeopati melalui bukunya “Organon of Rationale Medicine”. Inilah cikal bakal homeopati yang berkembang hingga saat ini.

Di Indonesia, homeopati memang belum banyak dikenal. Tapi di beberapa negara di luar negeri, bahkan beberapa dokter medis mulai mengkombinasi sistem pengobatan medis dengan homeopati untuk hasil yang lebih baik.

PRINSIP HOMEOPATI

Menyembuhkan Dengan yang Serupa

Ini maksudnya bagaimana? Aku kasi contoh aja ya….

Kina sudah lama dikenal sebagai obat malaria. Ternyata bila orang sehat konsumsi kina, justru bisa jadi sakit dengan gejala yang sama persis dengan gejala malaria.

Jadi yang dimaksud dengan “menyembuhkan dengan yang serupa” adalah suatu unsur yang bisa menyebabkan penyakit pada orang sehat, bisa digunakan untuk menyembuhkan orang sakit dengan gejala sakit yang sama.

Dosis Minimum

Dosis yang digunakan sangat-sangat kecil. Bahkan untuk kasus-kasus akut yang kita tahu akan sembuh sendiri dengan cukup tidur dan istirahat (misal demam atau batuk pilek), ya tidak perlu minum remedi homeopati. Dosis minimum ini bertujuan agar proses penyembuhan berjalan sealami dan senatural mungkin.

PENDAPATKU TENTANG HOMEOPATI

Homeopati menurutku sangat menarik untuk dieksplor, terutama bagi orang-orang yang memilih penyembuhan natural dan alami untuk penyakit dan keluhan sehari-hari. Cara berpikirnya cukup berbeda dengan cara berpikir kedokteran medis, tapi masih logis menurutku. Jujur… bikin ketagihan dan pengen belajar lagi dan lagi dan lagi…

Natural

Seperti yang udah kutulis sebelumnya, yang kusuka dari homeopati adalah cara penyembuhannya yang natural, diusahakan sehalus mungkin, dan bertahap. Selalu selesaikan gejala yang paling terlihat dan paling terasa terlebih dahulu, baru lanjut ke gejala berikutnya. Jadi tubuh juga ga kaget dan bisa beradaptasi dengan tahapan-tahapan penyembuhannya.

Holistik

Homeopati memandang tubuh secara holistik, sebagai satu kesatuan, bukan organ per organ seperti layaknya kedokteran medis. Untuk menentukan remedi (obat dalam homeopati) yang tepat, tidak cukup hanya observasi gejala penyakitnya, tetapi juga kondisi lingkungan, preferensi orang yang sakit, dan kondisi emosional orang tersebut.

Contoh sederhana, memilih remedi untuk demam. Remedi untuk tipe demam yang tiba-tiba tinggi, berbeda dengan remedi untuk tipe demam yang naik perlahan. Atau remedi untuk orang demam yang haus terus-terusan, berbeda dengan remedi untuk orang demam yang menolak minum. Karakteristik seseorang juga bisa menentukan pemilihan remedi yang tepat.

Ini membuatku belajar memahami tubuh dengan cara yang berbeda. Bahwa walau gejala penyakitnya sama, tiap tubuh berbeda, dan bisa jadi membutuhkan remedi yang berbeda juga. Observasinya juga harus lebih menyeluruh.

Cakupannya Luas

Ini salah satu yang bikin aku kepincut sama homeopati, karena tidak hanya membantu menyembuhkan masalah fisik, tapi juga emosional. Jadi homeopati bisa membantu supaya emosi kita jadi lebih seimbang.

Nah…. penting banget kan buat emak-emak banyak acara hahahaha….

Apalagi sekarang sering banget hal kecil aja bisa bikin stres dan kesel ga keruan. Sementara suasana hati sangat pengaruh juga ke anak, jadi bahaya kalo stres, kesel, dibiarkan berlarut atau malah dipendam. Untungnya homeopati bisa membantu, walau ya tetep ya… kita harus belajar untuk mengatur emosi lebih baik.

PENGALAMAN MENGGUNAKAN HOMEOPATI

Serah terima sertifikat Workshop Homeopati dari Pak Guru

Kurang lebih sudah setahun aku mengenal homeopati, sejak ikut workshop pada April 2018. Sejak itu mulai deh petualanganku bersama homeopati.

Dulu awal-awal sakit dan belajar mencari remedi yang cocok, aku agak hati-hati dan bolak-balik buka buku catatan (berasa dapet tugas kuliah wakakakakak). Kalau ketemu remedi dan ternyata cocok, senengnya luar biasa. Dulu yang langsung berhasil itu sakit pinggang. Aku tuh sering sakit pinggang saat bangun tidur. Seiring waktu berkurang dan hilang sih, tapi hampir tiap pagi itu terjadi. Setelah minum remedi, aku bisa bangun pagi tanpa sakit pinggang…. hepiiiiii…..

Jadi mulai berani nawarin mertua kalau keliatan lagi ga enak badan atau mulai batuk-batuk. Juga nawarin suami dan ipar, sambil belajar terus…. sekarang orang rumah yang minta ‘dibuatkan’ remedi kalau lagi sakit dan badan ga enak. Karena mulai merasakan ternyata remedi tersebut cukup efektif.

Sekarang pun, aku mulai pakai feeling kalau memilih remedi hehehe… apalagi kalo kepala udah pusing berat, kadang ga bisa mikir, ya udah… pake feeling aja. So far so good sih…

Yang jelas buatku, homeopati membuatku belajar untuk lebih mengenal diriku sendiri, lebih mengenal tubuhku, lebih jeli mengenali emosiku, dan terutama sih belajar mengakui kalo tubuh lagi ga seimbang. Kita kadang denial kan… ah gapapa… ah sehat kok… ah masih kuat kok… tiba-tiba drop… Nah… sekarang jadi belajar untuk lebih mendengarkan tubuh, sehingga bisa antisipasi sebelum jadi drop banget.

PENGALAMAN HOMEOPATI PADA SHITA

Shita konsultasi dengan Ajung Tjokde

Setelah ikut workshop, aku dan suami memutuskan untuk membawa Shita konsultasi dengan Tjokde. Kalau aku belajar mencari remedi untuk diriku sendiri (sambil curi-curi konsul tiap ikutan workshop ;p), kalau Shita konsul langsung karena kasusnya kompleks.

Dan hasilnya pun menarik.

Pertama kali, dikasi remedi untuk segala delaynya, pertumbuhan dan perkembangannya. Setelah sebulan, berat badan naik signifikan dibanding sebelumnya.

Kali berikutnya, Shita dikasi remedi untuk memperkuat saraf pinggang ke bawah. Dan di bulan itu, terlihat Shita makin pede berdiri sambil pegangan meja tinggi, padahal sebelumnya kelihatan takut-takut dan bingung caranya duduk. Ini sebelum Shita mulai fisioterapi lagi. Jadi memang kemungkinan besar, efek dari remedinya.

So far setelah setahun menjalani homeopati, respon Shita membaik, kontak mata lebih bermakna, mulai tertarik untuk berinteraksi dengan anak lain, keinginan eksplorasinya makin membara… Ini yang membuatku memilih untuk melanjutkan homeopati pada Shita. Mudah-mudahan terus makin baik dan makin pintar ya, Nak…

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *