Terapi di Fisioterapi Seruni

fisioterapi seruniPerjalanan terapi Shita lumayan panjang. Sejak usia 6 bulan saya mulai menyadari bahwa Shita mengalami delay tumbuh kembang (Baca: Delay Atau Keterlambatan Tumbuh Kembang). Sangat mungkin ini berkorelasi dengan kejang dan diagnosa epilepsi yang diterima Shita (baca: Anakku Kejang!).

Shita pertama kali fisioterapi di usia 8 bulan. Waktu itu fisioterapinya hanya 2 bulan saja, karena kejangnya kambuh lagi setiap hari. Setelah itu, saya memutuskan untuk latihan di rumah saja menggunakan metode Glenn Doman dengan program yang saya rancang sendiri untuk Shita (baca: Metode Glenn Doman untuk Tumbuh Kembang).

Kelebihan latihan di rumah oleh orang tua:

  1. Waktu fleksibel, tergantung kondisi anak. Saat anak lelah, bisa istirahat dulu, saat anak segar, bisa latihan penuh.
  2. Latihan dilakukan dengan orang yang dikenal baik, sehingga anak lebih nyaman.
  3. Latihan dilakukan di lingkungan rumah yang familier bagi anak.
  4. Program bisa disusun sendiri oleh orang tua sesuai kebutuhan anak, dengan catatan orang tua belajar sehingga paham mengevaluasi kebutuhan anak. Biar bagaimanapun, orang tua yang melihat anak hampir 24 jam, sehingga tentunya lebih mengetahui kondisi dan kebutuhan anaknya.

Alasan-alasan inilah yang membuat saya mantap melatih sendiri Shita di rumah. Hasilnya pun terlihat. Yang paling mudah dievaluasi adalah perkembangan motorik kasarnya. Sebelum membuat program latihan intensif, Shita belum bisa bergerak dari satu tempat ke tempat lain, atau belum mobile. Namun setelah memulai program di usia 16 bulan, kemajuan motorik kasarnya cukup signifikan.

Usia 18 bulan Shita mulai merayap, usia 24 bulan bisa duduk sendiri, usia 30 bulan mulai merangkak.

Namun di usia Shita 32 bulan, saya mulai jenuh. Tahu sih yang harus dilakukan, tapi kok rasanya malasss sekali. Maafkan ibu ya, nak… Yang jelas saya melihat, Shita masih punya masalah sensori dan vestibular.

Tidak lama kemudian, saya mendapat info tentang terapi Neuro Senso Motor Reflex. Tanya om gugel, baca-baca, saya putuskan menghubungi terapisnya langsung. Terapisnya menjelaskan kalau terapinya bertujuan untuk menata sensori dan neurotransmitter otak. Terapinya berupa elusan untuk menstimulasi syaraf tepi dan cairan tubuh, dikombinasi dengan gerakan streching dan fisioterapi.

Hm… penjelasannya menarik dan bikin penasaran. Setelah assessment di Fisioterapi Seruni, saya putuskan untuk coba terapinya. Yang saya suka, selain cocok buat Shita yang bermasalah pada sensori, beliau juga memberikan peer untuk dikerjakan di rumah. Bahkan kalau rumah kita jauh ke tempat terapi, kita bisa ikut terapi seminggu saja, setelah itu kerjakan peernya di rumah dan evaluasi setiap 3 bulan. Kalaupun kita memutuskan ikut terapinya seminggu 3x, disarankan cukup 3 bulan saja, setelah itu dilanjutkan di rumah. Jadi orang tua punya pilihan sesuai kebutuhan anaknya dan tentunya kondisi keuangan.

hasil fisioterapiSaat saya menulis ini, Shita baru menjalankan terapi di Fisioterapi Seruni selama 1,5 bulan. Hasilnya mulai terlihat, Shita mulai pede mengangkat badannya dengan bertumpu pada lutut. Dulu hanya melakukannya saat mau naik kasur, sekarang Shita melakukannya sambil berpegangan pada teralis, berpegangan kursi, dan sebagainya. Buat saya ini luar biasa… Shita juga mulai menikmati berdiri, walau masih sangat oleng. Dulu berdiri sebentar saja sudah menangis.

Prinsipnya sih memang seperti yang saya pernah sampaikan di artikel yang lalu, terapi apapun, kalau dilakukan dengan konsisten, pasti hasilnya bagus. Dan jujur saja, kemajuan ini bikin saya semangat lagi. Rencananya, setelah 3 bulan dan lanjut latihan di rumah, program Glenn Doman pun mau lanjut lagi… Mudah-mudahan benar-benar dikerjakan ya, bukan sekedar rencana *selfreminder

Ayo semangat!!

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *