Hidup Bersama Epilepsi (2)

hidup bersama epilepsiSeperti yang sudah saya sampaikan pada posting sebelumnya (klik disini), hidup bersama epilepsi itu bukanlah hal yang mudah. Namun saya percaya, Tuhan memberikan tantangan dalam hidup bukan untuk menjerumuskan, melainkan mengasah kemampuan kita supaya bisa hidup lebih baik dan lebih berkualitas. Betul kan?

Memang apa sih hikmah di balik epilepsi ini?

Dari apa yang saya pelajari tentang epilepsi, kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, laki-laki atau perempuan, bayi, anak, remaja, bahkan dewasa dan orang tua, yang tinggal di kota atau di desa, di berbagai belahan dunia. Dan yang terpenting, epilepsi tidak menular hehe…

Selain itu, faktor genetik dari epilepsi itu kurang dari 30%. Jadi kalau punya anak epilepsi, tidak perlu saling menyalahkan dapat gen dari siapa. Banyak sekali hal yang bisa jadi penyebabnya, dan sebagian besar penyebabnya tidak diketahui. Jadi… ya terima aja. Setelah bisa terima dengan lapang dada, mari fokus pada apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kualitas hidup.

Nutrisi

Saya jadi banyak belajar tentang nutrisi gara-gara Shita epilepsi. Awal tujuannya menstimulasi Shita supaya mau makan (Shita sempat menggunakan NGT, nasogastric tube, untuk bantu makannya selama 6 bulan). Tapi akhirnya jadi belajar mengatur menu makan yang baik, belajar mempersiapkan makanan dengan benar, dan tentu saja bahan makanan apa saja yang baik untuk tumbuh kembang Shita.

Bonusnya, saya jadi belajar nutrisi untuk kesehatan saya juga. Saya sejak kecil tidak makan sayur sama sekali. Baru muncul kesadaran saat SMA, dan mulai memaksakan diri makan sayur. Itu pun porsinya masih kurang sekali dibanding kebutuhan harian. Dan efek ga makan sayur itu baru terasa sekarang setelah dewasa.

Jadi sekarang yang hidup dan makan sehat tidak hanya Shita, tapi juga ibu dan ayahnya. Makan sehat itu dimulai dari keluarga. Ingin Shita makan sehat, orang tuanya harus memberikan teladan.

Makan sehat itu tidak sekedar makan sayur, tapi sesuai pedoman gizi sehat seimbang ditambah kaya variasi makanan. Ternyata dengan membiasakan makanan yang bervariasi di rumah, tidak saja kebutuhan vitamin dan mineral tubuh tercukupi, Shita jadi mau makan apa saja yang kita sodorkan. Ah senangnya…

Tumbuh Kembang

Karena kondisi Shita yang epilepsi dan delay development, saya jadi belajar banyak soal stimulasi tumbuh kembang bayi dan anak. Apalagi ketika saya memutuskan untuk berhenti fisioterapi di klinik tumbuh kembang. Saya jadi ikut kursus, baca berbagai buku, supaya bisa memberikan latihan dan stimulasi yang tepat untuk Shita.

Ternyata banyak sekali metode, hal-hal kecil dan sederhana yang bisa kita lakukan untuk stimulasi otak bayi dan anak. Tidak perlu selalu menggunakan mainan edukasi yang mahal.

Awalnya saya belajar metoda Glenn Doman saat mendaftarkan Shita ke GymnAdemics Serpong. Setelah itu saya disarankan membaca buku-buku Glenn Doman, untuk memahami kondisi tumbuh kembang Shita dengan lebih baik. Saking tertarik sama konsep dan metode yang dikembangkan Glenn Doman, saya sampai ikut kursusnya. Dan banyak sekali manfaat yang saya dapatkan.

Saya juga belajar banyak soal tumbuh kembang dari Pak Henry Remanlay, ahli kinesiologi dan akupunturis, yang menangani Shita. Dari Pak Henry, saya belajar Rhytmic Movement Training, gerakan-gerakan ritmis sederhana untuk menstimulasi otak dan berbagai refleks bayi, dengan tujuan membantu stimulasi tumbuh kembang Shita.

Jujur saja, kalau kondisi Shita baik-baik saja, mungkin saya tidak akan pernah belajar metode-metode stimulasi otak yang luar biasa ini, dan hanya menstimulasi Shita seadanya dengan cara yang saya tahu.

Bersyukur

Dari kondisi Shita, saya belajar mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup keluarga saya, terutama yang menyangkut Shita.

Melihat Shita mau makan lahap saja rasanya bersyukur banget. Apalagi dulu merasakan masa-masa Shita sulit makan, berat badan kurang, sampai harus pakai NGT (selang makan dari hidung hingga lambung).

Ketika banyak orang tua yang pusing lihat anaknya aktif, saya malah sangat bersyukur kalau Shita aktif, tangannya mulai iseng buka tutup laci, merayap kesana kemari sampai masuk kamar mandi dan main basah-basahan di kamar mandi. Iya lebih capek, karena harus selalu diawasi, tapi senang karena itu berarti ada perkembangan pada tumbuh kembangnya.

Saya juga bersyukur dikasi kesempatan dan kemampuan untuk belajar dan belajar lagi. Beneran deh, proses belajar itu seumur hidup. Dengan kondisi Shita, saya dipaksa untuk terus belajar dan akhirnya jadi sangat menikmati proses belajar saya. Karena hasilnya langsung terlihat pada perkembangan Shita, serta kesehatan saya yang juga senantiasa membaik.

Tuhan memberikan hidup yang lengkap pada kita. Ada dukanya, tapi juga ada sukanya. Selama perjalanan hidup bersama epilepsi Shita, duka pasti ada, tapi sukanya juga buanyak banget!

Yuk tetap semangat! Epilepsi bukan akhir dari segalanya. Epilepsi justru awal dari perjuangan, yang pasti akan membuahkan hidup yang bermakna.

Share Button

9 thoughts on “Hidup Bersama Epilepsi (2)

      1. ana

        Mbak,bisa minta no hp,anak saya epilepsi umur 6 bln,skrg umur 2,5th masih kejang dan belum bisa duduk lama

        Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *