Diet Ketogenik Pada Epilepsi

diet ketogenikSalah satu terapi alternatif untuk penderita epilepsi yang diterima kalangan medis adalah diet ketogenik. Diet ini bekerja dengan memanipulasi proses kimia dalam tubuh melalui diet super ketat. Diet ini sudah ada sejak tahun 1920an dan menjadi terapi yang paling efektif dalam mencegah kejang pada anak penderita epilepsi. Namun sejak obat anti kejang semakin mudah didapat pada tahun 1940an, diet ketogenik tidak lagi menjadi pilihan pertama terapi bagi penderita epilepsi, bahkan semakin jarang direkomendasikan oleh dokter.

Hingga pada tahun 1993, Charlie Abrahams yang saat itu baru berusia 1 tahun, didiagnosa mengidap Lennox-Gastault syndrome, jenis epilepsi yang langka dan sulit dikendalikan karena memiliki beberapa jenis kejang. Charlie bisa mendapatkan hingga ratusan serangan kejang per hari dan obat tidak membantu. Orang tuanya, Jim dan Nancy, membawa Charlie ke banyak dokter syaraf anak, dan semuanya menganjurkan obat lebih banyak atau bedah otak. Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi.

Jim menghabiskan waktu di perpustakaan mencari literatur tentang terapi untuk epilepsi. Akhirnya dia membaca tentang diet ketogenik, yang belum pernah sekali pun disebutkan oleh para dokter yang mengevaluasi kondisi Charlie. Walaupun dokter tidak yakin akan diet ini, Jim dan Nancy memaksa, paling tidak Charlie mencoba diet ketogenik. Dalam 72 jam pertama setelah memulai diet ketogenik, serangan kejang Charlie berhenti.

Tahun 1994, keluarga Abrahams mendirikan Charlie Foundation to Cure Pediatric Epilepsy untuk membantu anak-anak lain. Tahun 1997, Jim, yang kebetulan juga seorang sutradara Hollywood, menulis dan menyutradarai film First Do No Harm yang dibintangi oleh Meryl Streep, terinspirasi dari pengalaman mereka dengan diet ketogenik.

Disebut ketogenik, karena diet ini bertujuan meningkatkan kadar keton dalam darah atau menghasilkan kondisi ketosis. Cara kerja diet ini meniru cara kerja tubuh saat sedang berpuasa. Saat puasa, tubuh kekurangan karbohidrat alias gula untuk dikonversi menjadi energi. Supaya organ-organ tubuh tetap bisa berfungsi dengan baik, tubuh memanfaatkan lemak yang selama ini disimpan tubuh untuk dikonversi menjadi energi. Pada saat inilah, kondisi ketosis terjadi.

Diet ketogenik biasanya disarankan sebagai terapi alternatif pada penderita intractable atau refractory epilepsy, yaitu epilepsi yang sulit dikendalikan dengan obat-obatan. Pasien biasanya sudah mencoba berbagai macam obat, dari dosis rendah sampai dosis maksimal, tapi masih saja mengalami serangan kejang. Diet ini lebih banyak diterapkan pada pasien anak dan remaja karena beberapa studi membuktikan bahwa kemampuan tubuh anak-anak untuk menghasilkan keton dalam darah sekitar empat hingga lima kali lebih tinggi daripada pada pasien dewasa.

Apa Itu Diet Ketogenik?

Diet ketogenik awalnya dikembangkan di Mayo Clinic dan Johns Hopkis University Hospital pada tahun 1920an. Ini adalah diet tinggi lemak, rendah protein, dan rendah karbohidrat yang dirancang khusus agar sesuai dengan usia, tinggi, dan berat badan setiap anak. Sekitar 90% dari total kalorinya berasal dari lemak, biasanya dalam bentuk mentega, minyak, atau krim kental.

Diet ketogenik didesain untuk menjaga kondisi ketosis dalam tubuh. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ketosis terjadi saat tubuh dipaksa untuk membakar lemak sebagai pengganti gula (karbohidrat). Keton, hasil dari pembakaran lemak, meningkat kadarnya dalam darah dan mencegah serangan kejang.

Diet ini efektif pada banyak anak yang tidak responsif terhadap obat-obatan. John Freeman, M.D., profesor di Johns Hopkins University adalah salah satu dari sedikit dokter syaraf yang menerapkan diet ini untuk mengendalikan kejang pada lebih dari setengah pasien anak yang memulai diet di Johns Hopkins.

komposisi diet ketogenikUntuk mencapai kondisi ketosis, rasio lemak : protein-karbohidrat mulai dari 4:1, 3:1, 2:1. Rasio 4:1 berarti makanan terdiri atas 4 gram lemak ditambah 1 gram protein dan karbohidrat.

Karena disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak secara individu, maka tidak ada menu standar untuk anak. Semua resep dihitung berdasarkan kebutuhan anak. Kita harus menyediakan timbangan di rumah, karena setiap makanan yang masuk harus sesuai sampai ke hitungan gram, tidak boleh kurang, tidak boleh lebih. Lebih repot memang.

Diet ini bukan diet yang nutrisinya seimbang, jadi mungkin diperlukan vitamin dan mineral suplemen, seperti calsium dan beberapa jenis vitamin B, tentunya sesuai kebutuhan anak. Semua yang masuk ke tubuh, termasuk pasta gigi, obat, vitamin, harus bebas gula. Jadi tidak boleh minum obat dalam bentuk sirup karena pasti mengandung gula.

Walaupun diet ini membantu mengurangi serangan kejang, tapi sangat tinggi lemak dan bisa menyebabkan beberapa komplikasi, seperti menghambat pertumbuhan (kerdil), konstipasi, kolesterol tinggi, batu ginjal, dan lainnya. Oleh karena itu pelaksanaan diet ini harus dalam pengawasan dokter.

Memulai Diet Ketogenik

Bila langsung memulai diet dengan rasio 4:1, maka sebaiknya anak menjalani rawat inap di rumah sakit saat mulai diet. Hal ini untuk mengantisipasi respon negatif dan berbagai reaksi tubuh lainnya saat baru memulai diet, seperti gula darah rendah, pusing, dehidrasi, dan kejang. Biasanya anak bisa menoleransi periode ini dengan baik, walau orang tuanya tidak.

Sebelum mulai, dilakukan berbagai tes darah, untuk menentukan baseline atau kondisi awal. Setelah diet dimulai, tes darah dilakukan secara berkala, supaya bila terjadi ketidakseimbangan kimia dalam tubuh, dapat segera diketahui dan diatasi.

Setelah kondisi ketosis mulai terjadi, orang tua akan diberikan resep makanan, diajarkan cara menyiapkan makanan, termasuk menimbang semua bahan hingga menghitung kalori. Jangan pernah memulai diet ketogenik sendiri tanpa pengawasan dokter karena ada resiko malnutrisi, kekurangan vitamin, dan kimia tubuh yang tidak seimbang. Tanpa pengawasan, anak bisa meninggal saat menjalani diet ketogenik.

Beberapa anak kejangnya langsung berkurang ketika tubuh mencapai ketosis, sementara untuk anak lain membutuhkan satu hingga tiga bulan. Tidak seperti obat-obatan, diet ini tidak menghalangi perkembangan mental dan otak. Bahkan anak yang perkembangannya terlambat, segera setelah kejang berkurang, perkembangannya pun membaik.

Diet ini sudah membantu banyak sekali anak yang sebelumnya hanya diberikan opsi kombinasi obat-obatan atau bedah otak. Seorang ibu dari anak berusia 4 tahun berkata, “Dia menjadi anak yang sangat berbeda. Dia akhirnya bisa naik sepeda roda tiga, berbicara kalimat lengkap, dan kemampuan motoriknya kembali.” Anak lainnya, yang rata-rata mengalami 15 absence seizure sehari saat mengkonsumsi Tegretol (salah satu obat anti epilepsi), menjadi bebas kejang tanpa minum obat apapun sebulan setelah diet.

Walau banyak yang sukses, diet ini biasanya direkomendasikan terakhir, saat obat tidak lagi membantu. Sebelum memutuskan untuk diet, ada baiknya melakukan tes untuk alergi dan sensitivitas terhadap makanan. Anak yang sedang diet kadang mengalami serangan kejang, terutama bila makan makanan yang dilarang. Hanya makan sekeping biskuit saja bisa mengganggu kondisi ketosis dan menimbulkan serangan.

Pengalaman Diet Ketogenik

Shita sempat disarankan oleh dokternya untuk menjalani diet ketogenik karena epilepsinya sudah dikategorikan sebagai refractory epilepsy. Saya belum terlalu sreg karena pencernaan Shita yang sensitif dan gampang konstipasi kalau makanannya kurang serat. Kami sudah bertemu ahli gizi dan diberikan resep makanan untuk Shita. Dokternya minta dicoba diberikan ke Shita, apakah Shita suka makanannya. Saya pikir tidak ada salahnya dicoba.

Setelah dibuat sesuai resep, saya coba berikan ke Shita. Dia mau, tapi hanya sedikit. Tidak sampai habis. Saya ikut cicip, penasaran juga sama rasanya. Hmmm… enak sih, makanan tinggi lemak kan memang enak. Hanya saja memang cepat bikin enek.

Karena dengan obat-obatan kejang berkurang, ditambah Shita tidak terlalu suka rasanya, akhirnya diet ketogenik boleh dikesampingkan dulu buat Shita.

Ada seorang teman, yang anaknya mengkonsumsi obat anti epilepsi sejak usia 9 bulan hingga sekarang sudah usia 4 tahun. Dokter akhirnya menyarankan diet ketogenik dan saat ini sudah hampir sebulan menjalani dietnya. Yang ingin baca langsung cerita menjalani diet ketogeniknya, bisa klik di sini.

Mudah-mudahan informasinya berguna ya…

Sumber: Treating Epilepsy Naturally, 2001, Patricia A. Murphy, McGraw Hill, New York.

Share Button

4 thoughts on “Diet Ketogenik Pada Epilepsi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *