Anak Susah Makan, Berat Badan Kurang, Solusinya?

Shita makan sayur bersama nenek.

Shita makan sayur bersama nenek.

Beberapa waktu lalu, ada diskusi menarik dan tema yang seksi di Milis Sehat, yaitu soal berat badan anak yang dianggap kurang. Bisa dianggap kurang oleh ibunya, oleh neneknya, oleh tetangganya, atau oleh dokter anaknya. Dan percayalah, tema seksi ini paling jitu bikin galau para ibu-ibu, termasuk saya tentunya hehe… Dari sekian banyak curhatan dan saran, saya suka banget sama jawabannya dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K). Saya share disini yaaa….

Growth Chart atau Kurva Pertumbuhan

Dr. Endah mengatakan untuk tidak berpatokan pada usia sekian berat harus sekian, karena di milis diajarkan bahwa plot berat badan anak harus diplot di kurva pertumbuhan alias growth chart (sejak lahir hingga usia 2 tahun). Gunakan kurva pertumbuhan versi WHO, lihat tren dan polanya, bandingkan dengan tingginya. Untuk kesimpulan akhir status gizi, gunakan kurva weight for length. Ada aplikasi atau software WHO Anthro yang linknya ada di artikel ini.

Kalau memang berat badannya tidak proporsional untuk tingggi badannya, entah itu underweight atau severe malnutrition atau bahkan failure to thrive, silakan konsultasi ke dokter spesialis anak konsultan gizi. Di Jakarta bisa ke RSCM Kencana atau Kiara. Untuk kriteria anak disebut gagal tumbuh atau failure to thrive, bisa cek disini.

Jadi kalau anaknya masuk kategori gizi cukup atau gizi baik, silahkan santai sejenak, tidak perlu baper nan galau berlebihan. Menurut dr. Endah, paham definisi itu penting, karena beliau masih banyak menemukan ibu yang menganggap anak sehat itu anak yang gemuk. Atau anak sehat itu yang kurva beratnya harus di garis ‘hijau’, tanpa membandingkan dengan tinggi dan pola sebelumnya.

Anak Tidak Mau Makan

Masih penjelasan dr. Endah, apa penyebab anak tidak mau makan?

  1. Tidak lapar. Solusi? Bikin anak lapar.
  2. Tidak suka makanannya. Solusi? Beri makanan yang anak suka.

Gampang kan? Hehehe….

Feeding Rules (Aturan Makan)

Ini salah satu tulisan dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K) yang saya copy disini. Banyak Ibu yang mengeluh anaknya sulit atau tidak mau makan. Rasanya jarang banget malah Ibu yang bangga, karena anaknya tidak susah makan. Kenapa ya? Dalam Rekomendasi IDAI tentang pendekatan diagnosis dan tata laksana masalah makan pada batita di Indonesia, para ahli menjelaskan panjang lebar soal masalah makan ini. Penelitian tahun 2011 menunjukkan penyebab masalah makan yang paling banyak adalah inappropriate feeding practice.

Inappropriate feeding practice adalah perilaku makan yang salah, tidak mengikuti feeding rules atau pemberian makanan yang tidak sesuai usia. Nah, bagaimana sih feeding rules yang benar?

Feeding rules atau aturan pemberian makan yang benar adalah:

Jadwal

Ada jadwal makanan utama dan makanan selingan (snack) yang teratur, yaitu tiga kali makanan utama dan dua kali makanan kecil di antaranya. Susu dapat diberikan dua-tiga kali sehari. Waktu makan tidak boleh lebih dari 30 menit. Hanya boleh mengonsumsi air putih di antara waktu makan.

Lingkungan

Lingkungan yang menyenangkan (tidak boleh ada paksaan untuk makan). Tidak ada distraksi (mainan, televisi, perangkat permainan elektronik) saat makan. Jangan memberikan makanan sebagai hadiah.

Prosedur

Dorong anak untuk makan sendiri. Bila anak menunjukkan tanda tidak mau makan (mengatupkan mulut, memalingkan kepala, menangis), tawarkan kembali makanan secara netral, yaitu tanpa membujuk ataupun memaksa. Bila setelah 10-15 menit anak tetap tidak mau makan, akhiri proses makan.

Yakin deh, banyak ibu-ibu yang tercengang. Haaaah? Cuma 30 menit? Tidak dipaksa? Pasti sambil membayangkan anak yg digendong sana sini berjam-jam sambil disuapi bahkan kadang dicekoki.

Makan itu duduk yaaa. Duduk berhadapan dengan pemberi makannya sambil berinteraksi. Atau duduk makan bersama dengan orang lain di rumah. Kalau anaknya tidak betah duduk? Berarti anak itu tidak lapar atau sudah kenyang. Saya kalau lapar, pasti akan konsentrasi ke makanan dan tidak akan sibuk bolak-balik ke sana ke mari.

Kalau anaknya cuma mau makan dua suap bagaimana? Nanti lapar?

Nah, percaya deh. Anak sehat, pasti bisa mengatur kebutuhan tubuhnya sendiri. Jika ia lapar, ia akan makan. Jadi kata kuncinya: buat anak lapar. Bagaimana membuat anak lapar? Ya buat jadwal makan. Lazimnya 2-3 jam sebelum waktu makan, kosongkan perutnya. Jangan ‘dirusak’ oleh cemilan, bahkan oleh proses menyusui. Hanya berikan cemilan pada jam snack ya. Jangan pas lewat meja, ambil biskuit. Lewat dapur, ambil kerupuk. Mampir warung, ngemil permen.

Sering ibu yang menyusui, tidak mengatur pola menyusuinya dengan baik. Kapan pun anak minta, disusui. Anak jatuh, disusui. Anak rewel, disusui. Kalau tidak dijarakkan dari makan, kapan anak merasa lapar?

Satu lagi kuncinya: berikan anak makanan yang dia suka. Ini tugas ibunya, mengamati makanan apa yg disukai anak. Seringkali, batita itu pembosan dan pemilih. Bahkan tidak jarang anak yang “musuhan” dengan nasi. Jangan khawatir, karbohidrat kan banyak selain nasi. Orang bule juga tinggi-tinggi meski makannya roti dan kentang. Nasi juga bisa divariasikan, dibuat lontong, lontong isi, nasi uduk, nasi kuning, nasi goreng. Silakan berkreasi….

***

Setelah baca tulisan di atas, pasti ada yang komentar, prakteknya kan susah. Masa tega anak tidak mau makan dibiarkan saja tidak makan?

Saya ngerti banget kok… karena saya pernah mengalami, anak saya Shita sama sekali tidak mau makan, sampai didiagnosa gagal tumbuh dan harus pake NGT (nasogastric tube) alias selang yang dimasukkan dari hidung sampai ke lambung, supaya makanan bisa masuk. Dari awal latihan makan dan sampai akhirnya mau makan, saya terapkan feeding rules seperti yang dr. Endah sampaikan.

Sekarang anak saya justru minta ke meja makan kalau lapar. Kalau di meja makan, makanan malah disembur, dia sambil main-main, itu artinya dia tidak lapar. Ya sudah, stop aja makannya. Kalau dia masih lapar, pasti menangis atau merengek minta makan. Kalau sudah kenyang, ya dia tenang dan senyum-senyum saja melihat saya beres-beres meja makan. Jadi makan bukan lagi sebuah medan pertempuran, tapi proses yang dibutuhkan oleh anak dan tentunya menyenangkan.

Selamat mencoba ya….

Share Button

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *