Tips EEG Pada Anak Epilepsi

tes eeg ├ępilepsieMinggu lalu adalah tes EEG Shita yang keenam (baca: Tes EEG Pada Epilepsi). Wuih… ternyata dalam 3 tahun ini Shita sudah menjalani EEG enam kali, bisa dibilang dua kali setahun. Memangnya tes EEG harus dilakukan rutin setiap enam bulan? Tidak juga sebenarnya, tergantung kebutuhan saja. Kejang epilepsi Shita memang agak bandel, jadilah masih harus dipantau terus dan bolak-balik menjalani EEG untuk menentukan terapi yang paling tepat saat itu.

Apa sih yang istimewa dari EEG kali ini?

Sebenarnya biasa saja sih, saya saja yang lagi ingin menulis hehehe… Yang jelas, EEG kali ini dilakukan di rumah sakit yang berbeda dari EEG-EEG sebelumnya. Dan walau sudah berkali-kali menjalani EEG, tetap saja saya deg-degan.

Persiapan sebelum EEG sih standar, sama dengan di tempat lain, anak sudah cuci rambut atau keramas supaya perekaman gelombang otaknya tidak terganggu oleh kotoran yang ada di rambut. Nah… yang repot adalah anak harus tidur sepanjang EEG berlangsung, dan EEG bisa berlangsung selama 30 menit, belum termasuk proses pemasangan alatnya yang cukup makan waktu juga.

Kalau EEG sebelumnya, dengan tips Shita dibangunkan lebih pagi, kemudian dijaga tidak tidur sampai waktunya EEG, biasanya Shita sukses tidur sepanjang EEG. Kalau yang sekarang, Shita lagi susah banget diajak tidur siang. Walau ngantuk, dilawan terus karena ingin main. Apalagi kalau tidur siang sama ibunya, kok ya ngeyel ga tidur-tidur.

Strategi supaya Shita bisa tidur

Oke… ibunya harus atur strategi. Saat bikin jadwal EEG, saya minta hari selasa berbarengan dengan waktu terapinya. Ketika ditanya, mau jam 8 pagi atau jam 3 sore? Ya jelas jam 3 sore dong. Jam 8 pagi mah Shita masih segar bugar… Supaya jam 3 sore nanti bisa tidur pulas, strateginya adalah ajak Shita keliling supaya semangat main.

Jadi Shita dibangunkan jam 6 pagi, berbarengan dengan jadwal minum obat paginya. Langsung mandi dan jam 7 pagi berangkat ke tempat terapi di Karawaci. Tiba di sana jam 8, terapi berlangsung hingga jam 9 pagi.

Dari tempat terapi, lanjut ke Gymnademics. Sudah berbulan-bulan Shita tidak main kesini. Karena tujuannya membuat Shita capek, Shita pun ikutan kelas, hingga jam 10.45. Selesai nge-gym di Gymnademics, Shita saya ajak main di rumah sahabat Shita di daerah BSD, dekat dengan rumah sakit tempat akan dilakukan EEG. Di sana Shita diajak makan, main, tapi tidak terlalu diforsir. Kalau terlalu capek, nanti malah kejangnya banyak.

Jam 2 siang, Shita mandi dan keramas. Setelah selesai langsung deh berangkat ke rumah sakit.

Proses menidurkan Shita

Sampai di rumah sakit, daftar, dan kami pun menunggu. Sekitar jam 14.45, perawat mempersilahkan masuk ke ruangan EEG untuk menidurkan Shita. Oke… perjuangan dimulai.

Seperti biasa, walau sudah ngantuk dan capek luar biasa, Shita pantang menyerah. Sudah kucek-kucek mata, tiba-tiba tengkurap lagi. Malah cengar-cengir sambil tarik-tarik rambut ibunya.

Satu lampu ruangan dimatikan supaya agak remang, Shita masih semangat. Matikan lampu satu lagi supaya gelap, Shita masih ngoceh-ngoceh… ibunya mulai putus asa. Akhirnya panggil bala bantuan… sang nenek.

Nenek pun beraksi, ibunya duduk anteng di pojokan. Rupanya bala bantuannya ampuh, Shita mulai berkurang gerakan dan suaranya. Baru sekitar jam 15.30, Shita benar-benar tidur. Akhirnya…..

Sudah lega? Belum dong….

Proses EEG

Tahap pertama selesai, Shita berhasil tidur. Tahap kedua, memasang elektroda-elektroda EEG di kepala Shita, tanpa membuat Shita terbangun. Ini juga bikin deg-degan… sempat Shita kaget dan tangannya dengan cepat garuk-garuk kepala, tempat elektroda sudah terpasang sebagian!! Untung Shita tidak terbangun… Fiuh….

Perawat yang memasang alat juga sangat cekatan. Ini sangat membantu sehingga proses pemasangan tidak terlalu lama. Setelah akhirnya semua elektroda sudah terpasang sempurna, mulailah tahap ketiga, tahap perekaman gelombang otak, selama 30 menit.

Ibunya bahagia, tahapan ini berjalan lancar, Shita sama sekali tidak terbangun, bahkan saat dikasi stimulan lampu kedip-kedip. Yeay….

Kalau anak tidak berhasil tidur?

Kalau anak tidak berhasil ditidurkan, biasanya tes EEG akan dijadwalkan ulang. Kalau orang tua minta dilakukan hari itu juga, atau ada pertimbangan tertentu yang mengharuskan tes saat itu, biasanya perawat akan konfirmasi dulu ke dokternya. Kalau dokternya setuju, EEG bisa tetap dilakukan, dengan catatan anak diberi obat tidur supaya bisa tidur sepanjang EEG.

Kalau saya pribadi, lebih memilih anak tidur alami. Pernah punya pengalaman saat EEG kedua Shita, diberikan obat tidur. Waktu itu usia Shita satu tahun. Ketika Shita tidur, mulailah dipasang alat-alatnya. EEG baru dimulai sebentar, pengaruh obat habis dan Shita pun bangun… huaaaa…. EEG tetap dilakukan, dengan perawat memberi catatan kalau EEG dilakukan saat anak sadar. Dan itu satu-satunya EEG Shita dengan hasil gelombang otaknya normal. Kelima EEG yang lain, yang dilakukan saat tidur, hasilnya abnormal.

Tips EEG anak lancar

Pertama, ajak anak tidur lebih malam dari biasanya, kemudian bangunkan lebih pagi. Jangan biarkan anak tidur sebelum waktunya EEG. Bahkan setelah sampai rumah sakitpun, jangan langsung tidur, kecuali sudah dipersilahkan oleh perawat.

Kedua, pastikan rambut anak dalam keadaan bersih. Lebih ideal kalau keramas dulu sebelum EEG.

Ketiga, pastikan anak sudah makan dan kenyang, jadi tidurnya pun enak.

Keempat, anak yang sudah besar, ajak ke toilet dulu sebelum menjalani tes. Untuk bayi dan anak yang lebih kecil, gunakan popok sekali pakai.

Kelima, gunakan pakaian yang nyaman. Kalau perlu cek dulu rumah sakitnya sebelum hari tesnya. Tempat Shita tes kemarin, suhu ruangannya dingin sekali, bahkan nenek Shita tidak kuat menunggu di dalam. Jangan sampai anak terbangun karena kedinginan atau kepanasan.

Mudah-mudahan sharingnya bermanfaat ya…

Share Button

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *