Obat Kejangnya Cocok Atau Tidak?

obat anti epilepsi OAEBanyak yang curhat dengan nada sedikit panik ke saya. “Anak saya kok jadi gampang marah ya? Apakah gara-gara obat?” Atau begini, “Anak saya demam, apa efek samping obat ya?” Ada juga yang seperti ini, “Anak saya batuk-batuk, jangan-jangan ga cocok sama obatnya?”

Bagaimana sih caranya supaya tahu obat anti epilepsi (OAE) yang dikonsumsi itu cocok atau tidak?

Jujur saya tidak bisa menjawab secara pasti. Saya bukan dokter, hanya seorang ibu dari anak epilepsi (baca: Anakku Kejang!). Dokter pun belum tentu bisa menjawab secara pasti, karena reaksi obat pada masing-masing orang berbeda. Saya cerita berdasarkan pengalaman saya dan Shita saja ya…

Efek samping obat kejang/ OAE

Semua obat medis, pasti ada efek samping yang MUNGKIN terjadi. Kata mungkin saya tulis dengan huruf besar, karena artinya efek samping itu bisa terjadi, bisa juga tidak. Obat penurun panas yang disebut-sebut paling aman pun, misalnya paracetamol, tetap ada kemungkinan efek sampingnya.

Obat herbal juga bukan tanpa efek samping kalau dikonsumsi berlebihan.

Bagaimana dengan obat kejang dan epilepsi? Kalau baca brosur yang ada di kotak obat, atau baca di drugsdotcom, daftar efek samping yang MUNGKIN terjadi itu panjaaaaang….. sekali. Dan obat-obatan ini memang bukan obat yang bisa dibeli sembarangan, harus dengan resep dokter.

“Duh… takut deh baca efek sampingnya, apalagi anak saya disuruh minum obatnya selama 2 tahun. Apa obatnya ga usah dikasi aja ya?”

Kalau menurut saya, kita sebagai orang tua harus bisa berpikir rasional. Mana yang lebih besar, manfaat minum obat atau kerugian minum obat. Manfaatnya ya anak tidak kejang. Kerugiannya ya si efek samping. Silahkan pertimbangkan dan diskusikan dengan dokter, kemudian putuskan deh.

Efek penyesuaian obat

Eh ini apalagi?

Biasanya saat baru mulai minum obat kejang dengan dosis rendah, tubuh bereaksi. Sekali lagi, reaksinya bisa beda-beda pada tiap orang. Ada yang jadi banyak tidur, ada yang jadi terlalu aktif, ada yang muntah, dan sebagainya. Yang harus diingat, reaksi awal ini biasanya hanya sementara. Makanya saya bedakan dengan efek samping obat.

Kalau pengalaman Shita, reaksi penyesuaian obat baru atau dosis baru, bisa seminggu sampai dua minggu. Pernah waktu konsumsi kombinasi depakene dan keppra, setiap dosis keppra naik, shita pasti muntah-muntah seminggu. Setelah itu ya biasa lagi. Atau ketika pertama kali minum clobazam dan setiap kenaikan dosis clobazam, Shita pasti lemes, teler selama hampir 2 minggu. Pernah juga jadwal tidur jadi bergeser waktu clobazamnya naik dosis.

Jadi kalau minum obat baru atau dosis baru, terus tiba-tiba ada sesuatu pada anak yang berbeda, tidak usah buru-buru panik. Observasi ketat, catat. Kalau perubahannya mengkhawatirkan, silahkan lapor ke dokter. Kalau kira-kira masih bisa diatasi, cukup observasi di rumah, jaga asupan makan dan minum, banyak istirahat. Mudah-mudahan tidak sampai dua minggu, tubuh anak sudah bisa menyesuaikan diri dengan obatnya dan kondisinya kembali seperti semula.

Obat tidak cocok, tahunya dari mana?

Obat tidak cocok bisa dilihat dari dua sisi, klinis dan hasil laboratorium. Kalau dari sisi klinis, misalnya ada reaksi alergi yang langsung terjadi saat konsumsi. Atau kejang tidak berkurang dan malahan bertambah. Dari hasil laboratorium, contohnya kalau trombosit turun setelah rutin konsumsi asam valproat.

Jadi kalau bisa ambil darahnya saat tubuh sedang sehat. Karena ada beberapa infeksi yang juga menyebabkan trombosit turun. Kalau anak diambil darahnya saat demam, nanti malah bingung, trombosit turun karena infeksi atau karena efek samping obat kejangnya. Pokoknya kalau ada kecurigaan tentang ketidakcocokan obat, diskusikan dengan dokternya ya.

Pengalaman Shita dengan Asam Valproat

Sekarang saya bisa bilang dengan tegas kalau Shita tidak cocok konsumsi asam valproat (depakene, ikaleb, epilim, dll). Awalnya hal ini terlihat dari hasil laboratorium rutinnya. Anak yang konsumsi asam valproat memang harus periksa darah setiap 6 bulan. Hasilnya terlihat bahwa trombositnya turun, padahal Shita terlihat sehat-sehat saja. Oleh karena itu, pada usia 11 bulan, asam valproatnya distop.

Pada usia 18 bulan, dokter menyarankan untuk mencoba asam valproat lagi. Pertimbangan dokternya, asam valproat yang paling cocok untuk tipe kejang Shita. Pertimbangan lainnya adalah usia yang sudah lebih besar dan kemampuan makan Shita yang sudah bagus. Dokternya berharap tidak ada efek samping yang berarti, seperti yang terjadi sebelumnya. Dokter juga memberi catatan, periksa darah 3 bulan setelah konsumsi asam valproat.

Oke, saya dan ajungnya Shita setuju. Kita coba lagi…

Setelah 2 minggu, saya perhatikan, nafsu makan Shita menurun. Tapi yang jelas sekali terlihat, dia menolak semua buah manis, termasuk semangka dan pepaya yang dulu merupakan buah favorit Shita. Berat badan berangsur turun, tubuh Shita makin lemah. Yang sebelumnya sedang aktif merayap kesana kemari dan nungging-nungging, mulai malas merayap dan nunggingnya hilang.

Flashback…. saya mengingat kembali saat Shita pertama kali konsumsi asam valproat di usia 5 bulan. Usia 5,5 bulan Shita mulai MPASI. Cuma mau makan seminggu pertama, setelahnya susaaaaah sekali. Buah manis sama sekali tidak mau. Bubur nasi yang gurih mau sedikiiiit sekali. Menyusu langsung jalan terus, tapi entah kenapa berat badannya makin susah naik, bahkan di usia 7 bulan, berat badannya malah turun (baca: Berat Badan Kurang dan Diagnosa Gagal Tumbuh).

Baru saya sadar, ternyata problem susah makan Shita saat bayi itu, gara-gara konsumsi asam valproat. Dua kali dicoba, di usia 5 bulan dan usia 18 bulan, dua kali juga nafsu makannya turun drastis dan mengganggu tumbuh kembangnya. Berarti minum asam valproat buat Shita lebih banyak kerugiannya daripada manfaatnya. Setelah hampir sebulan konsumsi asam valproat dan nafsu makan Shita semakin memburuk, segera saya hubungi dokternya. Saya ceritakan semuanya dan minta asam valproatnya distop saja. Dokter setuju, stop asam valproat.

Pengalaman Shita dengan Tegretol (Carbamazepine)

Waktu pertama kali stop asam valproat di usia 11 bulan, dokternya memutuskan untuk diganti dengan tegretol (kandungan aktifnya carbamazepine). Beliau memberikan formula penurunan dosis asam valproat dan peningkatan dosis tegretol. Jadi setiap 2-3 hari, dosis asam valproat turun bersamaan dengan dosis tegretol naik bertahap. Setelah kenaikan dosis yang kedua, saya perhatikan frekuensi kejang Shita bertambah. Karena belum waktunya kontrol ke dokter, saya memilih untuk observasi dulu, apalagi saat itu akhir pekan.

Saat konsul, dokternya menyarankan untuk EEG ulang. Menurut dokter setelah baca hasil EEG, ternyata tegretol tidak cocok untuk tipe kejang Shita. Jadilah tegretol distop dan dua obat lainnya boleh diteruskan.

Belajar dari pengalaman Shita, memang harus sabar melihat reaksi coba-coba obat pada anak, jeli saat melakukan observasi, dan tidak gampang panik, supaya bisa didapat kombinasi obat yang cocok buat anak. Ini pengalaman saya dan Shita ya. Orang tua lain atau orang dengan epilepsi (ODE) lain mungkin punya pengalaman yang berbeda soal obat-obatan ini.

Semoga bermanfaat…

Share Button

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *