Delay atau Keterlambatan Tumbuh Kembang

tumbuh kembangShita mengalami delay atau keterlambatan dalam tumbuh kembangnya. Tanpa diagnosa dari dokter spesialis tumbuh kembang anak pun, sudah terlihat bahwa pertumbuhan dan perkembangan Shita tidak seperti anak lain seusianya. Di usianya yang sudah 2,5 tahun, badannya masih terlihat mungil seperti anak usia setahun. Belum bisa berdiri sendiri, apalagi jalan dan lari-lari. Bagaimana awal mulanya?

Sebelum mulai cerita, saya mau jelaskan sedikit tentang istilah tumbuh kembang. Bayi tumbuh dan berkembang pesat di tahun pertama kehidupannya. Tumbuh artinya tubuhnya semakin besar, berat badan naik, tinggi badan naik, lingkar kepala bertambah. Kalau semuanya baik, artinya bayi tumbuh dengan baik.

Berkembang berarti kemampuannya gerak dan sosialnya bertambah. Motorik halus dan motorik kasar, kemampuan merespon saat diajak bermain, dan sebagainya. Tidak bisa dibilang tumbuh lebih penting daripada kembang, begitu juga sebaliknya. Keduanya sama pentingnya bagi anak, sehingga harus berjalan beriringan.

Untuk bagian tumbuh, saya sudah pernah cerita bahwa Shita pernah didiagnosa gagal tumbuh pada usia 8 bulan (ceritanya ada di sini). Jadi sekarang saya mau cerita tentang perkembangan Shita.

Shita lahir melalui operasi caesar. Menurut dokter, kondisi saat lahir bagus, langsung menangis, skor APGAR 9 dari 10. Sekitar 5 jam setelah lahir, Shita juga sukses menyusu dengan lancar. Sejak lahir, Shita sangat sangat aktif. Kaki dan tangan tidak bisa diam, bergerak terus. Usia belum seminggu, posisi tidur sudah bisa geser-geser kemana2.

Usia 10 hari, posisi tidurnya miring sendiri. Usia 3,5 bulan, sudah bisa tengkurap sendiri dari posisi telentang. Usia 4 bulan, sudah bisa guling-guling keliling kasur. Hingga tiba-tiba Shita mulai kejang tanpa demam (cerita kejang Shita ada di sini). Karena diagnosa epilepsi, Shita harus konsumsi obat anti epilepsi (OAE) setiap hari sejak usia 5 bulan.

Pada usia 6 bulan, saya mulai menyadari ada masalah pada Shita. Setiap digendong tegak, atau diposisikan duduk, kepala masih terlempar ke belakang seperti bayi kecil. Lehernya belum kuat. Jadi setiap digendong, masih harus leher masih harus ditopang. Menurut saya ini aneh, karena Shita sudah pintar tengkurap dan guling-guling. Logikanya sih, seharusnya lehernya sudah cukup kuat untuk menahan kepalanya.

Mulailah saya tanya-tanya dan cari-cari tempat terapi, sambil konsentrasi soal makan dan berat badan Shita yang juga bermasalah (untungnya saat itu masalah epilepsi sudah teratasi). Tapi belum juga dapat yang cocok. Hingga usia 8 bulan, Shita dirawat di RSIA Bunda dan saya ketemu dokter rehabilitasi medik pediatrik, dr. Luh K. Wahyuni. Setelah dievaluasi oleh dr. Luh, saya dikasi peer latihan untuk Shita dan disarankan untuk fisioterapi. Karena malas cari-cari lagi, saya akhirnya daftarkan Shita untuk fisioterapi di RSIA Bunda (walau sebenarnya jauh dari rumah). Kami dapat jadwal 2x seminggu. Hasilnya lumayan, kepala mulai tegak, jadi kalau digendong lehernya mulai kuat menahan kepalanya.

Karena Shita juga sudah lebih sehat, saya daftarkan juga Shita untuk sekolah di GymnAdemics Serpong. Saya sebut sekolah, karena masuknya setiap hari, 5 hari seminggu, Selasa-Sabtu. Programnya sih berbagai stimulasi untuk perkembangan otak, termasuk nge-gym alias aktivitas fisik sesuai perkembangan anak. GymnAdemics mengadopsi metode Glenn Doman ke dalam kurikulumnya. Di sinilah pertama kali saya berkenalan dengan metode Glenn Doman, walaupun baru permukaan saja.

Baru sekitar sebulan fisioterapi ditambah 2 minggu sekolah, Shita kembali mendapat serangan kejang, langsung setiap hari. Selama masa penyesuaian dosis obat, Shita menjadi sangat lemas, lebih banyak melamun, dan banyak tidur. Akhirnya saya putuskan stop fisioterapi dan cuti sekolahnya sambil menunggu kondisi Shita kembali stabil.

Setelah cuti sekolah 2 bulan, saya putuskan untuk membawa Shita kembali sekolah. Sepertinya dia sudah siap untuk distimulasi lagi. Saya tidak ikutkan lagi Shita fisioterapi supaya tidak terlalu lelah. Sambil tiap hari sekolah dan lanjut stimulasi tambahan di rumah, saya melihat ada perubahan pada Shita, terutama responnya terhadap rangsangan. Sudah mulai tertawa saat diajak bercanda (walau belum konsisten), mulai menangis kalau ditinggal sendirian (biasanya cuek saja). Untuk motoriknya, Shita sudah mulai tertarik meraih benda-benda di hadapannya, diambil, untuk kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya (usia 11 bulan).

Tapi tetap saya merasa perkembangannya masih lambat. Motorik kasar masih di fase guling-guling, Shita masih tidak perhatian terhadap binatang-binatang yang berkeliaran di sekitar rumah (anjing, kucing, burung, dsb).

Curhatlah saya pada Bubun Irene F. Mongkar, pemilik Gymnademics Serpong. Oleh Bubun, saya disuruh baca buku tulisan Glenn Doman, “What To Do With Your Brain Injured Child” atau versi Indonesianya, “Apa Yang Dapat Dilakukan Pada Anak Anda Yang Cidera Otak”. Langsung saya beli bukunya dan mulai saya baca.

Bab-bab awal lebih banyak menceritakan tentang sejarah awal mula Glenn Doman, seorang terapis fisik, mulai berkenalan dengan keajaiban otak manusia dan bersentuhan dengan anak-anak dengan cidera otak. Namun di bab-bab berikutnya, saya menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan yang selama ini tidak bisa dijawab oleh berbagai dokter yang saya temui. Saya merasa tercerahkan bahwa otak manusia, terutama otak anak, sangat-sangat fleksibel dan sangat bisa berkembang optimal asal stimulasinya tepat. Saya bersyukur bisa membaca buku ini, karena kini mata saya terbuka, ada harapan buat Shita.

Buat para orang tua yang bingung mendengar vonis dokter tentang kondisi anak, dibilang anaknya nanti hanya akan bisa tiduran saja, coba deh baca buku ini. Saya tidak menyalahkan dokter yang menyampaikan informasi sesuai dengan yang mereka pelajari selama ini. Karena dokter-dokter itu belum pernah mengalami membesarkan anak yang spesial, seperti Shita.

Yang ingin pesan bukunya, bisa langsung klik disini. Mudah-mudahan bisa ikut terinspirasi dan jadi lebih semangat dalam menstimulasi putra-putri tersayang.

Detil stimulasi untuk Shita dilanjutkan di artikel berikutnya yaaaa…

Share Button

Incoming search terms:

One thought on “Delay atau Keterlambatan Tumbuh Kembang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *