Tes EEG pada Epilepsi

eeg pada kejang epilepsi
Bila anak anda pernah mengalami kejang lebih dari satu kali, baik kejang demam maupun kejang tanpa demam, pasti pernah diminta untuk melakukan tes EEG oleh dokter. Shita juga diminta melakukan tes EEG karena kejang tanpa demam berulang kali. Bahkan hingga saat tulisan ini dibuat, Shita sudah 4x melakukan tes EEG. Sebenarnya apa sih EEG? Seberapa penting melakukan EEG tersebut?

Tes EEG (electroencephalogram) adalah tes yang dilakukan oleh dokter untuk membantu penegakan diagnosa epilepsi. Cara kerjanya adalah merekam aktivitas listrik di otak. Hasil dari tes EEG, selain untuk menegakan diagnosis, juga membantu dokter menentukan terapi yang tepat.

Apa yang terjadi saat tes EEG?
 Otak kita secara teratur memproduksi sinyal-sinyal listrik. Selama EEG, elektroda (lempengan logam kecil) yang dipasang di kulit kepala akan menangkap sinyal-sinyal listrik dari otak dan mesin EEG akan merekamnya. Elektroda ini hanya menangkap sinyal listrik, tidak akan memberikan pengaruh apa pun pada otak dan tidak menimbulkan rasa sakit.

Sinyal listrik yang direkam terlihat seperti garis bergelombang yang menggambarkan pola gelombang otak. Tes EEG hanya menggambarkan gelombang otak pada saat perekaman saja. Bila EEG dilakukan di waktu yang berbeda, pola gelombang otak yang terekam juga bisa berbeda.

Tes EEG tidak bisa memberikan informasi tentang kerusakan pada otak. Tes ini hanya memberikan informasi tentang aktivitas listrik dalam otak.

Prosedur EEG

Tes EEG biasanya dilakukan di rumah sakit. Pada pasien anak, biasanya diminta tes EEG pada saat tidur, terutama bila kejang sering terjadi pada saat tidur atau menjelang bangun tidur. Kadang-kadang saat kita sadar, gelombang otak kita normal, tapi saat kita tidur, justru tampak gelombang-gelombang listrik yang tidak biasa.

eeg pada kejang dan epilepsiSaat tes, anak diminta untuk duduk atau berbaring. Kepalanya akan ditempel 20-30 elektroda dengan sejenis pasta. Elektroda-elektroda ini dipasang pada posisi tertentu di kepala, yang artinya setiap elektroda merekam aktivitas listrik dari area tertentu yang berbeda-beda di otak. Jadi saat dokter membaca hasil EEG, dokter dapat menentukan pada otak bagian mana aktivitas listrik yang abnormal berasal.

Sinyal listrik dari otak dikonversi menjadi garis bergelombang pada layar computer. Bila tidak tidur, anak akan diminta untuk berbaring diam karena gerakan dapat mempengaruhi hasil EEG.

Saat tes, anak biasanya diminta untuk melihat kilatan cahaya atau bernafas dengan cara tertentu, misalnya bernafas lebih dalam. Aktivitas ini bisa mengubah aktivitas listrik di otak dan digunakan untuk membantu dokter menegakkan diagnosis. Teknisi EEG biasanya sudah mengetahui riwayat kesehatan anak sehingga sudah siap bila terjadi serangan kejang saat tes sedang berlangsung.

Persiapan Tes EEG

Tes EEG hanya bisa dilakukan dengan perjanjian, karena memerlukan persiapan dan teknisinya terbatas. Bila anak anda akan melakukan EEG, persiapannya sederhana. Rambut sebaiknya sudah dicuci bersih dan bebas dari minyak dan conditioner untuk membantu elektroda menempel sempurna pada kulit kepala.

Selain itu, dokter mungkin akan merekomendasikan anak untuk tidak minum obat tertentu sebelum tes karena dapat mempengaruhi hasilnya.

Bila anak harus tidur sepanjang EEG, anak bisa diajak tidur lebih larut dan bangun pagi lebih awal supaya bisa tidur saat dilakukan tes. Sedapat mungkin tidak menggunakan obat tidur, kecuali sangat terpaksa.

Bekas pasta untuk menempel elektroda akan membuat rambut lengket dan berminyak. Tidak ada salahnya mempersiapkan peralatan mandi agar anak bisa langsung cuci rambut setelah rangkaian tes selesai.

Hasil EEG

Hasil tes EEG sebenarnya bisa langsung dicetak, namun dokter perlu waktu untuk membaca hasil tes agar diagnosanya juga lebih akurat. Ketika tes EEG mencatat aktivitas listrik yang tidak biasa, terlihat dari bagian otak yang mana aktivitas listrik itu berasal. Dari pola gelombang otaknya, juga bisa dilihat tipe kejangnya.

Pada sebagian besar penderita epilepsi, aktivitas listrik abnormal hanya terjadi saat sedang kejang. Kalau hasil tes menunjukkan aktivitas listrik yang normal, maka tidak ada kecenderungan epilepsi saat tes dilakukan. Namun ini bukan berarti tidak akan ada aktivitas yg abnormal di saat-saat lainnya. Hasil tes yang normal tidak serta merta menyimpulkan anda tidak epilepsi.

Ada orang dengan jenis epilepsi tertentu akan memiliki aktivitas listrik abnormal pada otaknya sepanjang waktu, walaupun tidak sedang kejang. Ketika dilakukan tes EEG, hasilnya akan menunjukkan pola gelombang otak tertentu. Informasi ini sangat membantu dokter untuk menegakkan diagnosis. Contohnya adalah anak yang menderita absence seizures.

Sejumlah kecil orang bisa mempunyai hasil tes EEG abnormal, walaupun mereka tidak pernah kejang dan tidak didiagnosa epilepsi. Ini bisa saja disebabkan oleh kondisi medis tertentu seperti encephalitis (pembengkakan pada otak) atau vertigo. Ada juga yang memiliki gelombang otak abnormal turunan dari orang tua, walaupun tidak mengidap epilepsi. Jadi hasil EEG abnormal tidak selalu artinya kita menderita epilepsi.

Kesimpulannya, tes EEG bukan untuk menentukan seseorang mengidap epilepsi atau tidak. Tes EEG hanya merupakan tes pendukung untuk membantu dokter menegakkan diagnosis atau menentukan terapi yang tepat.

Perlukah Tes EEG Rutin?

Tes EEG hanya dilakukan sesuai kebutuhan, tidak perlu dilakukan secara rutin. Dokter mungkin akan meminta tes EEG ulang bila ada rencana untuk menurunkan dosis obat, atau hasil observasi menunjukkan adanya perubahan pola dan bentuk kejang. Walau pun tes ini tidak ada efek samping, biayanya cukup besar, sehingga sebaiknya dilakukan hanya bila diperlukan.

Pengalaman EEG Shita

Seperti yang telah disebutkan di awal, Shita sudah 4x melakukan tes EEG, 2x di Indonesia, tepatnya di RS Premier Bintaro, dan 2x di National University Hospital (NUH), Singapura.

Tes EEG pertama dilakukan saat Shita berusia 5 bulan. Tes berhasil dilakukan tanpa obat tidur, cukup sambil menyusui sudah bisa membuat Shita tidur dan tenang selama tes berlangsung. Namun pada tes yang kedua di usia 10 bulan, Shita diberikan obat tidur. Hanya saja obatnya tidak bertahan lama. Elektroda baru saja selesai dipasang, Shita sudah bangun. Akhirnya tes dilakukan dalam keadaan sadar dan Shita banyak bergerak. Hasilnya pun terlihat normal. Padahal alasan dilakukan EEG yang kedua adalah serangan kejang Shita yang muncul lagi dengan frekuensi lebih sering, setelah selama 3 bulan sebelumnya Shita sudah bebas kejang dengan bantuan obat.

Tes EEG yang ketiga dan keempat, masing-masing dilakukan pada usia 12 bulan dan 18 bulan. Pada tes ini, Shita berhasil tidur tanpa obat, karena diajak begadang saat malam, dan dibangunkan pagi-pagi sekali, sehingga saat tes dia sudah lelah dan tertidur. Di NUH, durasi tesnya juga lebih lama. Perekaman gelombang otak dilakukan saat Shita tidur dan juga saat Shita bangun. Dilakukan rekaman video juga, jadi dokter bisa membandingkan pola gelombang otaknya dengan gerakan tubuh Shita saat kejang terjadi. Pada tes ini terlihat bahwa gerakan Shita yang seperti orang kaget saat tidur itu, ternyata adalah salah satu bentuk kejang, yaitu myoclonus jerk.

Perlu diingat bahwa ada orang yang hasil EEGnya abnormal, tapi tidak epilepsi karena tidak pernah mendapatkan serangan kejang. Sementara itu ada juga orang dengan epilepsi, tapi hasil EEGnya justru normal.

Itu sebabnya tes EEG tidak mendiagnosa epilepsi. Dokter mendiagnosa epilepsi dari observasi, anamnesis, dan berbagai tes lain, termasuk tes EEG.

Share Button

Incoming search terms:

59 thoughts on “Tes EEG pada Epilepsi

    1. aaayua Post author

      EEG abnormal artinya pola gelombang otaknya tidak pada orang lain pada umumnya. Tapi yang tahu detil tentang abnormal dan seperti apa yang abnormal itu tentu dokter syaraf. Jadi sebaiknya memang diskusikan dengan dokternya.

      Reply
  1. lidya

    Dok saya bertanya anak saya berusia 13blan mengalami muntah2 slama krng lebih 2hari dan hri ke 3 mntahnya berhenti,lalu anak saya tiba2 kejang tanpa demam,lalu sya bawa k rs,dkter myran kan untuk EEG,apakah mnurut dkter saya harus lakukan?mhon pencerahanny dok,trima kasih

    Reply
    1. aaayua Post author

      Dear mba lidya,

      Saya bukan dokter hehe…
      Kejang tanpa demamnya baru sekali?
      Kejang tanpa demam itu tidak selalu epilepsi, apalagi anaknya mba lidya baru sembuh muntah2.
      Coba minta dievaluasi dulu kira-kira penyebab kejangnya apa.

      Kalau kejang tanpa demamnya berulang tanpa penyebab yang jelas, baru lakukan EEG untuk penegakan diagnosa.
      Itu menurut saya sih. Atau kalau masih ragu, coba cari pendapat dokter lain.
      Semoga dapat solusi terbaik buat anaknya ya…

      Reply
  2. echaimutenan

    Halo mba,
    lagi cari info ttg eeg ini, rencananya minggu ini eeg
    semoga shinta selalu sehat ya^^
    saya juga kena kejang setelah melahirkan ini mau di eeg karena g ada riwayat kejang atau epilepsi
    makasih ya infonya. semoga kita semua selalu sehat

    Reply
  3. Intan Padia Lestari Akbar

    Dokter Dapatkah saya bertanya kepada anda? Apakah yang dimaksud dengan dengan epilepsi abnormal III pada bagian lobus temporal kiri di T6-T8 dengan waktu kejang 15 menit? Mohon bantuan penjelasannya dokter terima kasih. 🙏

    Reply
  4. Yani

    Mbak mau tanya, kalau boleh tau shinta itu kejangnya kira2 brp lama ya? N terjadi pada saat apa biasanya? Terimakasih

    Reply
    1. aaayua Post author

      Hai mba Yani,
      Shita sekarang kejang hanya sedetik dua detik. Tapi masih muncul setiap hari.

      Paling sering muncul kalau ngantuk berat atau kecapekan. Tapi kadang pas main biasa juga kambuh.

      Reply
  5. Dewi Melva

    Dok, saya mau tnya. Nama saya Dewi punya anak umur 7 bulan lebih 6 hari. Saat anak saya umur 5 hari, dia di rawat tgl 21 Juni 2016 karena diare akut. Dirawat di HarKit selama 7 hari. Saat hari ke-2, anak saya kejang2. Lalu saya tny ke dokternya, dia blg blm tau penyebab kejangnya. Lalu saat pulang dari HarKit, saya dikasih rujukan untuk test EEG. Kemudian saya test EEG pada 26 Agustus 2016 di RSUD Cengkareng, hasil test saya ambil tgl 16 Januari 2017 karena kata petugasnya Hasilnya baru keluar di Desember 2016. Kesimpulan test EEG : Ada perlambatan di Parioti Occipita bagian kiri. Kemudian dokter anak RSUD Cengkareng memberikan rujukan kembali ke HarKit, karena katanya data-data awal anak saya ada di Harkit.
    Anak saya kejang hanya pas di rawat inap saja, setelah itu tidak lagi. Kenapa anak saya wkt itu bisa kejang padahal lahir di caesar, dan tidak ada riwayat turunan kejang2.

    Reply
    1. aaayua Post author

      Dear mba Melva,
      Maaf saya bukan dokter. Hanya orang tua dengan anak epilepsi.

      Kalau dari cerita mba, ada kemungkinan kejangnya karena kekurangan elektrolit akibat diare.
      Bukan berarti lahir caesar pasti ga akan kejang mba. Penyebab kejang itu banyak, bisa cidera otak yang terjadi saat kehamilan, saat proses kelahiran, maupun setelah lahir. Bisa juga karena gula darah yang sangat rendah, dan masih banyak penyebab lainnya.

      Kalau ga pernah kejang lagi, ga usah terlalu dipikirkan. Mudah-mudahan anaknya sehat terus ya…

      Reply
  6. Aa

    Hallo mba,semoga shinta dlm keadaan baik yaa..
    Saya mau tanya ni mba,kejang yg dialami shinta ditandai dg lemas terlebih dahulu kah? Lalu apa yg anda lakukan hingga kejang shinta tdk kmbuh lagi?terimakasih…

    Reply
    1. aaayua Post author

      Hai juga…
      Shita lemasnya setelah kejang, dan biasanya tidur karena capek.
      Sekarang Shita rutin minum obat dari dokter dan terapi alternatif juga.

      Reply
      1. yelin

        Mbak mw tanya terapi alternatif shita itu sprti apa soalnya anak sy jg jg sering kejang n d.Nyatakan dokter klo dy epilepsi…
        anak saya hanya d.Berikan obat sj…

        Reply
        1. aaayua Post author

          Dear mba yelin,

          Terapi alternatif itu beragam dan cocok-cocokan. Ada yang hanya terapi obat saja sudah sembuh, ada yg perlu tambahan alternatif.

          Untuk shita, saya udah coba berbagai terapi alternatif, tapi tetep masih ada kejang. Ada terapi yg saya tinggalkan, ada yg masih dijalankan sampai sekarang, dengan pertimbangan, walau masih kejang tapi terapi tersebut membantu shita tetep sehat.

          Terapi yg pernah dicoba shita akupuntur, bioresonansi, osteopathy, homeopathy, pijat.

          Reply
  7. Ajeng Kartika

    Mba, kalau boleh tau saat kejang anaknya sadar atau tidak? Trus kalau anak dialihkan ke hal lain dia merespon atau masih tetep kejang? Kejangnya pada posisi tertentu apa gmn mba?
    Maaf banyak bertanya, anak saya juga suka kejang.
    Waktu dibawah 3 bulan, kalau tidur suka kayak yg kaget. Diatas 3 bulan kalau di simpan di stroller dia suka kejang2 sampe berkeringat dan tiba2 langsung tidur. Setelah mpasi kalau di gendong pakai gendongan/ tanpa gendongan suka kejang jg tp ga selalu. Kalau di dudukin di booster seat juga.
    Terimakasih sebelumnya atas sharingnya Mba

    Reply
    1. aaayua Post author

      Shita awal kejang selalu saat baru-baru tidur. Tapi makin besar kejangnya bisa kapan saja di mana saja, saat digendong, lagi main, sedang makan, saat mandi, dsb.

      Kalau kejang biasanya tidak bisa dialihkan. Pernah saya ragu shita kejang atau tidak. Saat tangan gerak-gerak, saya kucurin air ke tangannya dan tidak ada respon sama sekali, gerakannya tetap sama sampai berhenti sendiri. Kalau dikasi stimulan, anaknya merespon, kemungkinan itu bukan kejang.

      Semoga membantu ya…

      Reply
  8. ELizabeth

    thanks banget sharingnya..
    saya juga punya anak yang sering kejang, sekarang usia hampir 4 tahun. dari 3 x EEG hasilnya sama..normal (memang EEG d tempat yang sama)
    Kalo boleh tau, jasil EEG Shita yang 1 & 2 apakah normal? kemudian yang ke 3&4 dinyatakan epilepsi begitu?Treatment yang sekarang didapat apa ya?
    Anak saya minum obat nya depaken 2 x 1 sdt dan riklona. Bulan Februari ini tgl 5 kmrn kejang (tanpa panas, dan kejangnya 2x dalam 5 menit, dan kompleks. Kmdn tgl 17 kmrn kejang lagi karena dehidrasi akibat diare.
    Mari kita tetap semangat ya.. 🙂

    Reply
    1. aaayua Post author

      Dear elizabeth,
      EEG shita yg normal hanya yg kedua. Yg pertama, ketiga, dan keempat semua abnormal.
      Sekarang minum obat keppra dan clobazam. Sementara sih treatmentnya masih obat, jaga makanannya, dan terapi alternatif akupuntur.

      Harus semangat dong. Mudah2an anak sehat terus ya…

      Reply
  9. Vruby

    Hai mama shita , salam kenal … Anak saya 3th 2minggu ke belakang sempat kejang tanpa demam kmudian dibawa ke igd salah satu rmh skt lalu didiagnosis epilepsi dan diberi rekomendasi untuk eeg … Sdh eeg dan hasilnya abnormal III dan dikatakan menunjang diagnosis klinis nya … Kejangnya baru skali itu saja dan anaknya sehat saja padahal terlihatnya … Semangatin saya dong mba sebagai sesama ortu anak suspect epilepsi , anak kita bakal sembuh total kan y dengan perawatan 😭😭😭

    Reply
    1. aaayua Post author

      Dear mba vruby,
      Kalau baru sekali kejang tanpa demam, sebenarnya belum bisa didiagnosa epilepsi. Sepengetahuan saya, diagnosa epilepsi kalo kejang tanpa demam 2x atau lebih dalam 1 tahun.

      Banyak kok yg dengan pengobatan yg tepat, anak bisa sembuh total… Sebaiknya cari second opinion untuk memastikan diagnosanya, sehingga pengobatannya pun sesuai kondisi anak.

      Reply
  10. Bunda Khenzie

    Hai mama shita…
    Dl shita ny pertama kali kejang tanpa demam umur brp ya? Slm terapi pengobatan…konsumsi obat ap? Soalny anak saya jg diduga epilepsi…pertma kejang usia 3 bulan…tanpa eeg cm diterapi obat valporid acid…skrg sdh 1thn 4 bln…jd sdh setahun pas minum obat itu..disuruh dokterny untuk eeg dalam minggu ini…selama terkontrol obat…gak pernah kambuh kejang ny… gmn ya ap bnr anak sy epilepsi?ap bs sembuh total y mbak? Ksihan kl hrs minum obat trs…kondisi anak ny normal mbak…ceria…kyk gak mnderita skit ap2 gt…tlng bantu info2 pengalamanny y mbak ….

    Reply
    1. aaayua Post author

      Hai bunda khenzie…
      Shita pertama kali kejang tanpa demam di usia 4 bulanan (lupa persisnya).
      Cerita detilnya bisa lihat disini, http://ayuarini.com/2015/07/anakku-kejang/

      Sekarang konsumsi keppra dan clobazam.
      Khenzie usia 3 bulan kejang tanpa demam?

      Tata laksana epilepsi memang 2 tahun bebas kejang baru boleh stop obat. Kenapa? Kalau sudah 2 tahun bebas kejang, setelah lepas obat, kemungkinan kambuhnya kecil sekali. Tapi biasanya dokter punya pertimbangan sendiri. Bisa saja setelah 1 tahun bebas kejang dan hasil EEG bagus, dokter memutuskan dosis obat bisa mulai dikurangi.

      Untuk tahu apakah benar epilepsi, apakah sudah coba second opinion? atau malah third opinion?
      Soal sembuh total, ada kok yang bisa sembuh total. Ada anaknya temen, dulu kejang belasan kali sehari, setelah minum obat, kejangnya terkendali. Minum obat 3 tahun, akhirnya bisa lepas obat. Kayaknya udah setahun lepas obat dan ga pernah kambuh lagi, mudah-mudahan untuk seterusnya.

      Yang sabar dan tetap semangat ya….

      Reply
  11. Arif Rachmanda

    Mama shita, pendapatnya mba.
    Anak saya waktu usia 8 bln pas mau keluar campak sempet kaya kejang kaget. Saya pikir cuma kaget biasa atau faktor demam,
    Dan setelah malam berlanjut setiap tidur selalu kaget dan langsung nangis. Disaat mau merem lagi seperti trauma untuk merem. Mungkin takut kaget lagi . pas jam 21:30 kejang hebat dengan durasi 2 menit. Saya bawa ke rs dan di rawat slama 3 hari.
    Setelah pulang dri rs selama 1 bln mengalami kejang kaget lagi. Dan di beri obat kejang dalam bentuk puyer. Slama 1 bln, di kemudian hari anak saya demam lgi dan terjadi seperti itu saya bawa ke rs igd dokter igd saran untuk melakukan eeg biar tau kejang nya faktor apa.
    Dan saya berobat lgi ke spesialis anak dan saya tanya soal kaget yg seperti kejang dan saya tunjukan rekaman nya. Dokter memberi obat valproic acid dan menyarankan untuk eeg.
    Apa mungkin anak saya punya epilepsi ?
    Oiya klo pas eeg anak nya ga tidur pas eeg gmn ya mba?

    Reply
  12. Novia

    Mbak salam kenal ya.
    Terima kasih sudah sharing info soal kejang Shinta.
    Semoga sehat selalu ya mbak.
    Mba, kl boleh saya bertanya, kaget saat tidur itu yang seperti apa ya? Apa ada video yg bisa disharing juga mbak?
    Anak saya pernah kejang demam, trus 6bulan kmudian kejang tnap demam (sebelmnya muntah hebat, sampai igd dibilang kejang sama dok igd). Sampai sekarang sudah 8bulan ga pernah kejang lagi. Sdah eeg juga hasil normal.
    Tapi saya baru baca ada kaget wkt tidur itu disebut kejang. Kl boleh sharing info mbak soal kejang yang kaget waktu tidur itu sperti apa biar saya bisa observasi juga
    Makasih ya mbak.

    Reply
    1. aaayua Post author

      Kejang yang kaget itu durasinya sangat pendek, sepersekian detik, jadi seperti kaget.
      Kalau saat tidur itu agak susah diidentifikasinya, karena bisa aja kaget beneran atau sedang mimpi.
      Selama kagetnya tidak berulang di waktu yang sama, atau hanya muncul sekali-sekali, seharusnya bukan kejang.
      Coba observasi aja dulu ya…

      Reply
  13. adria

    Wkt anak sy 2th kena kejang krn panas 2x sebentar durasinya lalu usia 17 kejang untuk prtamakalinya. Sudah 1x dieeg dan skrg minum penitoin sdh 1th ini.pertanyaan sy apakah pengatuh dari sering kejeduk kepala krn terpeleaet diubin? Makasih ya mbak

    Reply
    1. aaayua Post author

      Hai mba adria,
      Berarti sekarang waktu kejang tanpa demam pertama kali anaknya usia 17 tahun? Apakah diagnosanya epilepsi dari dokter?

      Sebenarnya kalo kejedug kepala itu relatif. Kalau sampai menyebabkan trauma dan cidera pada otak, iya bisa menyebabkan epilepsi. Tapi banyak juga kasus kejedug yang tidak menyebabkan trauma berat. Jadi tergantung setiap kasus sih, dampaknya pasti berbeda pada setiap orang.

      Reply
  14. Maya

    Mbak salam kenal.. Anak sy 20bln. Hasil eeg didiagnosa absence seizure. Tp sy amati anak sy gak bengong2 kyk absence seizure. Cuman pas tidur anak sy sering kaget gitu. Anak sy jg GDD mb. Mohon infox. Makasih

    Reply
    1. aaayua Post author

      Hai maya, salam kenal juga.
      Kalau anak bengong, saat dia bengong dipanggil atau ditepuk, biasanya bereaksi kan.
      Kalau absence seizure, saat dia bengong, dipanggil, ditepuk, ditempelin es batu, tetep tidak akan bereaksi.

      Coba aja ketik absence seizure di yutub, banyak contoh video disana, bandingkan dengan anaknya.
      Apakah sudah EEG? Hasilnya gimana?

      Reply
  15. Bayu Priantoro

    Dear Ibu Ayu…

    Saya memiliki Anak laki laki usia 1 tahun – 1 bula n.Awalnya Kondisi anak saya sehat dan tidak ada tanda – tanda sakit apapun. Lalu suatu ketika, Anak saya Jatuh sakit, Panas tinggi hingga 40°C. Lalu saya bawa ke Dokter dan diberi Obat Penurun Panas lewat Dubur. Kemudian kondisi Anak saya kembali normal, Sehat seperti biasanya. Seiring berjalannya waktu di usia 1 Thn, Anak saya kembali Sakit. Awalnya muntah – muntah, serta Panas 37°C, disertai Kejang sesaat. Langsung kami bawa ke UGD. Penanganan Awal oleh Dokter Jaga, di beri obat Kejang lewat Dubur, dan harus Opname 2 – 3 Hari di RS. Setelah itu di berikan Resep Obat kejang STESOLID oleh Dokter Yg menangani Anak saya waktu itu. Saran dr Dokter tsb, Harus dikonsumsi sampai habis. Namun sebelum obat tsb Habis di konsumsi, timbul masalah baru pada kondisi Anak saya. Dia sering Terlihat lemas, Lesu, keluar Air Liur terus menerus tidak terkontrol kadang, seperti ada yg mengganjal di area saluran Nafas nya, serta Puncaknya Anak saya seperti Melamun dengan tatapan mata kosong tanpa respons untuk beberapa detik. Akhirnya kami bawa kembali ke UGD. Dan Dokter Sampaikan kepada kami, bahwa kondisi anak saya sudah Kejang. Akhirnya anak saya ditangani kembali, dan harus Opname yg kedua kalinya dibulan yg sama.

    Dokter yg menangani anak saya menyarankan untuk Test EEG, akhirnya saya ikuti saran Dokter tsb, lalu Hasilnya adalah EEG status ABNORMAL 1.

    Dokter yg menangani anak saya memberikan solusi berupa terapi pencegahan dengan Konsumsi Obat VALEPTIK VALPROIC ACID Selama 2 Thn.

    Terus terang saya Shock mengetahui bahwa Anak saya harus konsumsi Obat selama 2 Thn tanpa ada Garansi kesembuhan 100 %. Dokter menyatakan bahwa anak saya terindikasi Epilepsi.

    Padahan di keluarga saya & Istri tidak ada satupun yg punya riwayat Epilepsi.

    Yg ingin saya tanyakan ke Bu Ayu, 1. apakah Kondisi Anak saya ( keluar Air Liur terus menerus tidak terkontrol kadang, seperti ada yg mengganjal di area saluran Nafas nya ) pernah dialami juga…?

    2. Apakah Ibu Ayu juga pernah melakukan Test MRI
    Jika pernah, apakah hasilnya bagus..?

    Mohon pencerahannya.. Salam

    Reply
    1. aaayua Post author

      Salam kenal pak Bayu,

      Terkait pertanyaan yg pertama, shita ga pernah berliur berlebihan, tapi yg mengganjal di saluran nafas, sekarang masih begitu pak. Kalau di shita, saya curiga itu efek samping obatnya, karena sebelumnya tidak begitu.

      Tapi reaksi obat pada tiap anak beda ya pak. Ganjalan di saluran nafas anak bapak mungkin beda penyebabnya dgn Shita.

      MRI pernah pak, waktu shita usia 7 bulan. Hasilnya memang ada atrofi pada otak, atau bahasa dokternya, otaknya belum berkembang sempurna, dan sepertinya itu penyebab delaynya.

      Bapak konsultasi dengan dokter saraf anak? Domisili dimana?

      Reply
  16. P Sawung Akbar

    Salam kenal ibu Ayu
    Anak saya berusia 2th 9 bulan, beberapa hari yg lalu tepatnya hari Jum’at pagi tanggal 04 Agustus 2017 anak saya tiba2 kejang (tanpa demam) pada saat masih tidur, badan kaku dan mata melihat ke atas, tentu saja saya sangat panik sekali karena baru pertama kali anak saya kejang.
    Siangnya saya bawa anak ke dokter spesialis anak, saya ceritakan kejadian ke dokter, tanpa memeriksa anak saya dokter langsung nyaranin tes EEG, katanya takut epilepsi krn kejang tanpa demam. Dokter minta saya untuk memvideokan anak saya pada saat kejang. (disini saya agak bingung, saya datang ke dokter itu untuk berobat dan agar tau kenapa anak saya kejang, dan yg paling penting jangan sampai kejang lagi, lah ini malah disuruh memvideokan kalau lagi kejang).
    Sore harinya anak saya tiba2 bengong krn kaget, diajak ngomong, saya panggil2 tidak merespon, lalu tiba2 anak saya lemas dan tertidur.
    Berhubung mertua saya masih percaya dgn hal2 gaib, dipanggilah orang pintar untuk mengobati anak saya, kata orang pintar anak saya kena ganggu mahluk halus/kesambet.
    Menurut ibu Ayu, perlukah anak saya tes EEG krn anak saya cm kejang sekali, sampai sekarang tanggal 07 Agustus tidak kejang lagi.
    Rencananya besok pagi anak saya mau tes EEG.
    Terima kasih sebelumnya bu

    Reply
    1. aaayua Post author

      Salam kenal pak,
      Kalau kejang baru sekali, menurut saya belum perlu eeg. Tapi dari cerita bapak yang anak bapak tiba2 bengong tanpa respon dan setelah itu lemas, bisa jadi itu kejang juga. Ada tipe kejang yang memang hanya bengong, namanya absence seizure. Bisa cari videonya banyak di yutub.

      Dokter minta video, biasanya untuk memastikan apakah itu benar kejang, dan melihat bentuk kejangnya seperti apa. Hal ini membantu diagnosa, karena dokter tidak melihat langsung anak kejang.

      Reply
  17. andre

    slamat malam ibu ayu ..
    anak saya berusia 2 thn 6 bulan ..kemarin anak saya diare akut minum susu muntah..bab cair.. habis bab dia kejang tanpa demam untuk pertama x nya skitaran 15 dtk ..kami panik tapi di perjalanan dia sadar kmi bawa ke 3 RS ..Rs 1 kemungkinan besar kekurangan elektrolit karena diare..Rs 2 lagi tidak ada dokter .Rs 3 diagnosis primer ..diare akut… diagnosis ..skunder susp epilepsi.. opname masuk Rs tgl 6 agustus jam 21.00 .tgl 8 agustus sudah boleh pulang…
    yang mau saya tanyakan kami di berikan surat control ..apakah perlu untuk tes EEG.?
    jika dalam tes EEG abnormal apakah bisa dikatakan epilepsi ?
    Bisa kah epilepsi sembuh total ?
    atas jawabanya terimakasih ibu ayu.

    Reply
    1. aaayua Post author

      Salam kenal pak andre,

      Karena baru sekali kejang tanpa demam, apalagi ada penyebabnya yaitu kekurangan elektrolit, menurut saya sih belum perlu EEG.

      Kalaupun EEG dan hasilnya abnormal, tetap belum bisa disebut epilepsi. Dapat diagnosa epilepsi apabila terjadi dua kali atau lebih kejang tanpa demam atau tanpa penyebab lain, dalam kurun waktu satu tahun.

      Mudah2an bisa menjawab ya pak. Sehat terus buat bapak dan keluarga.

      Reply
  18. vernando

    hallo mbak ayu, saya mau tanya ni, anak saya umur 7 bulan sudah 5 kali lemas mendadak, yg katanya lemas itu juga termasuk bagian dari kejang, setelah periksa ke dokter, dokter menyarankan tes eeg. tes eeg dilakukan 10 hari lagi, tapi dokter nya udah ngasih resep obat (luminal 30 butir sama sirup vitamin ) diminum mulai dari sekarag, apakah boleh itu mbak ayu? yang saya ragukan hasil eeg aja belum ada,kenapa udah harus minum obat,sementara dari tulisan mbak ayu di atas “dokter mungkin akan merekomendasikan anak untuk tidak minum obat tertentu sebelum tes karena dapat mempengaruhi hasilnya.” jadi gima donk mbak ayu..

    Reply
    1. aaayua Post author

      Dear vernando,

      Kalau sudah 5x mendadak lemas dan menurut dokter itu kejang (asumsi saya kejang tanpa demam), berarti sudah bisa disebut epilepsi dan memang mulai minum obat untuk mencegah terjadinya kejang lagi.

      EEG tetep dilakukan untuk memahami lebih lanjut tipe epilepsinya.

      Reply
  19. sendy

    Hi Mbak Ayu…Salem kenal…

    Seneng sekali ketemu blog ini jadi bisa tanya2..
    Anak saya 3 bulan, pertama kali kejang di hari ketiga dia lahir. Pas imunisasi pertama sempet ke salah satu dokter yang lgsg diagnosa ini itu bahkan sempat disuruh test darah (saat itu Omar baru 2 minggu). Suami saya marah2 hingga akhirnya kami pindah dokter.
    DI dokter kedua disarankan untuk observasi dulu 1 – 2 bulan karena 2 minggu masih terlalu dini untuk diagnosa bayi terkena ini itu. Waktu itu dokter bilang kemungkinan itu adalah saraf primitifnya.

    Saat imunisasi DPT (Umur 2 bulan) dilihat lagi ternyata masih suka kejang meski frekuensinya berkurang dari saat dia masih 1- 2 bulan.
    Biasanya kejangnya hanya saat dia tidur aja mbak..
    Kemis ini rencananya saya mau EEG, cuman sebelumnya mau tau apa dulu Shita juga begitu ya?

    Makasih sebelumnya ya mbak…

    Reply
  20. Cien

    Terimakasih artikelnya mba ayu. Anak sy 5 thn, kejg tanpa demam. Kejang pertama januar tgli 2,kejang ke 2 mei tgl 19, mei 24,kejang ke 3 tanggal 3sept
    Saat kejang ke 3sy rekam.krn dokter dl bertanya apakah sy ada rekam.
    Dari hasil googling sy curiga anak sy epilepsi panayitoupoulos syndrome.
    Saat kejang pertama eeg normal sehingga tidak diberi obat apapun.
    Kejang hanya pandangan kosong saja, tidak respon. Sekitar 10-15menit. Selalu diawali muntah. Setelah kejang mengantuk n tertidur. Sehingga diagnosa saat awal kejang tersedak makanan
    Kejang ke2 terjadi saat tidur. Terbatuk dan muntah lalu kejang. Segera ke ugd, diagnosa dokter anak tetep tidak apa2krn hsl eeg pertama normal. Lalu sy bawa ke dokter lain katanya anak sy epilepsi walau hsl eeg normal dan sy diberi asam valproat.
    Sy berikan keanak sy asam valproat baru 2mgu ternyt efek samping ke anak sy mulutny penuh sariawan.
    Lalu sy bawa ke dokter di surabaya eeg ulang hasil suspect. Dokter disurabaya prof darto suharsomengatakan sementara tidak perlu obat. Tetapi diawasi tidak blh kecapean, no gadget, istirahat cukup n tdr siang. Jika masi kejang baru diberikan obat.
    Lalu anak sy kejang lg sept tgl 3.akhirny sy berikan obat phenobarbital dosis 30mg pagi dan 30mg malam. Sy sempat ragu apakah akan memberikan obat atau tidak kepada anak sy. Apakah bisa sembuh ya anak sy dr kejang ini ? Kl malam tidur dan dia batuk jantung sy berdebar kencang sy tkt dia muntah dan kejang
    Apakah skg kejanh shinta sudah terkontrol dengan obat? Apakah ada efek samping obat yg diminum shinta? Terimakasih banyak mba shinta

    Reply
    1. aaayua Post author

      Obatnya diberikan saja, sambil tetap observasi. Mudah2an obatnya cocok.

      Efek samping mungkin ada, reaksi obat pada tiap anak beda2. Patokan saya, selama manfaat minum obat masih lebih besar dari efek samping yg timbul, obat tetap saya teruskan.

      Kejang shita masih ada sampai sekarang, belum benar2 terkendali. Tapi banyak kasus yg berhasil sembuh total kok. Soal efek samping obat pada shita, baca disini ya http://ayuarini.com/2017/04/obat-kejangnya-cocok-atau-tidak/

      Reply
    2. mariana

      mba cien,,,salam kenal
      anak saya juga kejang tanpa demam…saat tidur dan ada muntahnya. mungkin ad no WA kita bisa sharing info…makasii

      Reply
  21. Devi putri

    Salam Bu ayyu
    Anak aku Umur 9bulan pertama kali kejang usia 7bulan selama 2bulan terakhir kejang nya sudah 13 kali sudah di bawa ke dokter anak.. saya mengira anak saya cuma step biasa, sebelum kejang anak saya lemas kaya mau pingsan lagi main di roda lagi di suapin juga kadang lemas langsung kejang dan mengeluarkan air liur dari mulut setelah kejang dia suka tidur
    Apa anak saya epilepsi Bu? Kira kira Shita kejang seperti itu tidak? Dokter menyarankan untuk EEG

    Reply
    1. aaayua Post author

      Shita kejangnya kaku seluruh tubuh. Setelah kejang juga tidur karena kecapekan.

      Soal epilepsi atau tidak, itu dokter yg bisa kasi diagnosa. Kalau kejangnya tanpa demam dan berulang cukup sering, sebaiknya EEG mba.

      Udah bener kok konsul dengan dokter anak dulu. Kalau ada dokter anak spesialis saraf lebih bagus lagi. Mudah2an cepet dapet solusi terbaik buat ananda yaaa

      Reply
  22. Ibet

    Mbak anak sy skrg lg d rs. Sdh dr hr rabu. Sdh 11x kejang tanpa demam ada dan jg dgn demam ada. Apakah eeg bs dilakukan pas anak demam. Sampai usia kpn anak mbak kejang. Tq

    Reply
    1. aaayua Post author

      Semoga anaknya cepet pulih dan bisa segera pulang ya.

      Kayaknya sih bisa saja EEG saat anak demam. Tapi kembali lagi, tergantung pertimbangan dari dokter.

      Shita sekarang usia 3,5 tahun dan masih ada kejang. Tiap anak beda2… ada juga yg sejak minum obat langsung terkendali kejangnya dan ga pernah kambuh lagi.

      Reply
  23. uma

    Mba mohon jawabannya. Anak saya minggu lalu kejang 3x dlm kilurun waktu 24 jam, diopname 4 hari dan disarankan eeg. Rencana minggu ini eeg namun tadi kejang lg 1x. Durasi tiap kejang 1-2 menit. Apa baiknya yg saya lakukan ya mba utk skrg ini? Obat yg dikonsumsi setelah plg dr rs valproate. Tks ya

    Reply
    1. aaayua Post author

      Dear mba uma, sambil nunggu jadwal eeg dan kontrol dokter berikutnya, observasi terus, catat jadwal kejang dan durasinya. Catat juga aktivitas dan kejadian sebelum kejang, untuk lihat pola, mudah2an jadi ketahuan pemicu kejangnya.

      Obatnya teruskan saja sampai ada rekomendasi berikutnya dari dokter. Semiga hasil eegnya bagus dan ga kejang lagi ya

      Reply
  24. Uma

    Anakku sudah 3x dirawat mba. Sudah eeg hasil normal. Sekarang konsumsi asam valproat 2 x 3.5 cc dan fenitloin. Dosis awal 2x 1cc dan ditingkatkan bertahap krn msh muncul kejang. Anak sy 4m. Penglihatan msh belum bs fokus dan respon cepat. Kl dgn shita bgmn mbak keadaannya skrg?

    Reply
    1. aaayua Post author

      Dear mba uma,
      Shita sampai sekarang masih ada kejangnya, masih up and down. Tapi buat saya yg penting shita masih bisa beraktivitas seperti anak lainnya. Kalau mau diskusi lebih lanjut, email aja ya ke aaayua@yahoo.com

      Reply
  25. Erika

    Salam kenal mba … Anak sya umur 7,5thn kmrn tgl 26 okt demam dri pagi dan sore nya tiba2 kejang untuk pertama kali nya dan dirawat 4 hari di rs dan ditest eeg Hasil eeg pertma anak sya dinyatakan epilepsi dan diberi obat depakene dikonsumsi slama 2 tahun tpi hati kecil sya blm yakin klo anak sya epilepsi krna ga ada riwayat dlm kelg saya atau suami yg epilepsi . Jdi tdi pagi sya test eeg lagi yg kedua di rs berbeda dan kata dokter mmg ada gelombang epilepsi . Tpi klo sya liat secara mata sya hasil eeg pertama sama kedua ini hasilnya beda sekali gelombang2nya malah dikira dokter tdi anak sya di eeg sambil tidur pdhl tidak.klo menurut mba anak sya sdh bisa dikatakan epilepsi kah ? Terimakasih mba sharingnya 😊

    Reply
    1. aaayua Post author

      Hai mba erika,

      Kejangnya baru sekali?
      Kalo menurut definisi sih, yg disebut epilepsi itu kalau kejangnya terjadi 2x atau lebih dalam setahun. Kalau ini terjadi, baru wajib minum obat min. 2 tahun.

      Hasil eeg beda itu sangat mungkin. Eeg kan perekaman gelombang otak di waktu tertentu, biasanya eeg hanya 30menit. Jadi eeg hari ini dan eeg besok ya bisa aja beda. Eeg saat sadar dan saat tidur juga beda.

      Biasanya kalo perlu data yg lebih akurat dan detil, dokter minta eeg longterm. Cuma ini biasanya untuk epilepsi yg cari obat yg tepat.

      Mudah2an jawabannya membantu ya.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *