Kurus Langsing Setelah Melahirkan

kurus menurunkan berat badanKembali kurus langsing singset adalah masalah klasik ibu-ibu yang baru melahirkan, ibu-ibu menyusui, bahkan ibu-ibu yang anaknya sudah umur 5 tahun!! Saya juga sempat mengalami hal yang sama dengan banyak sekali ibu-ibu di seluruh dunia (hehe… rada lebay).

Sebenarnya bobot saya tidak naik terlalu banyak saat hamil, lebih banyak disedot dedek bayi di perut. Sampai-sampai disuruh diet gula sama pak dan bu dokter, supaya dedek bayi tidak terlalu berat dan saya sukses melahirkan secara normal.

Seperti apa diet gula? Mengurangi nasi, terutama nasi goreng, tidak makan roti (padahal favorit banget), dan semua yang manis-manis. Buah saja tidak boleh yang terlalu manis. Tapi ada bagusnya juga sih pola makan begini. Dulu saya makan nasinya sepiring, lauk sepotong kecil, sayur juga secukupnya aja. Sekarang karena nasi cuma boleh sedikit, terpaksa lauk dan sayurnya yang banyak, nasinya dimakan terakhir supaya di perut terasa pas kenyangnya.

Jadi sebelum hamil beratnya 57kg, sebelum melahirkan beratnya 65,8 kg saja. Yang penting dedek bayi tetap sehat dan nanti bakal gampang kurus lagi, toh naik berat badannya tidak banyak. Dan…. lahirlah Shita…

Ternyata saat menyusui, nafsu makan justru menggila. Rasanya lapaaaar terus. Belum lagi mertua yang rajin sekali siapkan segala makanan supaya ASI banyak dan lancar. Biarin ibunya gendut yang penting bayinya sehat, begitu kata mertua. Hampir tiap tengah malam makan roti berlapis margarin dan bertabur coklat. Makan nasi sebakul dan camilannya coklat. Akibatnya hanya dalam beberapa bulan setelah melahirkan, berat badan malah jadi 67 kg! Lho…???!!! Kok malah jadi lebih berat dari waktu hamil?

Demi anak, saya tidak terlalu memusingkan berat badan. Yang penting ASI lancar dan jadi punya alasan beli baju baru hihihi…

Shita umur 4 bulan, ketahuan kalau ternyata alergi susu sapi. Yup, ibunya harus ikutan pantang makan minum semua produk susu dan turunannya. Awalnya berat sekali. Sebetulnya saya ini termasuk lactose intolerant atau punya intoleransi terhadap laktosa, tapi saya suka rasa susu, penggemar keju, senang makan roti dan aneka kue. Jadi sekali lagi, demi anak, terpaksa deh, berhenti sama sekali mengkonsumsi semua produk yang mengandung susu sapi dan turunannya.

Nah… mulai deh berat badan turun, secara tidak sengaja. Belum turun signifikan sih, tapi wajah dah mulai terlihat lonjong lagi. Baju dan celama lama? Masih belum muat hehehe…

Shita umur 11 bulan, saya konsultasi dengan dr. Tan Shot Yen. Konsultasi untuk Shita sih tepatnya, terutama untuk urusan nutrisinya. Hanya saja karena Shita masih menyusui, lagi-lagi ibunya harus ikut pola makannya Shita, karena apa yang saya makan secara tidak langsung dikonsumsi juga oleh Shita. Nah disini baru terasa wajah seperti ditampar habis-habisan. Ternyata pola makan saya (dan sebagian besar orang di Indonesia, bahkan di dunia) sangat tidak seimbang. Intinya sih nasi putih itu tidak ada bagusnya sama sekali. Kalaupun masih harus konsumsi karbohidrat, pilih karbohidrat kompleks, seperti ubi, kentang, nasi merah, dan sebagainya (penjelasan karbohidrat sederhana vs karbohidrat kompleks, klik di sini).

Setelah tercerahkan, mulailah pekerjaan beratnya, mengubah pola makan. Suami juga sangat terinspirasi oleh penjelasan dr. Tan, sehingga ingin ikut juga mengubah pola makan. Di 3 bulan pertama, saya dan suami sama sekali tidak mengkonsumsi nasi, kentang, ubi, dan segala jenis pati lainnya. Karbohidratnya dari mana? Dari buah dan sayuran. Konsekuensinya, makan sayur dan lauk harus banyak supaya kenyang. Karena kami konsisten, badanpun tetap segar. Suami sempat merasa lemas di awal, tapi hanya sekitar semingguan. Setelah itu dia malah merasa lebih bugar dari sebelumnya. Yang paling seru itu bonusnya, perut langsung mengecil! Celana pun mulai longgar.

Sekarang saya sesekali makan nasi, kentang, dan lainnya, tapi bukan lagi sebagai makanan pokok. Badan terasa sehat dan segar, bonusnya tentu saja berat badan turun, baju-baju lama muat kembali. Yang saya suka dari pola makan ini, kita justru tidak boleh kelaparan. Kalau makanan kita benar dan sesuai dengan yang diperlukan tubuh, makan secukupnya juga sudah kenyang kok dan tahan sampai saat makan berikutnya. Kalau masih lapar? Ya berarti makan sayurnya kurang banyak hehe. Terasa sekali saat saya ‘nakal’ dan makan roti tawar, besoknya langsung rasanya lapar terus-menerus, ingin makan terus.

Kalau ingin mulai mengubah pola makan secara bertahap, silahkan dilakukan sendiri sesuai kemampuan. Tapi kalau ingin drastis, sebaiknya konsultasi dulu supaya dapat penjelasan lengkap dari dr. Tan (hubungi 021-53164347 untuk jadwal konsultasi dengan dr. Tan Shot Yen).

Saya percaya, sehat harus dimulai dari makanan. Kalimat ‘you are what you eat’ itu benar-benar menunjukkan kalau kesehatan kita, jasmani dan rohani, sangat ditentukan oleh makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Jadi yuk kita mulai makan makanan yang sehat dan alami, biar dapat bonus, badan kurus dan langsing!

kurus langsing setelah melahirkan

Share Button

Incoming search terms:

One thought on “Kurus Langsing Setelah Melahirkan

  1. Hosting

    Tubuh Anda membutuhkan waktu untuk penyembuhan setelah melahirkan. Bila Anda langsung menurunkan berat badan proses penyembuhan akan berlangsung lebih lama. Setidaknya beri jangka waktu 6 minggu sebelum program penurunan berat badan, bagi Anda yang menyusui disarankan menunggu hingga bayi Anda berusia setidaknya 2 bulan.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *