Tongue Tie dan Lip Tie

tongue tie dan lip tie pada bayiSejak Shita usia 1 bulan, dokter anak yang menangani Shita, dr. AAA Indah Pratiwi, selalu mengatakan kalau penambahan berat badan Shita kurang banyak. Padahal frekuensi menyusui cukup, tiap 2-3 jam sekali. Buang air kecil juga cukup, 6-8 kali sehari. Shita juga sangat-sangat aktif. Sudah bertemu konselor laktasi juga, dinilai posisi pelekatan saat menyusui (latch on) sudah bagus. Hanya diajari pijat payudara supaya produksi ASI lebih lancar. Makanya tidak pernah khawatir berlebihan. Tapi karena dr. Iin rajin mengingatkan, lama-lama kepikiran juga. Maklumlah anak pertama, anak yang ditunggu-tunggu pula.

Akhirnya pada usia 2 bulan 2 minggu, Shita dirujuk ke dokter anak yang sekaligus konselor laktasi di RS Kemang Medical Care, dr. Asti Proborini. Dokternya senior dan gayanya tegas. Hasil evaluasinya adalah produksi ASI sedang (tapi masih kurang karena berat badan Shita yang kurang) dan pelekatannya bagus. Yang mengangetkan adalah Shita didiagnosia Tongue Tie dan Lip Tie grade 3!

Tongue tie adalah suatu kondisi ketika dasar lidah melekat pada dasar mulut melalui frenulum (tali lidah) yang tebal, kencang, atau pendek, yang menyebabkan gerakan lidah menjadi terbatas. Sementara lip tie adalah kondisi ketika bagian dalam bibir melekat pada gusi. Bacaan lebih lengkap mengenai tongue tie dan cara penanganannya bisa klik di sini.

Sayangnya saya dan suami belum mempersiapkan diri dengan bacaan yang cukup tentang tongue tie dan lip tie ini, jadi bingung bagaimana merespon diagnosa dokter. Tiba-tiba disodorin gambar berbagai tali lidah yang didiagnosa tongue tie dan tingkat keparahannya. Tapi ya tetap saja belum bisa mencerna informasi baru yang datang bertubi-tubi. Apalagi dokternya langsung menawarkan untuk melakukan frenotomy atau pemotongan tali lidah dan tali bibir atasnya.

Bingung, kaget, galau, semua jadi satu. Dokter mengatakan itu akan memperbaiki proses menyusui. Selain itu tongue tie juga bisa membuat cadel. Sejujurnya saya agak ragu, karena pernah baca sekilas, kalau bayinya tongue tie, proses menyusui biasanya menyakitkan buat sang ibu, bahkan puting sampai berdarah-darah karena proses pelekatannya tidak pas. Tapi saya tidak mengalami itu. Paling hanya nyeri sedikit, tapi seiring waktu hilang sendiri nyerinya.

insisi atau frenotomy pada tongue tie

Frenotomy pada tongue tie

Karena didesak terus, akhirnya kami menyetujui frenotomy. Suami langsung disodori surat persetujuan melakukan tindakan medis. Proses frenotomy berlangsung cepat, tidak sampai 5 menit selesai. Karena usia di atas 2 bulan, pakai sedikit obat bius untuk mengurangi sakitnya. Setelah frenotomy, langsung saya susui. Rasanya sih memang menyusuinya lebih enak. Untuk meningkatkan berat badannya, disarankan suplementasi ASIP juga, 6 x 60cc tiap hari.

Sampai di rumah Shita tidur. Sore hari Shita bangun dan rewel luar biasa. Saya curiga obat biusnya sudah habis. Untunglah sekitar jam 6 sore Shita mulai tenang dan mau menyusu lagi. Setelah itu proses menyusui berlangsung seperti biasa. Yang saya rasakan, cara menyusui Shita seperti kembali lagi seperti sebelum frenotomy. Saya pikir mungkin masih penyesuaian karena gerakan lidahnya bisa lebih bebas. Tapi ternyata kondisi ini berlangsung untuk seterusnya.

2 minggu pertama setelah frenotomy, berat badan naiknya bagus. Mungkin karena dibantu juga dengan suplementasi. Namun minggu-minggu berikutnya berat badan naiknya kembali irit, padahal suplementasi jalan terus, hingga akhirnya dokter menyarankan untuk MPASI dini di usia 4 bulan. Saya sih tidak masalah kalau memang MPASI dini adalah jalan yang terbaik, tapi berarti frenotomy tidak ada gunanya dong? Sedih sekali rasanya.

Baru belakangan ini saya banyak membaca tentang kasus tongue tie dan lip tie. Ternyata seharusnya keputusan untuk melakukan frenotomy harus dilakukan dengan hati-hati dan seksama. Apakah benar-benar perlu frenotomy?

Kalau saya melihat ke belakang, berusaha mengingat anatomi lidah Shita sebelum frenotomy, seingat saya lidah Shita masih mampu menjulur keluar. Memang saat menyusui lidahnya tidak terlihat nongol sedikit seperti sekarang, tapi rasanya saat menyusui sama saja, tidak ada perbedaannya. Jadi semakin menyesal karena buru-buru bilang iya saat ditawarkan untuk melakukan frenotomy.

Mungkin saja ada kasus tongue tie dan lip tie berat dan membutuhkan frenotomy untuk membantu proses menyusui, tapi dari yang saya baca, ternyata banyak juga kok bayi dengan tongue tie dan lip tie yang tetap sukses menyusui dan berat badannya bagus. Para dokter di milis sehat menyarankan untuk konsultasi dengan dr. Utami Roesli untuk evaluasi tentang tongue tie dan lip tie pada bayi.

Nasi telah menjadi bubur… peer sebagai orang tua adalah tidak henti-hentinya belajar, supaya anak tidak menjadi korban kepanikan orang tuanya. Maafkan kami ya, Nak.

Updated, ini ada video bagus yang menjelaskan detil tentang tongue tie dan kapan insisi atau frenotomy itu memang perlu dilakukan:

Share Button

Incoming search terms:

32 thoughts on “Tongue Tie dan Lip Tie

  1. Marina

    Efek samping frenotomy emangnya apa bun? Saya malah pgn anak saya difrenotomy krn proses menyusui sangat menyakitkan buat saya. Stlh difrenotomy lbh enak tp kok ttp bikin lecet. Saya bawa lg ke dokter (berbeda dr sebelumnya) tryt frenulumnya menyatu lagi dan ketauan kalo lip tie juga. Saya jd bingung nih, di satu sisi pgn proses menyusui lancar tanpa merasakan sakit lg, tp di sisi lain kasian kalo hrs frenotomy lg. Sm dokter sih disuruh observasi dl seminggu kalo tryt msh bikin sakit dan luka sebaiknya direinsisi

    Reply
    1. aaayua Post author

      Dear mba Marina,

      Sebenarnya ga ada efek samping secara langsung ya. Tapi kan tindakan frenotomy itu pasti ada traumanya pada anak. Kalau memang sudah perbaiki posisi perlekatan menyusuinya, masih juga proses menyusui belum berjalan lancar, mungkin memang frenotomy itu jalan terbaik. Semua tergantung kondisi ibu dan anak. Yang saya tidak setuju, kalau langsung dilakukan frenotomy tanpa usaha memperbaiki perlekatan dan lainnya terlebih dahulu.

      Mudah-mudahan dapat jalan yang terbaik sehingga proses menyusui jadi lebih mudah dan menyenangkan yaaaa…

      Reply
  2. manal

    Mba,aq pernah k KMC dan anak pertamaqu ddiagnisa tongue tie dan lip tie..dsuruh lgs frenotomy tp saya nolak..sampe skrg anak pertama saya pertumbuhannbaik n bs ngomong dg jelas..yg dkhwtrkan cadel atauntelat bicara tdk terbukti..tp saya selama menyusui selalu sakit puting sampai lecet n berdarah2..terulang kmbali pd anak kedua saya..kata konsulatan laktasi anak kedua saya tongue tie n lip tie..BBny mmg krg bagus naikny..skrg sdh 1y dan msh ASI namun putih saya semakin sering luka..gmn ya baikny?apa sdh perlu d frenotomy?

    Reply
    1. aaayua Post author

      Kalau menurut saya sih tidak perlu karena sudah 1 tahun dan sudah mulai makan makanan keluarga. ASI kan sudah bukan lagi nutrisi utama untuk anak usia 1 tahun ke atas. Selain itu, traumanya akan lebih membekas menurut saya, bila frenotomy dilakukan pada anak usia 1 tahun.

      Namun kalau keluhannya puting yang luka, pilihan dikembalikan ke bunda sendiri. Soalnya saya dulu tidak mengalami hal seperti itu.
      Mudah2an membantu ya…

      Reply
    1. aaayua Post author

      hai mba hesty tyara…
      tidak ada masalah menyusui mba, bahkan dokternya bilang latch on bagus.
      hanya saja kenaikan berat badannya yang seret…
      makanya saya menyesal dulu tidak berpikir panjang saat memutuskan untuk insisi.

      Reply
  3. kristin

    hai ibu2,
    saya malah menyesal krn baru tau soal tongue tie skrg setelah anak saya umur 12 thn. wkt dia TK sampai SD kls 4 saya bolak balik tanya dokter krn cadelnya tp jwbnya ‘gpp’ nanti akan lancar dgn sendirinya. skrg anak saya jd amat sangat pendiam krn takut bicara dan jd bahan ledekan teman2nya. kalau boleh info, saya hrs ke dokter apa ya? trs RS mana di jaktim yg recomended? thanks.

    Reply
    1. aaayua Post author

      Hai…
      Untuk tongue tie, yang saya tau ke dokter laktasi.
      Tapi kalau sudah usia 12 tahun, mungkin coba diskusi dengan dsa dulu.
      Untuk pendiamnya, ada baiknya konsultasi dengan psikolog anak, apakah akar masalahnya hanya karena cadel bicara, atau ada masalah lain?
      Semoga membantu ya

      Reply
  4. divi zarra

    Halo mom, salam kenal…
    Ikutan sharing ya, saya juga ngalamin dimana anak saya mengalami Lip Tie dan Tongue Tie.. cerita ya mom, di awal kelahiran menyusuinya ya oke-oke aja meskipun ada lecet dan luka diputing saya mikirnya karna pelekatan belum benar, dan pengalaman di anak pertama pun sama lecet bahkan lebih parah sekali, 1 bulan kelahiran anak saya beratnya naik 1kg artinya normal, dibulan kedua mulai ada penurunan yang seharusnya 1kg ini hanya 500gr saja, memang proses menyusui anak ini hanya sebentar-sebentar saja saya lihat bibir atasnya selalu melipat kedalam jika sedang menyusu dengan payudara saya, penasaran saya ngomong sama dsa anak saya tapi dia belum mau bilang “ini Lip Tie” dan merujuk ke dokter Asti praborini setelah saya telp KMC ternyata beliau sedang cuti sedangkan saya mau tau betul kenapa anak saya benar Lip Tie kah? Atau bukan? Akhirnya saya menghubungi teman saya yang konselor laktasi saya kirim foto anak saya sedang menyusu terutama kondisi bibirnya, kemudian saya cek angkat bibir atasnya saya kirim gambarnya, teman saya tidak mau menjawab “iya atau tidak” tanpa dilihat sendiri, sebelumnya saya sudah berusaha membenahi pelekatan, makan protein tinggi sampai jerawat saya panen dimana-mana hehehe tapi berat anak saya stuck, akhirnya kami memutuskan ke dokter yang rujuk teman saya tsb di puri cinere dengan dokter agusnawati (dalam usia masih 2bulan) akhirnya setelah dicek cara dia menyusui dan pelekatan dan dinilai pelekatan sudah betul namun nenyusuinya ada masalah sepertinya bibirnya terlihat kesulitan begitu hap masuk kedalam gak balik lagi terus saja nekuk kedalam sehingga dia mudah lelah hisapannya akhirnya cepat melepas nenen, dan saat asi deras dia gelagapan dan melepas puting saya begitu dicek ternyata ada tongue tie tebal sekali dan lip tie sangat tebal sehingga dia kesulitan menyusui, akhirnya kamipun sepakat melakukan incisi setelah di incisi saya merasakan bedanya berat berangsur naik, pupnya normal karna sebelumnya pupnya hanya hijau jarang sekali kuning bahkan hampir tidak pernah dimana kalau pup hijau artinya kurang hindmilk, nenen bisa lebih lama dari sebelumnya, oh iya kata dokter agusnawati setelah di incisi jaringan ada yang nyambung lagi sehingga kembali tebal lagi, tapi ada yang tidak alias aman kalau nyambung lagi kondisi menyusui akan terganggu lagi, setelah di incisi pun ada senam yang dilakukan selama beberapa minggu dan konsultasi timbang berat badan berkala 2x semuanya hasilnya aman.

    Segitu deh cerita ku ehehe..
    Maaf mom jadi curcol 🙂

    Reply
  5. Jihan

    Halo mom, mau Tanya, apakah tongue tie kaitannya hanya dengan menyusui? Krn anak saya sudah 2 bulan, baru terdeteksi tongue tie lip tie, padahal menyusui cukup baik, bulan pertama naik 1kg, bulan kedua ini naik 1,2 kg. Namun dokter laktasi bilang, tongue tie bisa berakibat cadel Dan speech delay nantinya. Apa benar? Tp baca komentar diatas ada yg tidak terbukti cadel ya. Saya jd ragu untuk insisi, gmn ya sebaiknya?

    Reply
    1. aaayua Post author

      Hai…
      Biasanya disarankan diinsisi kalau memang mempengaruhi proses menyusui dan kenaikan berat badan anak.
      Kalau menyusui baik-baik saja, menurut saya sih tidak perlu diinsisi.

      Kalau tongue tie bikin speech delay harusnya sin ga ya, tapi kalau bikin cadel, tergantung grade tongue tie juga.
      Aku pernah ketemu seorang ibu saat bareng2 menyusui di ruang menyusui, dia tongue tienya cukup parah dan keliatan banget pas julurin lidah. Dia bilang, ngomong jadi agak cadel, tapi tidak mengganggu yang lain. Makanya kalau nanti kejadian pada anaknya, dia memilih ga diinsisi kecuali memang bikin berat badan anak susah naik gara-gara proses menyusui terganggu oleh tongue tie.

      Keputusan kembali ke orang tua ya…
      Ini sekadar cerita buat pertimbangan aja.

      Reply
  6. dwie

    halo mbAyu…
    Mmg semua kmbli ke orgtua msing2 ya mb…
    Tapi coba deh mbAyu ambil sisi positifnya “bahwa semua ikhtiar ini,mulai dr frenotomi,sampai mpasi dini semata2 untuk kebaikan anak…Sebagai usaha untuk mningkatkn berat badan ank..Dan tdk ada usaha yg sia2” 🙂
    Saya sendiri mrnderita tongue tie dan lip tie mb…Tidak cadel,lidah panjang mnjulur keluar,bicara fasih..
    Tapi di frenulum (pengikat tali lidah) dan lip tie sy sering sekali timbul spt jerawat,bengkak lalu sariawan..Efeknya?Susah makan…

    itulah sebabnya sy sllu bilang,jika mmg trindikasi TT LT dan berefek ke salah satu atau salah dua (atau salah semua,ehehehe),apakah itu latch on ga sempurna,kenaikn BB ga bagus,puting lecet-luka,menyusui terasa menyakitkan,lakukan sj frenotomi…

    krna itu adlh salah satu ikhtiar kita,mgkin bukan untuk skr…tapi untuk 6bln,1 tahun,5 tahun atau berpuluh tahun yg akan datang….

    Reply
    1. aaayua Post author

      Dear mba dwie, makasih banyak sharingnya. Jadi ada perbandingan pendapat lain buat para orang tua yang masih bingung dan kebetulan baca postingan ini.

      Kalau saya pribadi, kenapa saya mengatakan menyesal melakukannya, karena saat memberikan persetujuan ke dokternya, sebenernya hati kecil saya belum setuju. Makanya saya menyesal dan ini murni kesalahan saya, tidak meminta waktu untuk mempertimbangkan lebih jauh.

      Kembali, semua tergantung kondisi anak dan pastinya keputusan orang tua.

      Reply
  7. shika

    Hai mom, anak sy bingput dan mau coba ke dr Asti, apakah dengan beliau hampir semua pasien di indikasikan TT LT ya?

    Reply
    1. aaayua Post author

      Hai mba shika,
      Harusnya ga ya. Tapi saya ga tau juga dengan pasien beliau yg lain. Dicoba aja dulu.

      Kalo mau coba dokter lain, bisa dgn dr. Utami rusli.

      Reply
  8. Shata

    Hai mom…

    Kebetulan anak sy skrg usia nya 2,5 y.
    full ASI sampai usia 2y,1m.
    Saar ini blm berbicara, hnya bisa mengungkapkan beberapa kata sederhana spt bobo, duduk..

    Dr bnyk browsing, sy dpt kesimpulan anak sy delay speech. Dan sy putuskan untuk konsultasi langsung dgn dokter tumbuh kmbng anak. Dari hasil pemeriksaan dokter ybs, ank sy di diagnosa tonge tie.
    Disarankan untuk terapi bicara dan dilatih bicara lebih ekstra lg dirumah..
    Dan jika tidak ada perubahan, beliau mengatakan hrs insisi.

    Memikirkan kemungkinan (hrs insisi) apakan ada pilihan lain yg bisa saya lakukan untuk penanganan tongue tie nya?

    Reply
    1. aaayua Post author

      Saya kurang pengalaman soal speech delay karena tongue tie.
      Yang saya pernah dengar dan baca, tongue tie bikin bicara cadel, bukan speech delay.
      Coba saja terapi wicara dulu, sering bermain interaktif dengan anak, no gadget, no tv sama sekali.
      Mudah-mudahan perkembangannya bagus dan tidak perlu insisi.

      Reply
  9. Putri winda

    assalamualaikum mba ayu.. boleh minta kontaknya??
    Anak saya didiagnosis TT dan LT, disarankan insisi. Tapi sejauh ini yg saya rasakan tidak ada masalah dalam menyusui, tidak ada puting lecet, masitis, dsb. Hanya saja BB anak saya kenaikannya tidak drastis (lahir 3,2 kg sekarang usia 5 bulan 6,1 kg) kenaikan tiap bulan sekitar 500gram.
    Sekarang saya lg galau mau insisi atau tidak T_T

    Reply
    1. aaayua Post author

      Kalau kasus shita, insisi itu hanya memberikan hasil sementara. Apalagi dulu juga ga ada masalah menyusui. Menurut saya sih, putri mba putri belum perlu insisi, apalagi usia sudah 5 bulan dan sebentar lagi mpasi.

      Tapi kembali lihat kondisi dan kebutuhan anaknya ya, TT dan LT grade berapa? Sudah coba top up asi?

      Reply
  10. Lia

    Hi mba. Thanks bgt atas sharingnya. Karena kebetulan anak keduaku sepertinya lip tie dan aku agak metagu mau insisi atau engga. Cerita mba ini sedikit membuatku flashback ke anak pertamaku, yg diinsisi karena diagnosa tongue tie. Aku ke dokter yg sama dengan mbak di KMC dan persis ku juga alami. Deperti “ditodong” diburu2 untuk insisi, terlebih waktu itu aku tidak didampingi suami. Bahkan untuk telfon minta ijin ke suami pun, beliau bilang “saya gaada waktu untik menunggu, dtg lgi saja minggu depan”. Yaampun jualan jasa macam itu. Mentang2 sudah terkenal kok bida2nya iktikadnya sangat angkuh. Akhir cerita anak pertama a di insisi dan tidak banyak perubahan. Skrg anak kedua ku insyaallah akan ku bawa ke dr utami roesli. Aku sidah cari info fan menurut pasiennya dr utami ini sgt baik sabar dan pintar. Semoga dilancarkan. Amin…

    Reply
      1. nita

        Anakku juga 2minggu lalu udh di insisi di kmc. Kalo bekas di insisi kan jadinya berwarna putih ya . ItU kira2 yg pernah insisi bekasnya itu berapa lama ya normal kembali jd berwarna merah lagi.

        Reply
        1. aaayua Post author

          Hai nita…
          Dulu sih Shita kayaknya ga ada bekas warna putih deh. Tapi aku agak lupa juga, udah lama.
          Mending konsultasikan ke dokter deh.

          Reply
    1. annisa

      Bu saya mau tanga apakah anak yg lip tie pasti tounge tie… ak lihat anaku ada lip tie nya
      Bb nya naik cm 600gr di bln pertama

      Reply
  11. Iis

    Hai …
    Sya ada sdikit keluhan ank saya sudh berusia 5thn tp bicara nya masih cadel dn blm jelas..barusan kmren sya bawa k dokter ank,
    trnyta doktr mngtakan lidah ank TT DN LT
    saya gk kaget sbnr nya krn ikhtiar sya dri ank sya bayi sudh sya lakukan ke berbagai dktr specialus ank,tp tdk ada 1pun yg mngagnosis TT dn LT,
    Sampai akhir nya skrng brusia 5th baru ketahuan ,stlh kmren dia panas dn sya bwa k doktr ank yg biasa mnangani adek nya..jdi besok sya akn bwa ank sya ke doktr gigi ank untuk mngkonsultasikn sesuai rujukan dri doktr ank..
    Sdikit khwatir apa mungkin frenotomi nya akn mnyakitkn jika sudh berusia 5th..mohon pnjlasan nya..
    Trimkasih..

    Reply
    1. aaayua Post author

      Mba iis,

      Saat frenotomi anak pasti dibius, kemungkinan lokal. Jadi pas tindakan ga akan terasa sakit. Setelahnya sih mungkin akan terasa efek tindakannya.

      Nanti diskusikan saja dengan dokter, obat pereda nyeri yg aman dan berapa lama proses pemulihan seandainya memang harus frenotomi.

      Saya pernah bertemu dengan ibu2 dgn tongue tie, tongue tie-nya lumayan tebal, tapi dari kecil dibiarkan saja hingga dewasa. Bicaranya memang agak cadel, tapi buat dia tidak terlalu mengganggu.

      Jadi pertimbangkan lagi keputusan untuk frenotomi dan libatkan anak dalam memgambil keputusan, mengingat anak sudah besar dan sudah bisa diajak diskusi. Semoga semua lancar ya

      Reply
  12. Annisa

    Hi Mba,

    Saya mau curhat juga nih, anak saya kebetulan menyusui lancar dan bb juga lancar. Cuma kadang kadang payudara saya yg sakit sampai lecet atau bengkak. Say dtg ke KMC dan di vonis kalau anak daya TT dan LT, dan saya sebenarnya ragu utk insisi, cuma dokter nya saat itu seperti “meyakinkan” dan akhirnya saya pun setuju utk anak saya di insisi.

    Sampai rumah dia kejer2 bgt, pdhl dia anak periang dan bukan penangis. Hal ini membuat saya menyesal bahwa jelas anak saya tidak membutuhkan insisi krn pertumbuhan dia normal. Dan saya jadi stress nangis terus.

    Saya mau nanya apakah bekas insisi itu bisa balik normal ga ya? Saya berharap anak saya bisa seperti dulu lagi, walaupun ber tongue tie tapi tetap bahagia.

    ps : anak saya umur 5 bulan saat itu

    Reply
    1. aaayua Post author

      Dear mba annisa,
      Sekarang anak usia berapa?
      Menurut saya sih ga usah terlalu dipikirkan, yg sudah terjadi biarlah berlalu. Yg penting sekarang menyusui tetep lancar kan? BB juga oke kan?

      Bayi itu pemulihannya cepat, cuma emang kalo udah agak besar pasti lebih terasa buat anaknya. Shita insisi di usia 2 bulan dan perlu waktu seharian untuk bisa menyusu normal lagi.

      Reply
  13. Mommy Samantha

    Halo mba,

    Saya baca artikel mbak barusan, kebetulan minggu lalu anak saya terindikasi LT grade 4 & TT hanya sedikit. Sy ke dr.laktasi minggu lalu krn PD saya luka nya parah bgt yg kiri & kanan. Yg kiri darahnya beku dan lukamya besar, PD kanan luka byk seperti melepuh gitu, ada airnya di dlm pada bagian puting dan itu sangat2 sakit. Setelah konsultasi dgn dr.laktasi akhirnya ketahuan anak sy ada LT dan TT nya. Disarankan untuk inisisi krn kebetulan BB anak saya juga naiknya tiap bulan cuma sedikit, anak sy baru 6.5kg di usianya yg seminggu lagi mau 6 bln. Jadi kami pun memutuskan untuk inisisi hari ini, tetapi saat dilakukan inisisi, sy melihat anak sy yg mulutnya penuh darah dan nangisnya luar biasa hebat seperti yg sangat2 marah. Satelah inisisi bayi saya mulai nyusu tapi setengah jam kemudian pada bagian LT nya berdarah lagi padahal kata dokternya setelah nyusu darahnya akan berhenti. Sejam kemudian berdarah lagi. Krn pasien lain sudah menunggu lama dan kebetulan darah anak saya udh stop.akhirnya kami pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah, LT nya berdarah lagi, sy jadi panik akhirnya kami tlp dokternya. Kata dokter gpp sususin lg nanti darahnya berhenti, klo keadaannya spt ini saya jadi agak menyesal lakukan ini. Sy mau tanya mbak, apakah memang darahnya seperti itu susah berhenti apa gmn? Mengingat usia anak saya udh cukup besar mau 6 bln dan LTnya juga cukup besar pada grade 4 makanya darahnya banyak. Jujur ini anak pertama saya, blm byk pengalaman # liat anak sy spt ini, saya jd parno sendiri. Mohon pencerahannya mbak 😢😢😢

    Reply
    1. aaayua Post author

      Mommy Samantha,
      Maaf baru balas ya. Gimana kondisinya hari ini? Mudah2an sudah kembali seperti sediakala.

      Saya kurang tau soal pendarahan. Tapi dulu pengalaman Shita juga setelah insisi, malamnya sempet berdarah lagi, tapi besoknya sih udah gapapa.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *