Berat Badan Kurang dan Diagnosa Gagal Tumbuh

berat badan bayi yang gagal tumbuhSejak usia 1 bulan, berat badan Shita naiknya irit. Pasti naik sih, tapi naiknya kurang banyak. Sudah berbagai cara dilakukan untuk menaikkan berat badannya secara signifikan. Dari rajin perah ASI, mulai konsultasi dengan konselor laktasi, sampai tali lidah dan tali bibir diinsisi karena didiagnosa tongue tie dan lip tie (baca: Tongue Tie dan Lip Tie). Akan tetapi tetap saja berat badan Shita naiknya sedikit-sedikit. 

Sebulan setelah dilakukan insisi atau frenotomy, dr. Asti Proborini menyarankan untuk MPASI dini yang dimulai usia 4 bulan untuk meningkatkan berat badannya. Saya tidak menentang konsep MPASI dini kalau memang itu yang terbaik untuk Shita. Akan tetapi, menu MPASI dininya yang membuat saya ragu untuk mulai. Shita diharuskan langsung makan lengkap, beras, daging, sayur, di hari pertama mulai MPASI. Saya bingung, apakah pencernaannya sudah siap? Kok makanannya langsung berat begitu? Bukannya seharusnya bertahap? Saya juga belum banyak membaca soal MPASI, jadi galau deh.

Akhirnya memutuskan untuk cari pendapat dokter anak lain, yaitu dr. Tiwi. Beliau juga mengatakan peningkatan berat badan Shita sangat kurang dan setuju MPASI dini. Tapi beliau menyarankan menunggu hingga berat badan Shita mencapai minimal 5,5 kg sebelum mulai MPASI, untuk memastikan organ pencernaannya cukup besar dan mampu mencerna makanan padat. Makanan pertamanya pun langsung serelia alias nasi, tapi hanya dicampur ASI, agar pencernaan dapat menyesuaikan diri sebelum ditambah menu lainnya.

Menurut saya, pendekatan ini lebih cocok untuk Shita dan saya setuju. Karena berat badan Shita susah naik, padahal sudah tambah ASIP, dr. Tiwi menyarankan untuk ditambah susu formula (sufor). Kebetulan Shita ada indikasi alergi susu sapi, jadi Shita terpaksa minum susu hypoallergenic yang harganya mahal dan sulit didapat.

Ketika akhirnya berat badan mencapai 5,5kg, mulailah petualangan MPASI Shita. Awalnya semua berjalan lancar, Shita mau mencoba makanan yang diberikan. Akan tetapi, seminggu setelah mulai MPASI, Shita mulai konstipasi. Setelah beberapa hari tidak berhasil BAB, dokter menyarankan diberikan obat pencahar. Belum bisa BAB juga, akhirnya ke UGD karena Shita kesakitan dan menangis saat berusaha untuk BAB. Baru beres masalah konstipasi, badai muntah-muntah datang. Seminggu Shita muntah-muntah. Dan… setelah itu mogok makan.

Hampir semua makanan yang saya siapkan ditolak oleh Shita. Bahkan buah-buahan manis disembur-sembur. Bubur nasi hanya dimakan sedikit sekali. ASI ditambah sufor jalan terus. Hanya saja, karena pemberian sufornya lewat selang yang ditempel di payudara, semakin Shita besar, semakin mengerti dan merasa terganggu oleh selang tersebut. Sementara kalau dikonsumsi langsung, sufor hypoallergenic ini rasanya sangat tidak enak, jadi konsumsi sufor pun menurun tajam.

Saat usia Shita 6 bulan, saya mulai menyadari kalau perkembangan Shita terlambat dibanding anak lain seusianya. Mulailah berburu tempat terapi yang kira-kira cocok untuk Shita. Hasil menjelajahi berbagai blog, beberapa mengatakan terapi di Klinik Anakku bagus. Karena harus konsultasi dokter dulu, saya buat janji untuk konsultasi dengan dr. Irawan, dokter anak konsultan neurologi, sekalian konsultasi tentang epilepsi dan delay perkembangan Shita.

Menurut dr. Irawan, berat badan Shita sangat kurang. Sangat mungkin itu yang membuat perkembangannya terlambat, selain juga epilepsinya. Beliau menyarankan bertemu dengan ahli gizi sebelum memulai fisioterapi. Hari itu juga kami bertemu ahli gizinya. Karena Shita alergi susu sapi, ahli gizinya menyarankan untuk mulai challenge atau mencoba melihat reaksi tubuh Shita terhadap produk susu sapi dan turunannya. Saya dianjurkan konsumsi keju dan lihat reaksi pada Shita. Oke, kebetulan saya penggemar keju, senang saja malah disuruh makan keju.

Keesokan harinya, Shita demam dan batuk. Demamnya ringan, jadi tidak panik. Batuknya juga biasa saja, Shita masih bisa istirahat, jadi masih santai sambil terus observasi. Beberapa hari kemudian, saya coba konsumsi makanan yang mengandung keju. Keesokan harinya, batuk Shita semakin menjadi-jadi. Nafsu makan hilang, minum air putih tidak mau, menyusu sedikit karena terganggu batuknya. Saya sudah merasa kalau Shita sepertinya harus dirawat karena khawatir dehidrasi.

Benar saja, saat konsultasi dengan dr. Tiwi, beliau langsung menyarankan untuk rawat inap. Apalagi kondisi Shita sudah lemas dan hanya tidur saja. Supaya tetap di bawah pengawasan dr. Tiwi, saya memilih rawat di RS Bunda Menteng. Saat itu usia Shita 7 bulan 3 minggu. Ketika ditimbang tanpa pakaian, berat badan Shita hanya 4,9 kg dan dapat diagnosa Gagal Tumbuh (Failure to Thrive).

Pertumbuhan seorang anak tentunya berbeda-beda. Namun apabila seorang anak bertambah berat dan tinggi badan di bawah variasi normal, maka bisa disebut gagal tumbuh. Anak yang gagal tumbuh tidak menerima atau tidak bisa menerima, mempertahankan, atau memanfaatkan kalori yang dibutuhkan untuk bertambah berat dan tumbuh seperti yang diharapkan.

Rata-rata bayi bertambah berat badannya menjadi dua kali lipat berat lahir pada usia 5 bulan dan menjadi tiga kali lipat berat lahir pada usia 1 tahun. Sementara Shita yang berat lahirnya 2,76 kg, pada usia 7 bulan 3 minggu beratnya hanya 4,91 kg. Tapi tidak hanya indikator ini yang membuat Shita didiagnosa gagal tumbuh.

Setiap orang tua diharuskan memplot berat badan dan tinggi badan anaknya pada kurva pertumbuhan (growth chart). Kurva ini bisa minta ke dokter anaknya, atau unduh sendiri dari internet. Direkomendasikan menggunakan kurva WHO yang lebih general dan secara umum lebih cocok untuk kondisi di Indonesia. Kalau mau menggunakan software Anthro WHO, bisa silahkan klik:

growth chart atau kurva pertumbuhan anakKenapa Shita bisa mendapat diagnosa gagal tumbuh? Karena pada growth chart, kurva pertumbuhan Shita memotong 2 garis di bawah. Kurva yang baik adalah kurva yang mengikuti garis persentil yang ada di growth chart. Jadi tidak masalah kalau anak kita ada di garis kedua dari bawah, sepanjang selama pertumbuh-annya, kurvanya tetap berada di garis itu, tidak memotong garis di bawahnya.

Selain itu, kurva pertumbuhan Shita yang memotong 2 garis di bawah tidak hanya kurva berat badan saja, tapi juga kurva tinggi badannya. Karena itulah dokter mendiagnosa Shita gagal tumbuh. Kalau ingin tahu lebih banyak tentang gagal tumbuh dan tata laksananya, bisa langsung meluncur ke web milis sehat.

Sedih? Pasti dong. Apalagi kami sudah berusaha memberikan asupan nutrisi yang terbaik untuk Shita. Tapi sekarang yang penting adalah mengatasi masalah tersebut. Kami konsultasi dengan dokter gizi, dr. Klara Yuliarti yang juga praktek di RS Bunda. Dr. Klara menyarankan pemasangan NGT (nasogastric tube), yaitu selang yang dipasang dari hidung hingga ke lambung untuk membantu menambah asupan susu Shita. Susu diberikan delapan kali sehari, setiap 3 jam. Dosisnya dimulai dari 8 x 75cc susu, kemudian ditambah secara bertahap hingga 8 x 150cc sehari. Kalau ASIP mencukupi boleh pakai ASIP, tapi kalau tidak cukup, harus ditambah sufor.

Dan mulailah perjuangan Shita minum susu pakai NGT. Di luar itu, Shita tetap menyusui langsung seperti biasa. Sejak pakai NGT, nafas Shita jadi grok-grok terus-menerus. Shita juga jadi lebih sering muntah, kadang sedikit, kadang semua susunya keluar lagi. ASI pun terasa berkurang karena frekuensi menyusui berkurang. Shita sudah kenyang minum susu lewat NGT, sehingga menyusui hanya untuk mencari kenyamanan saja.

Walau begitu, kami bersyukur, berat badannya bertambah secara signifikan. Setelah 6 bulan dan Shita mulai mau makan makanan padat, NGT pun dilepas permanen. Setelah lepas NGT, nafas grok-grok hilang, Shita sama sekali tidak pernah muntah, dan makannya semakin lahap.

Kamu memang luar biasa, Nak….

Share Button

Incoming search terms:

10 thoughts on “Berat Badan Kurang dan Diagnosa Gagal Tumbuh

  1. Tiananda

    Halo Ayu… Habis browsing2 ttg lip tie, akhirnya nemu blogmu 🙂
    Anakku juga sebulan pertama cuma naik 200 gram… Sedih luar biasa. Ke klinik laktasi pun dilakukan insisi lip tie & tongue tie + suplementasi sufor 6 x 60 cc.
    Drama emak2 memang luar biasa ya… Semoga tumbuh kembang anak2 kita bisa bagus, aamiin… Sehat2 ya Shita ^^

    Reply
  2. Mama E

    Halo Mba Aku, aku juga tadinya lagi cari2 info tentang failure to thrive dan akhirnya sampai di blog ini. Terima kasih sharing nya Mba.

    Mba sy mau nanya boleh, mba pastinya sudah lebih berpengalaman Dan punya banyak informasi, apa lagi mba konsul dgn dokter di Jakarta.

    Gini mba, anak saya dari lahir asi sekarang sudah 10 bulan. Lahir 3.2 kg Dan waktu 7 bulan sudah 9kg. Tapi setelah mulai mpasi anak saya tidak menunjukkan ketertarikan makan. Saya telusuri lagi, saya sadar anak saya keseringan minta asi di malam hari, sampai saya gak inget lagi berapa kali bangunnya utk menyusui. Oh ya dari 7 bulan sampai sekarang ini 10 bulan berat anak saya masih 9kg. Pernah naik ke 9.3 kg tapi turun lg karena sempet GTM. Sekarang masih susah makan sih. Sedikit sekali yang masuk tapi ada kemajuan.

    Saya tau anak sy gagal tumbuh. Sedih sekali rasanya. Sekarang saya Ingin mengurangi asupan asi anak saya (sedih ya, sudah beratnya gak naik, asi di kurangi – agar mau makan).

    Pertanyaan saya mba, kira2 apa yang perlu saya lakukan. Apa saya terus perjuangkan, atau saya harus secepatnya ke memeriksakan anak saya lebih lanjut. Ke asli gizi atau dokter apa ya kira2.

    Maaf panjang banget mba. Sekali lagi terima kasih sharing nya, senang rasanya tau kalau anak mba bisa sehat Dan lahap makannya. Tolong pencerahan ya mba.

    Terima kasih.

    Reply
    1. aaayua Post author

      Halo juga…
      Kok yakin anaknya gagal tumbuh? Sudah diplot riwayat berat badannya di growth chart? Untuk memastikan diagnosanya, menurut saya sih bagusnya konsultasi dengan dokter. Ke dokter anak boleh. Kalau perlu ke ahli gizi nanti minta rujukan dari dokter anak aja.

      Soal ga mau makan, aku boleh tanya ya… Selama ini makan berapa kali? Ada jadwal makannya?
      Yang kasi makan mamanya, neneknya, atau pengasuh?
      Makannya duduk di meja makan atau di tempat lain?
      Variasi makanannya gimana?

      Kalau lihat orang tuanya makan, anak tertarik dan minta ga?
      Perkembangannya yang lain apakah sesuai dengan usia?

      Kenapa saya tanya ini, karena problem susah makan itu terkait banget sama kebiasaan makan di rumah. Kalau pada Shita, menurut saya dia susah makan karena pengaruh obat epilepsinya dan perkembangannya delay. Jadi di saat anak seusianya sudah memasukkan semua mainan ke mulut, Shita belum.

      Soal ASI menurut saya jangan dikurangi, kan belum setahun. Tapi harus dijadwal pemberian ASInya. Pada saat jam makan ya tidak diberi ASI. Sampai usia setahun, asupan utama bayi ya ASI. Makanya makanannya pun disebut makanan pendamping ASI.

      Mudah2an membantu ya…

      Reply
  3. Sukma

    Halo mbak Ayu..
    Anakku juga pertumbuhan bbnya ga memuaskan dari usia sebulan. Tapi tinggi badan sih sesuai untuk usianya. Menurut dsanya sih ga gagal tumbuh tp slow growth. Dsanya menyarankan saya untuk sufor, bahkan mpasi dini jika memungkinkan. Tapi saya masih ragu. Masih mau konsultasi lagi ke dokter laktasi. Saya benar2 bingung harus bgmn…

    Reply
    1. gita

      Mba ayu numpang comment ya, krn anakku pny permasalahan yg sama dgn mba sukma..
      Mba sukma, terus sekarang penanganan anaknya gmn?
      Anakku udah ak coba kasih sufor tapi badannya nolak (muntah ato sembelit, krn ak coba beberapa kali) padahal itu sufor yg pas anakku usia 2-3 minggu dia minum, smp dsanya bilang terusin aja, tp ak ga tega liat efeknya..
      Semoga mba sukma msh baca komen ini ya.
      Ato mba ayu boleh share email mba sukma, ke emailku.. Makasih sebelumnya ya mba..

      Reply
  4. Rere

    Mba ayu,,boleh kah aku bertanya2 soal NGT dan gagal tumbuj kembang si anak?
    Krn aku punya masalah yg sama skrng.

    Terimakasih sebelumnya mba 🙂

    Reply
  5. anis

    Bu saya barusa email..

    Bu anak sy sdh hampir 1 th memakai ngt
    tp anak msh susan menelan makanan jd msh suka dilepeh
    umur anak sy skrg 16 mo
    anak ibu bs lepas ngt..trs awal2 gmn..langsung mau makan?susunya giman?

    Reply
    1. aaayua Post author

      Dear anis,
      Salam kenal…
      Saya lepas ngt Shita setelah dia mulai mau makan, jadi tinggal memperbaiki pola makannya saja.
      Selain itu, Shita hanya minum ASI saja, tidak minum susu lain. Setelah lepas ASI, ya nutrisi cukup dari makanan saja.
      Untuk detilnya sudah saya balas di email ya…

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *