Anakku Kejang! (3)

kejang epilepsi
Pendahuluan:

Sejak Shita mulai kejang dan didiagnosa epilepsi oleh dokter pada usia 5 bulan (baca: Anakku Kejang!), Shita harus konsumsi obat setiap hari untuk mengendalikan kejangnya. Senang rasanya ketika melihat kejang Shita mulai berkurang, sampai akhirnya benar-benar terkendali. Akan tetapi, setelah 3 bulan berlalu tanpa kejang sama sekali, pada awal Februari 2015, tiba-tiba Shita kejang lagi (baca: Anakku Kejang! (2)). Sejak saat itu, Shita kejang setiap hari, 2 hingga 3 kali sehari, dengan durasi waktu lebih lama dari sebelumnya.

Setelah didesak oleh sang kakek, akhirnya kami memutuskan untuk cari second opinion ke Singapura mengenai kondisi Shita. Dari hasil baca-baca web resmi tentang fasilitas kesehatan dan rumah sakit di Singapura, saya mengetahui bahwa KK Hospital adalah rumah sakit ibu dan anak. Mereka juga punya banyak dokter anak dengan spesialisasi syaraf yang pastinya berpengalaman menangani anak-anak epilepsi.

Tapi dari beberapa forum yang saya ikuti, banyak yang merekomendasikan Prof. Ong Hian Tat dan Prof. Low Poh Sim yang praktek di National University Hospital (NUH). Setelah diskusi dengan suami, kami putuskan untuk konsultasi dengan Prof. Ong Hian Tat di NUH. Setelah kirim email untuk membuat janji temu, baru dapat jadwal satu bulan kemudian. Jadi sambil menunggu saatnya berangkat ke Singapura, Shita tetap konsultasi dengan dr. Dwi Putro di RS Premier Bintaro.

Bulan Maret 2015, Shita cek darah rutin. Hasilnya trombositnya rendah. Menurut dokter, itu adalah indikasi efek samping obat Depakene yang dikonsumsi Shita. Artinya mulai terlihat efek samping obat pada livernya. Oleh karena itu dr. Dwi Putro langsung mengganti Depakene dengan obat lain, yaitu Tegretol. Seperti biasa, dimulai dari dosis rendah, kemudian ditingkatkan pelan-pelan hingga dosisnya optimal sesuai kebutuhan.

Awal minum Tegretol (zat aktif: Carbamazepine) dosis rendah, belum terlihat perubahan yang berarti. Tapi seiring peningkatan dosis, kok kejangnya malah makin sering ya? Sebelumnya, dokter sudah memberikan formula untuk meningkatkan dosisnya secara bertahap, jadi belum membuat janji temu lagi dengan dokter. Sudah coba kirim WA ke dokter tapi belum dibalas. Sementara jadwal praktek berikutnya masih minggu depan, bertepatan dengan waktu keberangkatan ke Singapura. Mau langsung stop obatnya juga tidak berani, karena penghentian obat kejang secara mendadak malah bisa memicu terjadinya kejang. Jadi ya obat Tegretol tetap dikonsumsi.

Awal April 2015, kami berangkat ke Singapura. Tidak lupa semua hasil tes sebelumnya, termasuk riwayat konsumsi obat Shita saya bawa. Prof. Ong Hian Tat dengan teliti mempelajari riwayat kejang Shita, termasuk membandingkan video kejang Shita saat awal diagnosa dan video kejang terakhir yang saya ambil sehari sebelum bertemu Prof. Ong. Hasil EEG pertama dan kedua, serta hasil MRI pun diperiksa dengan teliti (baca: Tes EEG pada Epilepsi). Setelah mempelajari semuanya, beliau menyarankan untuk EEG dan MRI ulang. Saya setuju. Selain itu, menurut Prof. Ong, Keppra sepertinya cukup efektif untuk mengendalikan kejang Shita, karena itu beliau saran dosisnya ditingkatkan.

Saya sampaikan bahwa setiap dosis Keppra naik, Shita pasti dilanda balada muntah-muntah selama seminggu. Prof. Ong bilang kalau Keppra hampir tidak pernah menyebabkan mual dan muntah, jadi ditawarkan untuk rawat inap untuk observasi, sekalian memudahkan menentukan jadwal EEG dan MRI. Beliau juga sepertinya berusaha agar semua tes-tes bisa dilakukan dalam hari yang sama, jadi kami tidak perlu terlalu lama berada di Singapura.

Jadilah Shita rawat inap di NUH. Biaya kamarnya saja (1 kamar untuk 4 orang), lebih mahal dari kamar hotel kami di Chinatown. Hanya bisa berharap tidak perlu berlama-lama di RS.

Sore hari langsung dikabarkan kalau besok pagi akan dilakukan EEG dan siangnya langsung MRI. Masih sore itu juga, dokter junior di tim Prof. Ong menjumpai kami dan membahas kembali riwayat kejang Shita dengan lebih detil. Mereka disertai mahasiswa-mahasiswa kedokteran. Karena ini rumah sakit universitas, jadi banyak mahasiswa berkeliaran. Bahkan Shita beberapa kali didatangi mahasiswa yang sedang belajar melakukan evaluasi fisik terhadap pasien anak.

Malamnya Shita diminta puasa, karena akan diambil darah di pagi hari. Akibatnya Shita rewel semalaman karena tidak boleh ng-ASI. Hikmahnya, saat EEG, Shita kecapekan dan sukses tidur tanpa perlu obat tidur apapun (baca: Tips EEG pada Anak Epilepsi). Proses perekaman EEG lebih lama dari yang pernah dilakukan di Jakarta. Saya tidak menghitung waktu, tapi yang jelas lebih dari 30 menittes eeg épilepsie, karena tangan saya pegal sekali menopang kepala Shita. Selain itu, perekaman juga dilakukan saat Shita dalam keadaan bangun dan sadar. Jadi setelah perekaman saat tidur selesai, Shita dibangunkan dan perekaman dilanjutkan.

Untuk MRI, karena Shita harus dalam keadaan diam, maka diberikan obat tidur. Saya lupa nama obatnya, tapi kalau baca di buku “Seizure and Epilepsy in Childhood”, obat ini termasuk yang paling ringan dan aman untuk bayi, walau yang namanya obat pasti ada efek sampingnya. Proses MRI pun berjalan lancar.

Sore harinya, Prof. Ong datang. Beliau meminta kami tetap di RS sampai besok karena masih ada beberapa tes darah dan urin yang perlu dilakukan untuk mencari tahu penyebab kejangnya. Selain itu, dari pola kejang yang terlihat pada EEG, baru ketahuan kalau ternyata Carbamazepine atau Tegretol itu tidak cocok untuk Shita. Itu juga yang membuat kejang semakin sering sejak konsumsi Tegretol. Jadi langsung stop Tegretol, sementara Keppra dan Clobazam tetap dikonsumsi.

Baca: Obat Kejangnya Cocok atau Tidak?

Keesokan harinya, setelah diambil darah dan urin, kami boleh pulang. Bukan sekedar pulang dari RS, tapi sudah boleh pulang ke Indonesia. Prof. Ong mengatakan bahwa beliau perlu waktu untuk menganalisa semua data, apalagi belum semua hasil tes darah keluar. Jadi lebih baik kami pulang dulu, bulan depan datang lagi untuk konsultasi dan membahas semua hasil-hasil tes yang sudah dilakukan. Syukurlah tidak perlu berlama-lama di Singapura.

Sebelum pulang, kami bertemu dengan Suster Jeannie, suster di klinik Epilepsi. Dia memberikan stesolid untuk digunakan bila Shita kejang lebih lama dari biasanya. Hanya untuk kondisi darurat saja. Selain itu, suster Jeannie juga menjelaskan tentang diet ketogenik, diet untuk membantu mengendalikan kejang (baca: Diet Ketogenik pada Epilepsi). Banyak yang berhasil mengurangi kejang, bahkan bebas kejang dengan menjalani diet ketogenik. Tapi bukan berarti diet ini tanpa efek samping. Oleh karena itu, kami diminta untuk mempelajari lebih jauh dan mempertimbangkan diet ini untuk Shita. Bila perlu, kami bisa konsultasi dengan ahli nutrisi (dietitian) di NUH saat konsultasi ke Prof. Ong bulan depan. Yah kami pikir-pikir dulu deh…

Keesokan harinya, kami kembali ke Indonesia. Sejak hari itu, saya mulai lagi membuat jurnal kejang, kapan saja kejang dan berapa kali sehari, untuk bahan diskusi dengan Prof. Ong bulan depan.

Cerita selanjutnya: Anakku Kejang! (4)

Share Button

Incoming search terms:

35 thoughts on “Anakku Kejang! (3)

  1. eka

    mba sekarang keadaan shitta gimana? apakah ada solusi dari dr. Ong? dan bagaimana sekarang apakah jadi diet ketogenik? anak saya sudah 3 tahun lebih kejang dan berbagai obat dicoba… saat ini sedang mengkonsumsi 3 jenis obat dan masih saja kejang…. mohon share infonya bisa ke email saya terima kasih

    Reply
    1. aaayua Post author

      Mba Eka, minggu depan Shita rencana kontrol lagi ke dr. Ong dan EEG ulang. Sekarang masih kejang, tapi intensitas sudah jauh berkurang dibandingkan sebelumnya. Belum diet ketogenic, saya yang masih ragu karena Shita sedang masa pertumbuhan. Selain itu kata dr. Ong, kalau dengan obat-obatan bisa membantu mengendalikan kejangnya, tidak perlu diet ketogenic.

      Reply
  2. emi

    mba mau tanya sekarang uda balik kontrol ke dokter Ong blm? karena anak akusekarang ud mau 6bln jg kejang n minum depaken..saya ada rencana mau ke KK hospital tp jdwlnya msh lamabgt 22 Feb.. ada yg rekomen ke NUH ke prof low po sim or Ong hian tat.. Prof low baru dpt jdwlnya tgl 26 Feb..lama sekali, krn sedih bgt anak ku blm tegak kepalanya sampai skrg.

    Reply
    1. aaayua Post author

      Hai mba Emi, salam kenal…
      Saya udah 4x ke Prof. Ong, Februari nanti yang kelima.
      Iya, prof. Low Poh Sim atau Prof. Ong Hian Tat bagus kok. Mereka satu tim juga kayaknya.
      Memang kalau bikin appoinment begitu bisa 1 bulanan baru dapat jadwal. Saya dulu juga begitu.

      Sudah konsul ke dokter di sini? Kalau boleh tau tinggal dimana?
      Waktu usia 6 bulan kepala Shita juga belum tegak. Baru mulai tegak setelah fisioterapi mulai usia 9 bulan.
      Kalau mau email, di aaayua@yahoo.com.

      Reply
        1. anis

          salam kenal mbak, sekedar sharing aja.
          waktu usia 6 bulan anak ku juga pernah mengalami kejang, awalnya diare trus panas tinggi dan akhir nya kata dokter anakku Dehidrasi Berat. masuk ruang ICU 4 hari dan rawat inap 9 hari. sempat gak sadar 1 hari.
          selama di Rs kejang 3 kali dengan durasi 5 menit, sekarang masih control dokter tiap obat kejang nya habis.
          obatnya semacam puyer gt, yang saya mau tanyakan apakah untuk jangka panjang obat tersebut gak ada efeknya ?
          saking seringnya minum obat sampai anak ku trauma kalo liat sendok, jadi susah makan.

          Reply
          1. aaayua Post author

            Hi mba Anis,

            Ga tanya nama obatnya apa?
            Minum obat jangka panjang pasti ada efeknya. Ada yg minum obat tertentu, harus cek darah tiap 6 bulan supaya kalau ada efek samping bisa terdeteksi segera.

            Kalau saya biasanya tanya ke dokter nama obatnya, kandungannya apa, efek sampingnya apa, trus saya crosscheck di drugs.com.

            Setiap obat pasti ada efek samping, apalagi obat kejang. Jadi tinggal ditimbang2 minum obat itu lebih besar manfaatnya atau efek sampingnya. Jadi harus tanya detil ke dokter saat konsultasi.

            Semoga membantu ya

  3. meiliana

    mba ayu, salam kenal
    aq juga mengalami hal yang sama untuk anak pertamaqu..mungkin kita bisa sharing..
    Anakqu lahir 2 Desember 2013, ketika anakqu berumur satu bulan, dy mengalami kejang parsial sebelah kiri..
    setelah CT Scan, diketahui kalo otak kanannya tidak berkembang yg nantinya akan mempengaruhi tumbuh kembang dan kecerdasannya dan akan mengalami idiot.
    anakqu sebelumnya diberikan depakene,tp tetep kejang dan akhirnya diberikan tegretol..
    setelah konsumsi tegretol, memang kejangnya berhenti tetapi lingkaran kepalanya makin membesar (biasa disebut hydrosefalus) dengan usia 2bulan, lingkar kepala anakqu 44cm (sewaktu lahir lingkar kepala 36cm) dan selalu menangis (karna otak kanan tidak berkembang jadi terisi cairan) dan anak saya selalu konsumsi tegretol dan obat parasetamol setiap 5jam sekali (dikarenakan suhu tubuh panas terus menerus).
    Kemudian ada kawan yg memberitahu untuk pengobatan alternatif, saya ikuti saran kawan saya karna kita berikhtiar kemanapun.. Pada tanggal 7 Februari 2014, saya menemui therapis tersebut (beliau mengerti syaraf). Ketika melihat anakqu dan diceritakan kronologisnya, beliau bilang kalau anakqu itu kecengklak yang menyebabkan aliran oksigen dan darah tidak sampai ke otak.
    Sebelum bertemu beliau, paginya anakqu minum obat parasetamol. Kemudian ditotok oleh beliau untuk dicari penyumbatannya.. Setelah bertemu beliau, panas anakqu langsung turun dan tidak perlu lg minum parasetamol.
    Selama satu setengah tahun, anakqu minum tegretol dan pengobatan terapis tersebut.. dan alhamdulillah, sekarang anakqu bisa hidup dengan normal walaupun memang sedikit mengalami tumbuh kembang yg sedikit terlambat di awalnya..
    Kalo menurut saran saya, ibu ayu bisa mencoba alternatif yg saya jalankan.. Ga ada salahnya kita berikhtiar tetapi harus dengan keyakinan..

    Reply
      1. Intan Mutia

        Salam kenal mbak…aku intan anak ku sekarang usia 11 tahun ….sejang umur 9 th mengalami kejang….minum obat udah 3 kali ganti mbak dosisnya dinaikan ….depaken syiriup masih kejang depakote 250 juga ….sekarang depakote yg 500 gr..
        Tapi juga masih suka kejang….dan aku baru konsultasi lagi sama dokter dan dosis obatnya ditamba dg minum kepra…sekarang aku bingung apa obat yg dianjurkan dokter aku kasih atau tdk…karena dia minum obat depakote aja udah teler banget tidur2 terus….tapi dokter saranin harus….gimana yah….emang diet katagonik itu bener yah mbak….kasih aku infornasi dong mbak ayu….makasih yah sebelumnya ..

        Reply
        1. aaayua Post author

          Salam kenal Intan…

          Kalau boleh tau, tinggal dimana?
          Shita juga minum Keppra. Kalau ragu soal dosis atau pemilihan jenis obatnya, coba second opinion ke dokter lain.
          Soal diet ketogenik, ini memang salah satu terapi untuk epilepsi.
          Cuma karena sekarang teknologi farmasi sudah maju, dokter jarang sarankan diet, karena obat memang lebih simpel. Kalo diet, kita harus atur menu, tiap makanan ditimbang hingga ke gram. Diet ini juga bukan tanpa efek samping, makanya sebaiknya melakukan diet ini tetap di bawah pengawasan dokter.

          Kalau soal keberhasilan diet, beda-beda tiap anak. Tapi ada yang bisa sembuh total memang.
          Kalau mau diskusi lebih banyak, email aja di aaayua@yahoo.com

          Semoga segera dapat solusi terbaik buat anaknya ya…

          Reply
    1. Aya

      @Meliana… Dimanakan alamat pengobatan alternatifnya bun? Anakku juga mengalami hal yg sama. Saat ini msh seperti bayi walau usianya 3thn oktober nanti… 2A02C92E pin ВВМ dan 083875508816 WA Please contact aku ya bun… Terima kasih sebelumnya

      Reply
  4. handa

    Halo,mba. gmana shita skrng? gman ahsil dr dr. Ong. ? aku jg lg stress2nya skrng, udh 3 hari anakku (9 bulan) minum obat valproic acid untuk menanggulangi kejangnya.. 🙁 .

    Reply
    1. aaayua Post author

      Halo…
      Shita masih ada kejang. Tapi intensitas sudah jauh berkurang dan kejangnya sekarang tidak terlalu mempengaruhi aktivitas sehari2. Jadi aku sudah lebih tenang sih.

      Perkembangannya pun sudah jauh lebih bagus walau masih delay dibanding anak seusianya.

      Handa yg sabar ya. Pasti ada hal luar biasa menanti di balik semua perjuangan ini.

      Reply
      1. handa

        *menetes lagi air mata ini, entah kenapa bisa terjadi hal spt ini ya…ya Tuhan, ampuni dosa2 kami..saya pikir obat itu bisa mematikan yg menyebabkan potensi epilepsinya, trnyata cuma menanggulangi kejangnya ya… apa mba ga tanya kepada dokter trsebut, bagaimana spy tdk trjadi epilepsi ? 😀

        Reply
  5. aaayua Post author

    Dear handa,
    Kita sebagai orang tua harus kuat karena anak meneladani kita. Aku selalu percaya, ada yang spesial pada diri Shita. Kondisi epilepsi Shita justru membuatku sadar untuk menghargai setiap potensi dan kelebihannya, sekecil apapun. Tuhan mempercayakan anak spesial pada kita bukan tanpa alasan 🙂

    Penyebab epilepsinya belum diketahui, jadi ya dokter juga ga bisa kasi cara supaya hilang epilepsinya. Yang kulakukan sekarang adalah mencegah pemicunya, seperti capek, stres, kurang tidur, dll. Selain itu makanan juga diperhatikan. Tidak konsumsi gula, makanan gizi seimbang, dan bervariasi. Rotasi makanan juga penting untuk mencegah sensitivitas terhadap makanan tertentu. Pokoknya segala upaya dicoba deh.

    Semoga semua indah pada waktunya ya…

    Reply
  6. Arsy Aprianty

    Hao mba, salam kenal , bgmn kondisi shita skrg mba? Mba, anakku 8 buan diagnosa epilepsi tp sdh dgn depakene dan clonazepam pun tdk terkendali, baca2 artikel mbak, saya curiga obatnya tdk cocok dgn jenis epilepsi anak saya, mb saya berniat mau ke prof di nuh, saya boleh email mb ya caranya bgmn

    Reply
    1. aaayua Post author

      Hai mba Arsy,

      Semoga anaknya sehat2 ya…
      Kirim email aja mba. Di website NUH ada cara daftar pasien internasional. Nanti mereka yang bakal kasi step2 pendaftarannya.

      Biasanya baru dapat jadwal sekitar sebulan dari waktu kita daftar. Manfaatkan waktu nunggu itu buat urus paspor.

      Mba lokasi dimana? Selama ini ke dokter siapa?

      Reply
      1. Arsy Aprianty

        Iya terima kasih mbak, kmrn mash galau mau ke singapore krn masih mau coba di jakarta, saya lokasi bengkulu mbak…kmrn akhirny rutin ke dr. Hardiono alhamdulillah baru 2minggu ini cukup terkendali kejangnya,klo blm berhasil jg baru langsung cuz ke singapur

        Reply
      2. Arsy Aprianty

        Iya terima kasih mbak, kmrn mash galau mau ke singapore, krn saran keluarga coba di jakarta, saya lokasi bengkulu mbak…kmrn akhirny rutin ke dr. Hardiono alhamdulillah baru 2minggu ini cukup terkendali kejangnya,klo blm berhasil jg dg dokter ini baru langsung cuz ke singapur..shinta bgmn skrg perkembangannya mbak, calista skrg umur 11 bln tp blm bsa apa2 cuma bolak balik kanan kiri, leher jg blm bgtu kuat, kadang pesimis tp mesti dikuat2in

        Reply
        1. aaayua Post author

          Dear Arsy,

          Shita baik. 2 bulan ini kejangnya mulai tiap hari lagi, tapi memang ada perkembangan pada tumbuh kembangnya. Sekarang lagi eksperimen posisi duduk dan mulai angkat badan persiapan merangkak.

          Selalu optimis ya… Yang penting usaha terus. Shita saat ini usia 2 tahun, tapi masih merayap. Lagi latihan supaya bisa merangkak.

          Calista pernah fisioterapi? Kalo boleh saran, coba beli buku what to do about your brain injured child (ada yg bahasa indonesia) dan your baby is a genius tulisan glenn doman. Buatku buku2 itu sangat membantu memahami kondisi shita, serta memilih terapi dan latihan yg cocok. Kalau tertarik, bisa pesan di glenndomanindonesiadotcom.

          Bila ingin diskusi lebih detil, boleh email ke aaayua@yahoo.com yaaaa. Tetap semangat !!

          Reply
    2. Ganda

      Halo Mba Arsy, mungkin Anda boleh mencoba untuk menghubungi Pak Jefri untuk bantuannya supaya lebih cepat dapat jadwalnya. Pak Jefri ada kerjasama dengan bnyk RS di singapore. Salah satunya di NUH dan dulu saya jg di bantu untuk mendapat jadwal Prof Low Poh Sim.ini No HP Pak Jefri 081222777108.

      Reply
  7. Ala

    Hallo mbak Ayu,
    Senang rasanya bisa ketemu blog mbak ttg kejang. Anak saya awal bulan mei lalu kejang dan kondisinya sdg diare dan agak demam. Sempat dirawat inap selama 5hr dan dokter blg kejangnya dipicu krn demam. Sebelum kenjang terjadi anak saya menangis. Nah…kemarin anak saya dipijat dgn jasa pijat bayi, mmg kalau sdg dipijat srg nangis. Tapi kmrn itu entah knp stlh pijat sambil nangis tiba2 mata anak saya mendelik ke kiri dan kejang. Saya pakai stesolit untuk redakan kejangnya dan saya konsultasi ke dokter. Dokter menyarankan untuk ke neurologi krn suhu badannya normal.stlh 2x kejang muncul asumsi2 dr keluarga bhwa kejangnya dipicu menangis histeris. Berhubung saya masih awam, dgr saran keneurolog aja rasanya gmn gitu…boleh minta masukannya dr mbak ayu dan ibu2 lainnya yg pny pengalaman lbh banyak. Terima kasih.

    Reply
    1. aaayua Post author

      Hai mba Ala,
      Senang bisa berbagi…

      Kejang itu bisa dipicu oleh berbagai hal, salah satunya memang nangis histeris. Anak terlalu senang juga bisa bikin kejang kok. Jadi buat anak yang punya kecenderungan kejang, memang harus dijaga emosinya supaya tidak terlalu ekstrim. Anaknya usia berapa ya?

      Kalau masih ragu ke neurolog, coba observasi dulu. Tapi kalau kejang tanpa demamnya terjadi lagi, saran saya sih segera ke dokter anak konsultan neurologi ya… supaya bisa dievaluasi. Kalau ditangani dengan cepat, mudah-mudahan cepat juga pulihnya. Semoga ga berulang lagi kejangnya yaaaa

      Reply
      1. Neneng feriana

        Assalamualaikum,salam kenal mama syifa,saya mamanya imam,dr duri riau,anak sy terdiagnosa encephalitis umur 5 th ,dr normal skrang menjadi abk,tdk bicara ,hilang ingatan,dan gangguan prilaku hyperaktif dan menjadi epilepsi,sdah 9 th kami jalani,unt pengobatan Alhamdulillah tak pernah berhenti unt berobat,hanya saja jodohnya yg belum Allah temukan,nalaka,nuh singapur,rscm , padang paya kumbuh dan skarng sy di pekanbaru.sy yakin,bhwa tak ada satupun pemberian Tuhan itu yg tdk baik buat kita,semuanya pasti baik,sprti saya,kalo di hitung 9 th itu lama banget,tp ktika vertemu dgn org yg lebih lamaa dr kita dlm hal yg sama dan tetap tersenyum , juatru jadi penyemangat bhwa hidup ini akan menjadi indah jk kita slalu mensyukuri nya,sampai hRi ini sy tetap terus bwrjuang unt Nk sy,minum obat,minum vit,therapy ,alternatif,dan mengajarkan kemandirian di rumah,9 th , Alhamdulillah ank sy tetap kjang,tp jauh lebih tenang,dan th ini adlah th pertama kami bisa berlebaran,ya Allah ,rasanya luar biasa bahagianya,Alhamdulillah.buat teman2 senasib,tetaplah semangat,krn semangat kita adalah obat manjur unt progres lebih baik unt kt ke depanny atas izinNYA,aamiin

        Reply
        1. aaayua Post author

          Makasih sharingnya mba Neneng….
          Bikin makin semangat…
          Kita harus selalu semangat dan berusaha yang terbaik buat anak kita ya…

          Reply
  8. adelia

    Anak sma kejang waktu umur 3bln sudah di eeg hasilnya epilepsi ank sya mengkonsumsi obat depakene sama 2thn alhamdulillah skrg sudah tidak kejang lg skrg anak umur nya 5thn memang tumbuh kembang nya menjadi lambat

    Reply
  9. Anisa

    Hay mbak ayu, salam kenal sy anisa.. Bisa sharing ttg kejang lewat wa mbak??, anak sy dlu sering kejang dr umur 1bln, skrg sdah tidak kejang lgi umur 11bln tpi msih minum obat depakene melanjutkan terapi
    Wa sy 081329892095
    Trima ksih sblumnya

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *