Memilih Jenis Kelamin Bayi

memilih jenis kelamBanyak yang bilang kalau melalui program bayi tabung, kita bisa memilih jenis kelamin bayi. Akan tetapi, karena ini adalah program untuk anak pertama, ya tidak perlu pilih-pilih dulu lah… kalau berhasil saja sudah sangat bersyukur.

Sebagai orang Bali, tidak bisa dipungkiri, harapan untuk memiliki anak laki-laki sangat besar. Secara adat, anak laki-laki itu tidak sekedar pewaris, tapi juga yang diserahi tanggung jawab mengurus rumah dan tanah keluarga. Jadi jangan heran kalau suami sangat menginginkan anak laki-laki. Apalagi dengan latar belakang tiga bersaudara semua laki-laki, ditambah keponakan dari kakaknya juga laki-laki. Kalau saya, laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting sehat dan selamat.

Ketika program bayi tabung yang dijalani berhasil dan saya dinyatakan positif hamil, rasanya luar biasa bahagia. Bahkan di awal-awal masih tidak percaya rasanya kalau hamil. Baru yakin saat kontrol dan mendengar detak jantung bayi saat USG. Ternyata benar ada bayi mungil tumbuh di rahimku!

Suami yakin sekali kalau bayinya laki-laki. Atau meyakinkan diri karena begitu inginnya punya anak laki-laki. Teman-teman juga banyak yang menebak kalau bayinya laki-laki. Lucunya, setiap USG, si adek seperti sengaja menutupi bagian kelaminnya. Jadi sampai hamil 7 bulan, masih belum tahu pasti jenis kelaminnya adek bayi.

Saat hamil 7 bulan itu, saya dan suami pergi ke Bali, untuk sembahyang ke Pura Besakih. Tujuannya untuk mengucap syukur atas karunia-Nya, sekaligus mohon supaya proses kelahirannya lancar, adeknya lahir sehat, dan selamat. Suasana pura sangat ramai, karena bertepatan dengan hari raya Siwaratri. Beruntung, kami dan rombongan mendapatkan tempat beristirahat yang tenang dan dekat dengan toilet. Buat ibu hamil, itu sangat penting!

Dalam rombongan kami, ada seorang kenalan, sebut saja namanya Sri (bukan nama sebenarnya). Ternyata Sri punya kemampuan untuk berkomunikasi dengan leluhur, juga spirit suci lainnya. Sri bertanya apakah boleh memegang perut saya. Tentu saya ijinkan. Baru tangan Sri menyentuh, adek bayi mulai menendang. Sepertinya menendang senang. Sri memejamkan mata, posturnya rileks, wajahnya tersenyum. Saya merasa ia sedang berkomunikasi dengan adek bayi.

Setelah selesai, Sri mengatakan kalau adek bayi cerita saya rajin gerak badan, suka pake bola. Eh benar… saya suka latihan pake gymball. Katanya adek bayi juga bilang kalau saya jarang memutar musik klasik. Hihihi… itu juga benar. Kemudian Sri berpaling dan bicara pada suami. Katanya, “Dedeknya bilang, kalau nanti lahirnya perempuan, tetap disayang ya. Nanti akan punya adik laki-laki kok.” Duh… ternyata dia bisa merasakan keinginan orang tuanya. Suami kaget, tapi kemudian menerima kenyataan bahwa kemungkinan besar akan punya anak perempuan. Sepulang dari Pura Besakih, cara pandang suami berubah. Dia mulai lebih pasrah soal jenis kelamin adek bayi, yang penting sehat.

Saat USG berikutnya, dokter memastikan kalau bayi yang saya kandung memang perempuan. Akhirnya adek tidak malu-malu lagi menunjukkan jati dirinya.

Sebulan kemudian, saya dan suami mengikuti pelatihan hypnobirthing, yang dibimbing oleh Ibu Lanny Kuswandi. Di sana Ibu Lanny menyampaikan bahwa janin itu adalah spirit yang sangat suci dan bisa diajak komunikasi. Mereka tahu apa yang diinginkan orang tuanya, misalnya jenis kelamin tertentu. Kadang mereka tidak mau memperlihatkan jenis kelamin saat USG karena takut mengecewakan orang tua mereka.

Deg! Langsung rasanya tertohok! Jangan-jangan itu juga yang terjadi pada kami. Karena terlalu fokus dan sangat ingin punya anak laki-laki, adek takut memperlihatkan jenis kelaminnya. Baru setelah kami mau menerima bahwa kemungkinan bayinya perempuan, baru deh terlihat saat USG, kalau bayinya memang perempuan. Ini pelajaran berharga pertama kami sebagai calon orang tua, bahwa setiap anak itu unik dan punya potensi masing-masing.

Jangan biarkan ambisi orang tua membuat mereka tidak bisa berkembang seperti yang seharusnya. Dari peristiwa ini kami belajar untuk membiarkan anak menggali potensinya masing-masing. Tugas kami sebagai orang tua semata memfasilitasi agar mereka bisa mencapai cita-cita dan impian mereka.

Share Button

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *