Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

inisiasi menyusu dini IMD
Dalam beberapa tahun terakhir, mulai digaungkan pentingnya inisiasi menyusu dini atau IMD saat awal kelahiran bayi. Namun masih banyak perbedaan pandangan tentang pelaksanaan IMD yang benar. Ada yang menganggap asalkan bayi baru lahir langsung diletakkan di dada ibunya selama 5 menit saja, itu sudah disebut IMD. Ada lagi yang mengatakan, minimal 30 menit bayi diletakkan di dada ibu. Tapi lebih banyak lagi yang belum mempraktekkan IMD dengan alasan nanti bayinya kedinginan. Sebenarnya bagaimana pelaksanaan IMD yang benar? Apa saja manfaatnya?

Meletakkan langsung bayi baru lahir di dada ibunya dalam setengah jam setelah kelahiran, baru bisa disebut sebagai inisiasi menyusu dini atau IMD. Waktu yang diperlukan bayi bervariasi, biasanya antara 30-60 menit hingga berhasil mencapai payudara ibu dan menyusu. Bisa saja bayinya malah tertidur di atas dada ibu yang hangat, sambil merasakan detak jantung ibu. IMD meningkatkan ikatan emosional antara ibu dan bayinya. Selain itu, bayi juga dirangsang insting bertahan hidupnya, agar bergerak mencari payudara ibu.

Proses IMD ini disebut juga breastcrawl, yaitu proses bayi merayap di dada ibu untuk mencari payudara dan memulai proses menyusu untuk pertama kalinya. Ada beberapa  tips supaya bisa sukses menyusui eksklusif (breastcrawl.org), yaitu:

  1. Melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dalam 30 menit pertama setelah kelahiran.
  2. Tidak memberikan bayi baru lahir cairan apapun, selain ASI, kecuali ada indikasi medis.
  3. Ibu dan bayi harus tidur bersama, 24 jam sehari, sejak bayi lahir.
  4. Hindari penggunaan dot dan empeng pada bayi ASI.
  5. Ikuti kelas-kelas menyusui sebagai salah satu bentuk dukungan selain dukungan keluarga di rumah tentunya.

Saat belajar soal IMD, saya sudah membayangkan betapa IMD akan menjadi momen yang sangat indah. Saya langsung memantapkan diri untuk melakukan IMD saat melahirkan nanti. Apalagi saya berencana untuk melahirkan di rumah (cerita persiapannya di sini). Tentunya pelaksanaan IMD bisa berjalan lancar. Kalau melahirkan di rumah sakit, kita perlu survei dulu, apakah prosedur di rumah sakit tersebut memungkinkan untuk dilaksanakannya IMD? Perlu juga mengkomunikasikan keinginan kita ini dengan dokter yang merawat kita, supaya segala sesuatunya sudah disiapkan.

 Saya semakin menginginkan IMD, karena katanya IMD membuat proses menyusui jadi lebih mudah, dan angka keberhasilan menyusui ekslusifnya juga lebih tinggi. Saat itu, saya merasa tidak perlu bicara dengan dokter soal ini. Toh nanti lahirannya di rumah. Jadi saya bicarakan soal IMD dengan bidan yang akan membantu saya melahirkan. Bu bidan sudah memastikan bahwa IMD sangat mungkin dilakukan asal bayinya sehat. Oke…

Yang tidak disangka adalah…. saya akhirnya melahirkan di rumah sakit melalui operasi cesar. Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini. Saya tidak bisa menuntut IMD 1 jam karena memang belum bicara sama dokternya. Selain itu, saya juga kedinginan di ruang operasi. Badan saya sampai menggigil. Jadi khawatir juga kalau bayi saya diletakkan di dada, malah ikut kedinginan juga. Jadi pasrahlah sudah. Bayi hanya diletakkan di dada selama 5 menit untuk difoto bersama bapak ibunya, setelah itu dibawa ke ruang bayi.

Kembali ke kamar perawatan, saya belum bisa bertemu bayi saya. Sedih rasanya, tapi mungkin memang ini yang terbaik. Saya belum bisa banyak bergerak, suami dan mertua sedang pulang ke rumah untuk menanam ari-ari.

Baru tidur 1,5 jam, saya terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Tidak berapa lama, suami datang. Karena tidak bisa tidur, kami ngobrol, membicarakan proses persalinan yang baru saja berlalu. Di tengah obrolan, terdengar suara tangisan bayi. Karena kami satu-satunya pasien malam itu, tangisan itu pastilah tangisan bayi saya. Suami langsung ke kamar bayi dan minta agar bayinya diajari menyusu.

Oleh suster, bayinya diletakkan di samping saya dan diposisikan untuk menyusu. Tanpa pakai lama, bayiku langsung menyusu dengan lahap. Tuhan memang luar biasa, menciptakan makhluk hidup dengan segala insting dan refleks untuk bertahan hidup. Setelah kenyang dan tidur kembali, bayi ditidurkan di sebelah saya. Saat itu sejujurnya saya sempat ragu, apakah ASI saya benar sudah keluar? Jangan-jangan bayinya belum minum apa-apa. Saya coba pencet, tidak keluar apa-apa. Saya coba pencet payudara yang sebelahnya, eh… keluar ASI. Rasanya langsung lega… Ternyata walaupun saya melahirkan melalui operasi… walaupun tidak pakai IMD, saya tetap bisa langsung menyusui bayi tersayang.

Dari peristiwa ini, saya belajar bahwa setiap orang punya proses dan jalan masing-masing. Kita tentu ingin yang ideal, tapi yang ideal itu ternyata belum tentu yang terbaik bagi kita. Menyusui adalah hal yang sangat alami, jadi yakinlah, semua ibu pasti bisa menyusui bayinya.

Share Button

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *