Melahirkan di Rumah (Homebirth) Bagian 2

melahirkan di rumah (homebirth)Tidak terasa saat-saat persalinan semakin dekat. Persiapan pun sudah semakin matang. Latihan relaksasi dan meditasi semakin sering dilakukan. Mertua sudah siap menemani. Ibu bidan pun sudah siap dihubungi saat sudah mulai kontraksi. Dokter kandungan dan rumah sakit pilihan pun sudah disiapkan, yaitu dr. Okky Oktafandhi di RS Archa Medica, BSD.

Tanggal 10 april, pada sore hari, saya mulai merasakan gelombang cinta, tapi masih jarang-jarang. Menjelang malam gelombang cinta yang datang makin terasa intens, tapi waktunya masih tidak teratur. Akibatnya semalaman saya tidak bisa tidur. Baru akan tertidur, gelombang cinta datang lagi. Mertua ikutan tidak tidur karena mendengar rintihan di kamar sebelah (kecup mertua sayang).

Tanggal 11 april pagi, akhirnya bisa tertidur. Lumayan dapat tidur 1,5 jam. Gelombang cinta berkurang, tidak sesering semalam. Bu bidan datang dan membimbing yoga. Bu bidan meminta saya untuk bersabar, karena kontraksi awal bisa memakan waktu lama. Kalau sudah rutin setiap 10 menit, baru bu bidan akan bersiap-siap datang.

Sore hari, kedatangan gelombang cinta mulai intens lagi. Belum teratur, tapi intervalnya makin pendek. Akhirnya malam hari bu bidan datang lagi, periksa dalam, baru bukaan 2 hehe… Malam hari, lagi-lagi gelombang cinta datang bertubi-tubi dan lagi-lagi tidak tidur semalaman.

Tanggal 12 april pagi, asisten bidan datang. Ketika periksa dalam, sudah bukaan 4. Rasanya senang sekali, pertemuan dengan si adek semakin dekat. Ternyata kontraksi lebih intens dan interval lebih cepat kalau saya berdiri. Jadilah saya berjalan keliling rumah untuk membantu adek mencari jalan keluar. Setiap gelombang cinta datang, bu bidan dan asistennya dengan sigap menggosok pinggang dan memijit kaki. Ah… rileks… Begini rasanya jadi ratu sehari, dikelilingi dayang-dayang yang siap memijit.

Siang hari, bukaan 6. Mertua mengingatkan untuk makan. Sebenarnya tidak lapar, tapi sadar melahirkan perlu tenaga besar. Jadi paksa makan ditambah minum madu. Menjelang sore sudah bukaan 8. Ah… sudah semakin dekat. Bahkan suami bilang, rambutnya adek sudah terlihat.

Tapi ternyata… sebagian mulut rahim masih kaku. Ketika dicoba didorong, bukannya melebar dan membuka jalan, tapi malah menguncup dan membuat jalan lahir menyempit. Padahal si adek sudah tidak sabar ingin keluar dan terus mendorong. Akibatnya keinginan untuk ngeden besar sekali, tapi harus ditahan. Jam 4 sore ketuban pecah. Airnya jernih, denyut jantung bayi normal. Bu bidan masih berusaha membantu supaya bukaan bertambah, tapi ternyata mentok.

Akhirnya jam 6 sore, bu bidan memutuskan untuk ke rumah sakit. Untung saya sudah mempersiapkan diri, jadi tidak kaget dan siap berangkat. Akhirnya berangkatlah kami ke rumah sakit, bu bidan dan 2 asistennya ikut menemani. Jam 7 malam tiba di rumah sakit, langsung diobservasi oleh bidan di sana dan lapor ke dr. Okky. Saya sudah merasa kalau akan dilakukan operasi. Jadi ketika bidan menyampaikan keputusan dokter untuk operasi, saya sudah menyiapkan diri.

melahirkan operasi caesarSuami saya yang justru sedih sekali. Untunglah dia bisa menerima kondisi ini dan menemani saya sepanjang operasi. Jam 9 malam, lahirlah bayi cantik yang sehat, Shita. Selamat datang di dunia ya, nak…

Bagaimana rasanya, sudah bersusah payah mempersiapkan melahirkan di rumah, tapi pada akhirnya tetap harus operasi di rumah sakit? Saya tidak menyesali sedikit pun keputusan yang saya buat. Justru malah saya jadi merasakan proses melahirkan yang lengkap, merasakan nikmatnya gelombang cinta plus aduhainya bekas jahitan operasi ­čśÇ … Saya percaya, itu semua adalah proses yang harus saya dan Shita lalui, sehingga patut disyukuri karena sudah berjalan lancar. Kan sesuai prinsip gentle birth, Shita lahir melalui proses yang nyaman karena tanpa paksaan, serta lahir dengan sehat dan selamat.

Oh iya, hasil komunikasi dengan janin saat masih dalam kandungan, ternyata cuma meleset sehari. Yang awalnya 11 april, menjadi 12 april.  Jadi mulailah berkomunikasi dengan bayi anda sejak masih dalam kandungan.

Share Button

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *