Melahirkan di Rumah (Homebirth) Bagian 1

ibu hamilBuat sebagian besar orang, khususnya yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, melahirkan di rumah adalah sesuatu yang aneh. Bagaimana kalau kenapa-kenapa? Siapa yang bantu? Kan tidak steril? Dan sederet keraguan lainnya. Tapi buat saya, konsep melahirkan di rumah justru hal yang saya idam-idamkan.

Semua berawal baca-baca soal gentle birth. Maklum, saya tidak bekerja, jadi saat hamil ya kerjanya cari info di internet soal hamil, melahirkan, dan perawatan bayi baru lahir. Gampangnya, gentle birth itu adalah melahirkan secara nyaman dan tentunya aman, baik buat bayi maupun ibunya. Bukan berarti gentle birth harus melahirkan di rumah ya. Melahirkan secara cesar pun tetap bisa jadi gentle birth kok. Kalau mau tahu lebih detil soal gentle birth, bisa gabung grup Gentle Birth Untuk Semua di facebook.

Dari sanalah saya mulai membaca cerita-cerita tentang melahirkan di rumah. Rasanya kok nyaman ya, kita bisa menikmati kontraksi yang ‘katanya’ sakitnya aduhai itu di tempat yang familiar. Suasana lebih pribadi, bisa diatur sesuai kemauan kita. Posisi melahirkan pun bisa sesuka kita. Sepertinya nyaman sekali. Tapi bagaimana menyampaikan keinginan ini ke suami ya? Apakah dia setuju? Apalagi, ini adalah calon buah hati yang sudah ditunggu selama 7 tahun. Berhasil hamil juga melalui program bayi tabung.

Akhirnya coba print beberapa artikel terkait yang menurut saya bagus, untuk ditunjukkan ke suami. Niatnya sih supaya dia baca sendiri, baru deh buka percakapan ke arah sana. Eh dianya cuek aja. Artikel hanya diambil kemudian diletakkan di sampingnya. Kesal rasanya, akhirnya keluar deh kalimat itu, “Saya ingin melahirkan di rumah.”

Suami cuma menatap saya bingung dan bertanya kenapa. Setelah saya jelaskan, dia cuma senyum-senyum. Uuh… makin kesal deh. Tapi yang melegakan, ternyata dia senang saya tahu apa yang saya mau dan dia siap mendukung apapun keputusan saya terkait melahirkan. Horeee…. Setelah itu, jadi makin semangat mencari informasi tentang melahirkan di rumah, termasuk mencari bidan yang akan membantu persalinan nanti.

Meyakinkan suami sudah, sekarang menjelaskan dan meyakinkan orang tua. Mertua tidak masalah, ayah saya juga mengerti pilihan saya. Nah… ibu nih yang pasti menentang. Saya mau pindah dokter kandungan, cari yang lebih dekat rumah saja sudah ditentang habis-habisan. Untungnya, setelah dijelaskan pelan-pelan, baik-baik, ibu menerima keputusan saya. Setuju sih tidak, tapi paling tidak bisa menerima kalau itu yang saya inginkan dan saya rasa terbaik untuk saya dan bayi saya.

Mencari bidan yang tepat juga bukan perkara mudah. Sampai usia kandungan 6,5 bulan, masih belum dapat bidannya. Jadi saya tetap survey dokter kandungan dan rumah sakit, buat rencana cadangan. Pokoknya saya percaya, kalau memang yang paling baik adalah melahirkan di rumah, pasti nanti akan ketemu bidan yang tepat.

Usia kandungan 7 bulan, saya ikut pelatihan self healing Reza Gunawan. Tak dinyana, dari sana saya dapat informasi bidan yang sudah biasa membantu persalinan di rumah, yaitu Bidan Erie. Setelah ketemu pun langsung cocok dan klik. Bahagianya luar biasa. Tapi saya tidak mau takabur, tas buat ke rumah sakit, dan rumah sakit pilihan tetap dipersiapkan. Kita boleh berencana, tapi apapun bisa terjadi dan saya harus siap.

Saya juga rajin olahraga. Sebelum hamil jarang olahraga, saat hamil justru rajin, demi bisa melahirkan secara normal. Tiap pagi jalan minimal 1,5 km dan yoga paling tidak 3 kali seminggu. Yoganya cukup di rumah saja, ada banyak sekali video yoga untuk hamil di youtube. Tinggal pilih saja yang paling nyaman untuk dipraktekkan.

Persiapan saya yang lain dalam menghadapi persalinan di rumah ini adalah ikut pelatihan hypnobirthing. Walaupun sudah baca bukunya dan belajar relaksasi melalui CD, beda rasanya dengan relaksasi dibimbing langsung. Selain itu, suami ikut juga, sehingga dia paham tahapan persalinan yang akan dilewati, jadi bisa membantu saya kalau saya mulai panik.

Pada pelatihan tersebut, kita diajarkan untuk berkomunikasi dengan janin, bahkan bisa bertanya kapan ia ingin dilahirkan. Ketika dipraktekkan di rumah, dapat jawaban tanggal 11 april, minggu ke-39 kehamilan. Setelah itu, saya rajin komunikasi dengan si adek, mulai kontraksinya tanggal 10 saja ya, biar tidak terlalu lama proses persalinannya. Soalnya dari yang saya baca, persalinan anak pertama, bukaan awal bisa memakan waktu yang lama. Yah namanya juga usaha hehe. Kita lihat saja apa yang terjadi.

Demikianlah persiapan yang saya lakukan untuk mempersiapkan persalinan normal di rumah. Cerita persalinannya di sini ya…

Share Button

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *