Perjuangan Untuk Hamil dan Mendapatkan Buah Hati

ibu hamil melalui bayi tabungTernyata bisa hamil tak semudah yang saya kira sebelumnya. Sejak menikah di usia 27 tahun, tidak pernah terpikir untuk menunda punya anak. Justru inginnya langsung hamil, supaya bisa menimang buah hati sebelum usia 30 tahun. Tapi yang namanya manusia, boleh saja berencana, namun kuasa tetap di tangan Tuhan. Hingga 7 tahun menikah, belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Sedih sih, apalagi adik yang menikah belakangan malah lebih dulu punya anak. Tapi bukan berarti putus asa kan? Apalagi banyak juga pengalaman pasangan yang sulit mendapatkan buah hati.

Mulailah usaha mengajak suami ke dokter. Maunya biar sekalian konsultasi sama-sama. Biar bagaimana pun, punya anak kan usaha bersama. Awalnya suami menolak dengan berbagai alasan. Dia memang paling anti diajak ke dokter. Kalau sakit, lebih baik minum jamu yang pahit daripada minum obat dari dokter. Namun setelah mendengar salah satu om-nya berhasil punya anak setelah 12 tahun menikah, akhirnya suami mau juga ke dokter.

Kami mulai rutin konsultasi dokter tahun 2008, 2 tahun setelah menikah. Saya konsultasi dengan dokter spesialis infertilitas, sementara suami dengan androlog. Pertama konsul, langsung diminta melakukan segala macam tes, dari tes hormon, torch, HSG, dan sebagainya. Saya sih oke aja, tapi pas bayar mengkeret juga hehe. Ya sudahlah, demi punya anak, ya dijalanin deh…

Hampir 2 tahun setiap bulan bolak-balik ke dokter (masih dokter yang sama), tapi belum berhasil juga. Akhirnya capek juga dikasi obat dan vitamin terus, dan memutuskan untuk istirahat dulu. Mulai deh cari-cari terapi alternatif. Sepupu saya kebetulan punya kenalan tukang pijat yang banyak bantu pasangan lain punya anak. Cobain deh, siapa tahu berhasil. Pertama kali pijat, sakitnya luar biasa. Tapi memang badan jadi jauh lebih enak. Suami juga cocok sama tukang pijatnya. Jadilah kami rutin pijat, plus minum jamu untuk membantu proses kehamilan.

Setelah hampir setahun pijat, saya terpikir untuk ke dokter lagi, sekalian cek secara medis, apakah ada perbaikan setelah terapi pijat. Masih kembali ke dokter yang lama, karena waktu itu belum terpikir untuk mencari dokter lain. Saat konsultasi, dokter menyarankan untuk coba inseminasi. Saya langsung setuju. Suami awalnya sih ragu, karena menurutnya itu tidak alami, tapi akhirnya setuju juga. Sayangnya, tetap belum berhasil. Dokter kemudian merekomendasikan untuk langsung bayi tabung saja, karena kalau inseminasi ulang, kemungkinan besar gagal lagi.

Setelah dipikir-pikir, menurut saya itu jalan terbaik saat ini, bayi tabung. Soalnya sudah hampir segala cara dicoba. Tidak hanya secara medis dan terapi alternatif, jalan spiritual pun dijalani. Tapi suami masih keberatan dan ingin mencoba kehamilan alami. Akhirnya saya turuti dan kembali fokus di terapi pijat. Selain itu, pola makan pun diubah. Masakan rumah bersih dari MSG, berhenti konsumsi mie instan, tidak minum soda, mengurangi minuman kemasan (kecuali air mineral), dan mengurangi daging.

website wordpress pemula - wwp

Beberapa bulan kemudian, om saya, yang juga membantu kami latihan meditasi, menyarankan untuk mencoba bayi tabung. Lagi-lagi suami masih keberatan. Akhirnya saya ajak suami untuk coba terapi akupunktur. Kan lebih alami dari bayi tabung. Suami setuju dan mulai deh akupunktur seminggu 2 kali di klinik di bilangan Lebak Bulus. Pengaruh akupunktur langsung terasa, tekanan darah lebih stabil, badan terasa lebih fit. Sayangnya setelah 6 bulan rutin akupunktur, masih belum hamil juga. Karena sama dokternya dikasi obat juga, yang sekali minum 10 butir, lama-lama eneg juga minum obatnya. Kalau akupunkturnya sih asik-asik saja. Jadi berhenti lagi.

Awal 2013, saya buka lagi percakapan tentang bayi tabung. Dari raut mukanya, saya tahu suami masih keberatan untuk melakukan program bayi tabung, tapi saya minta dia pikirkan lagi. Usia saya sudah 34 tahun. Inginnya sih kalau program bayi tabung ya sebelum usia 35, karena semakin tinggi usia, kesuburan menurun dan resiko melahirkan juga makin tinggi. Sepertinya suami juga sadar resiko itu, sehingga akhirnya setuju untuk bayi tabung. Langsung deh saya hunting dokter dan klinik yang punya program bayi tabung.

Dari ubek-ubek informasi di internet dan rekomendasi kenalan, kami memutuskan untuk konsultasi dengan 2 dokter di klinik yang berbeda, di Klinik Yasmin dan Bunda International Clinic (BIC). Dari konsultasi tersebut, terlihat kalau kedua dokter memang sudah biasa menangani program bayi tabung. Penjelasannya pun enak dan mudah diterima. Namun secara ‘rasa’, saya merasa lebih ‘sreg’ dengan dr. Indra Anwar di BIC. Suami juga begitu. Dengan demikian diputuskan akan program bayi tabung di BIC dengan dr. Indra.

ayu wisata belitung

Bersenang-senang di Belitung

Saat tanya ke dokter kapan sebaiknya mulai program, dijawab kapan saja kalau sudah siap. Tinggal telepon ke klinik pada hari pertama haid dan konsultasi dokter pada hari kedua haid. Kebetulan saya masih ada jadwal pentas gamelan di bulan Juni, jadi diputuskan untuk mulai program di bulan Juli 2013. Untungnya, saya masih sempat liburan ke Pulau Belitung bersama keluarga sebelum mulai program. Puas-puasin deh main air di pantai, supaya setelah itu bisa fokus programnya.

Akhirnya bulan Juli pun tiba. Saat konsul dokter di hari haid kedua, langsung dibuatkan jadwal rencana programnya. Berapa hari suntik hormon dan berapa dosisnya, kapan perkiraan ovum pick up (OPU – pengambilan sel telur) dan kapan perkiraan embryo transfer (ET). Jujur saja, masih tidak terbayang suntiknya akan seperti apa, yang harus disiapkan apa saja. Agak deg-degan juga. Soalnya cari info di internet, tidak ada yang detil menjelaskan tentang proses bayi tabung, tahap demi tahap. Tapi kalau dari baca-baca pengalaman orang lain, memang reaksi obatnya beda-beda. Bersyukur banget saya lancar-lancar saja, bahkan suntik sendiri di rumah. Soalnya klinik lumayan jauh dari rumah, capek kalau setiap hari bolak-balik hanya untuk suntik. Mau minta suster datang ke rumah? Mahal hehe. Cuma sekali suster ke rumah, setelah itu suntik sendiri aja deh, gampang kok ternyata.

Tidak terasa, selesai juga masa suntik-menyuntik dan tiba saatnya OPU dan ET. Saat OPU, suami juga diambil spermanya, karena akan langsung dilakukan fertilisasi setelah OPU selesai. Kalau suami harus keluar kota, sperma bisa diambil beberapa hari sebelumnya dan dibekukan. Tiga hari setelah OPU, dilakukan ET. Setelah itu tinggal menunggu deh.

Ini dia saat paling tidak menyenangkan, menunggu hasil! Tidak ada keharusan untuk bedrest, karena kalau tidak biasa diam, jadinya malah stres. Jadi aktivitas biasa aja, yang penting tidak berlebihan dan jaga kondisi lebih dari biasanya. Setelah 2 minggu, kami diminta ke lab untuk tes kehamilan. Jujur, saya tidak berani tes pakai testpack. Selama ini pakai testpack selalu negatif, jadi agak trauma juga. Pasrah saja lah…

Ambil darah dan urin pagi hari, siangnya suami dapat sms dari suster BIC. Hasilnya POSITIF!

berhasil hamil melalui program bayi tabung

Saat hamil 5 bulan

Bahagia banget rasanya! Masih antara percaya ga percaya. Di satu sisi sangat bersyukur, di sisi lain timbul perasaan, ini beneran ga ya?

Dapat berita gembira, langsung semua protektif. Dilarang pergi kemana-mana, di rumah aja. Adik sampai meminjamkan 2 film seri korea, biar betah di tempat tidur hehe. Untunglah, tiga bulan pertama berlalu dengan lancar, sedikit mual-mual, tapi tidak terlalu parah. Walaupun jadi pilih-pilih makanan, tapi tetap bisa makan, badan tetap segar.

Sungguh bahagia, penantian selama 7 tahun berbuah manis. Yang membuatnya makin berkesan, dari awal program bayi tabung hingga saatnya melahirkan, semuanya lancaaar… Seakan-akan memang jalan ini yang harus kami tempuh. Di ulang tahun pernikahan kami yang ke-8, lahirlah si cantik Shita. Inilah hadiah pernikahan terindah dari Tuhan…

Share Button

Incoming search terms:

3 thoughts on “Perjuangan Untuk Hamil dan Mendapatkan Buah Hati

    1. aaayua Post author

      Hai… saya lupa detilnya. Tapi rata-rata negatif. Hanya toxo igg yang positif, itupun nilainya kecil.
      Makanya dinyatakan aman untuk program hamil.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *